• Info Terkini

    Saturday, October 17, 2015

    Bergaullah, dan Pelajari Karakter Setiap Orang

    NET
    Hidup ini indah jika memiliki banyak kawan. Satu musuh rasanya terlalu ramai. Maka, jauhi permusuhan dan perluaslah pergaulan. 

    Sebagai calon penulis hebat, kamu jangan ‘kuper’ (kurang pergaulan). Pergilah ke luar rumah. Jangan suka mengurung diri. Cari kawan; di mana saja. Di dunia maya, kawan sangat mudah kamu dapatkan. Kenali mereka, seakrab mungkin.

    Semakin banyak kawan yang kamu miliki, semakin banyak kesempatan bagimu untuk mempelajari karakter manusia. Sebab, sifat orang itu bermacam-macam, baik perilaku dan motif pergaulannya. Ada yang baik, ada pula yang buruk. Dalam perjalanan pergaulanmu itu, lambat laun kamu semakin memahami karakter orang-orang yang hadir dalam kehidupanmu.

    Mempelajari karakter manusia, tentu sangat berguna bagi profesimu sebagai seorang penulis. Ketika kamu menulis cerpen atau novel, misalnya, kamu dapat dengan mudah membayangkan karakter tokoh-tokoh cerita yang kamu ciptakan. Sebab kamu menulisnya berangkat dari karakter manusia sebenarnya. Tokoh ceritamu akan lebih hidup. Bukan boneka. Mereka nyata.

    Hanya saja, ketika kamu menulis karakter hidup yang dipungut dari sifat dan kepribadian kawan-kawanmu, satu hal yang perlu kamu ingat, jangan menulis nama sebenarnya. Misal, nama kawanmu Budi, ganti menjadi Andi. Begitupun, lokasi cerita A, kamu rekayasa ke B. Mendramatisir tokoh dan seting cerita akan membuat kamu “aman” dari segala macam gugatan jika tokoh-tokoh yang kamu tulis itu masih ada di alam nyata.

    Banyak sekali kejadian, penulis digugat karena kurang hati-hati menulis nama tokoh cerita. Mungkin saja maksudnya baik, tapi sebaliknya buruk bagi orang yang diceritakan. Si pemilik nama tersinggung, lalu bermacam hal tak diinginkan terjadi.

    Maka, jangan sekali-sekali menulis nama asli orang yang kamu ceritakan. Buatlah nama tokoh lain, dramatisir jalan ceritanya, sehingga orang yang kamu kisahkan itu tidak tahu jika cerita yang kamu tulis adalah tentang dirinya. Kalau dia tidak tahu, kamu aman.

    Penulis novel “Siti Nurbaya”, Marah Rusli, menulis novel terakhirnya, “Memang Jodoh”. Konon, naskah novel “Memang Jodoh” terpendam selama lebih dari 50 tahun dan tidak pernah diterbitkan. Alasannya, sejumlah nama di dalam novel itu masih hidup dan pengarangnya ingin menjaga perasaan orang-orang yang dijadikannya sebagai tokoh cerita. Lalu, setelah Marah Rusli tiada—dan orang-orang di dalam cerita “Memang Jodoh” juga telah tiada—oleh cucu beliau, pada 2013, novel ini baru diterbitkan.

    Begitulah, kadang, untuk menjaga perasaan orang-orang yang diceritakan dalam karangan yang ditulis, beberapa pengarang memilih untuk tidak buru-buru menerbitkannya, bahkan jika perlu mewasiatkan kepada anak-cucu agar menerbitkan karya itu setelah si pengarang tiada. 

    Tentu, kamu tidak perlu harus menulis wasiat dulu kepada anak-cucu kelak agar menerbitkan naskah novelmu jika kamu sudah tak ada lagi di muka bumi. Dari sekarang pun kamu bisa asal kamu mendramatisir tokoh dan jalan cerita dari novel yang kamu tulis. Tapi, jika kamu nekat dan tak takut orang-orang dekatmu komplain dan meneror dirimu, silakan saja. Itu hakmu. Tentu kamu punya alasan dan sudah matang menimbang baik buruknya. Apa pun resiko terjadi kamu sudah siap menghadapi.

    Selamat menulis. (Muhammad Subhan, Pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bergaullah, dan Pelajari Karakter Setiap Orang Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top