• Info Terkini

    Sabtu, 03 Oktober 2015

    Rawat Semangat Menulismu dan Gabunglah di Komunitas

    NET
    Bagi kamu yang kehilangan semangat menulis, ada baiknya masalah tersebut segera diatasi, sebelum jadi ‘penyakit akut’ yang membuat semangatmu benar-benar musnah. 

    Why? Sebab semangat itu dorongan, kekuatan, energi dari dalam yang membuatmu tak lelah untuk terus berkarya.

    Analoginya begini, kamu tahu batrey handphone? Pada sebagian HP saat batrey itu penuh, warnanya biru. Kalau setengah penuh, warnanya hijau. Kalau hampir kosong, warnanya merah. Kalau kosong, warnanya putih. Nah, kamu perhatikan warna tersebut. Kalau sudah berwarna hijau, kamu patut waspada, itu artinya batreymu sudah minta diisi kembali. Jangan menunggu berwarna merah, apalagi putih. Bisa-bisa Hp-mu rusak, akibat perawatan yang kurang. 

    Kamu pasti panik, ketika sedang di jalan dan lupa membawa charger HP, tiba-tiba warna gambar batrey di HP-mu berwarna merah. Jangankan dipakai menelepon, untuk sms saja ada kemungkinan tidak terkirim. Pasti berbagai cara kamu lakukan demi penuhnya lagi batrey Hp-mu, termasuk berani pinjam charger HP pada orang yang kamu temui. Kenapa kamu bisa secemas itu? Jawabannya, karena kamu tahu kalau Hp-mu sebentar lagi akan kehabisan batrey, mati dan tidak bisa digunakan untuk menghubungi orang. 

    Nah, semangat pun seperti itu. Kamulah yang harus rajin merawatnya, bukan orang lain. Sebesar apa pun motivasi dari luar, tidak berarti apa-apa kalau kamu sendiri tidak berbuat. Motivasi hanyalah motivasi, tanpa praktik, hanya jadi teori belaka!

    So, jangan menunggu semangatmu meredup (berwarna hijau) dan kamu merasa enjoy dengan kondisi itu, dengan anggapan “toh kondisi seperti itu bisa menimpa semua orang.” Anggapanmu tidak salah sih, hanya bedanya; kamu tidak melakukan upaya untuk bangkit, sementara orang lain di luar sana berusaha keras mengembalikan semangatnya dengan berbagai cara. Mereka bangkit!

    Kamu juga bisa berusaha sendiri membangkitkan semangat menulismu. Banyak cara yang bisa kamu lakukan; baca buku-buku inspiratif, mengikuti kegiatan-kegiatan kepenulisan, mendatangi taman baca atau perpustakaan, termasuk yang tak kalah penting adalah bergabung dengan komunitas kepenulisan. 

    Mengapa harus bergabung dengan komunitas kepenulisan? Di sana kamu akan bertemu orang-orang yang memiliki minat sama. Omonganmu bisa “nyambung” dengan mereka. Kamu bisa sharing, tukar buku, saling mengapresiasi karya, dan minta bimbingan teman-temanmu yang sudah lebih dulu menulis. Wawasanmu bertambah, pertemananmu makin luas dan semangat menulismu kian membara. Kamu punya wadah yang bisa menampung segala ‘keluh-kesahmu’ dalam tulis-menulis. 

    Kamu tahu api unggun? Apinya makin besar dan berkobar kalau kayu yang dibakar semakin banyak. Kayu-kayu yang disatukan dan dibakar dengan api itu, membuat api semakin besar. Beda halnya dengan kayu yang dibakar sendiri-sendiri, akan lekas habis dan mati. Nah, persis sekali dengan semangat. Kalau kamu sendirian, mudah sekali semangat itu redup, bahkan hilang, sebab tidak ada yang menguatkan. Tapi kalau kamu bergabung dengan teman-teman dalam komunitas, kamu akan saling mendukung dan menguatkan (ada teman-teman yang mensupport). 

    So, zaman sekarang tidak sulit mencari komunitas kepenulisan. Kamu tinggal ‘searching’ internet dan bisa kamu temukan beragam komunitas kepenulisan yang siap menampung dahaga menulismu. Ada banyak komunitas tempat mengasah kreativitas, baik secara online maupun offline. Baik yang berbayar (mahal) maupun yang murah tapi berkualitas. Kita tinggal memilih saja, hendak bergabung dengan wadah kepenulisan seperti apa. Sudah barang tentu, sebelum bergabung dengan sebuah komunitas, terlebih dulu harus mempelajari latar belakang komunitas tersebut; siapa pendirinya, apa visi-misinya, bagaimana kiprahnya, apa saja prestasinya, de-el-el. Agar benar-benar masuk dalam komunitas yang tepat dan ada manfaat yang didapat.

    Namun ingat satu hal, bergabung dengan komunitas menulis bukan berarti dipastikan langsung mahir dan aktif menulis. Meskipun ilmu yang didapat semua anggota sama, tapi soal tekad, kembali kepada masing-masing. Sebesar apa pun motivasi, ilmu yang diterima, teman-teman yang mensupport, selama tidak ada tekad dari diri-sendiri maka akan tetap stagnan. Sebab, proses kreatif setiap penulis tidak bisa disamakan. Ada yang berjalan cepat, ada pula yang lambat. Sementara yang tidak juga memulai praktik menulis, tidak akan menghasilkan tulisan. Jika itu terjadi, jangan salahkan komunitasnya, tapi mulailah praktik menulis sekarang juga dan aktiflah! 

    Rajin-rajin bertanya, konsultasi, minta penilaian karyamu, serta belajar memberikan penilaian untuk karya teman-temanmu. Kamu tidak akan rugi dan ‘nyesel’ kalau kamu aktif. So, mulailah! (Aliya Nurlela, Pegiat FAM Indonesia) 

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Rawat Semangat Menulismu dan Gabunglah di Komunitas Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top