• Info Terkini

    Selasa, 27 Oktober 2015

    Ulasan Cerpen "Misteri Suara Aneh" Karya Indah Permata Sari (FAMili Padang)

    Afra dan teman-temannya berangkat menyelidiki sebuah gua angker di desa mereka. Gua itu setiap malam mengeluarkan suara-suara aneh dan mengerikan. Warga kira itu hantu. Namun, setelah didatangi, Afra tahu bahwa ternyata di gua tersebut terjadi penindasan oleh seorang bos kepada para pekerja kecil untuk misi penggalian batu rubi.

    Afra sendiri melihat ayahnya berada di sana, sehingga ia dan teman-temannya tak sabar untuk membebaskan para pekerja. Melalui ayah salah satu teman Afra, polisi akhirnya datang dan mengepung tempat itu. Semua kembali seperti semula dan cerita berakhir bahagia.

    Sebagai pembaca, kita sudah banyak membaca kisah-kisah serupa. Kemasan yang diolah oleh penulis pun sering kita temukan: penjahat yang melakukan kejahatan besar, lalu berhenti akibat tindakan berani anak-anak muda. Sekilas, cerpen ini mengingatkan kebiasaan Scooby-Doo dan kawan-kawan, yang menangkap penjahat ulung di balik topeng hantu. Dan itu selalu nyaris hambar karena ending sudah lebih dulu ketahuan.

    Namun demikian, itu tidak salah juga. Sebuah cerpen, bagaimanapun, ada di tangan penulis untuk dibawa ke arah mana. Kalau boleh memberi saran, Tim FAM menganjurkan agar ke depan penulis menjajal kemasan baru, andai tetap mengambil tema serupa. Misalnya cerpen bisa dikemas dari sudut pandang penjahat yang bertugas menyamar sebagai hantu. Setiap siang ia melihat para pekerja disiksa, lalu tak tega dan akhirnya pergi melapor ke polisi. Itu contohnya. Ada banyak alternatif yang bisa menjauhkan cerita kita dari kesan klise dan "meniru" dari yang sudah banyak bertebaran di luar sana.

    Untuk EyD, ada beberapa koreksi, yakni: "dimana", "disana", "dipikiran", "ditengah", "berfikir", "menelfon", "kesini", "apapun", dan "siapapun", yang mestinya diketik: "di mana", "di sana", "di pikiran", "di tengah", "berpikir", "menelepon", "ke sini", "apa pun", dan "siapa pun". Untuk tanda baca juga hendaknya penulis memperhatikan. Masih banyak kesalahan penulisan tanda baca pada kalimat dialog. Ini bisa kita pelajari dengan membaca buku-buku fiksi berkualitas, atau lebih mudahnya cerpen-cerpen yang terbit koran nasional, sebagai referensi tanda baca yang baik dan tepat.

    Pesan untuk penulis teruslah berkarya. Gali ide-ide segar dan coba berbagai pintu masuk untuk mengemas cerita fiksi menjadi lebih menarik dan berbobot, serta tentu saja tidak mudah tertebak ending-nya. 

    Tetap semangat. Salam aktif!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    MISTERI SUARA ANEH
    Oleh: Indah Permata Sari (IDFAM3457M)

    Matahari telah naik sepenggalahan. Udara panas tak menghentikan kegiatan anak-anak pantai untuk terus berpetualang menyusuri pantai dengan tujuan mencari kerang- kerang yang indah. Selain itu, mereka juga bermaksud berpetualang dalam mencari jawaban dari rasa ingin tahunya terhadap sebuah gua yang berada di ujung pantai. Konon ceritanya gua yang sudah dipenuhi oleh rerumputan yang menjulang tinggi itu dipenuhi oleh cerita mistis. Pada malam hari sering dilihat bayangan berkelebat memasuki gua. Setelah itu juga terdengar suara-suara yang aneh sehingga para orang tua melarang anak-anaknya agar tidak ada yang bermain di dekat gua. Namun rasa penasaran membuat empat sekawan itu memberanikan diri untuk menguak misteri ini.

    “ Kamu yakin mau kesana?” Ucap Seno yang mulai ketakutan.

    “Tentu saja. Aku penasaran apakah yang diucapkan oleh orang -orang itu benar.” Jawab Bima yang  tertua di kelompok itu.“ Sekarang siapa yang mau ikut, gabung denganku dan siapa yang penakut segera melangkahkan kaki pergi dari sini” Tambahnya lagi. Dengan sedikit ragu-ragu, mereka semua ikut dengan Bima termasuk Afra dan Aryo.

    Petualangan pun dimulai. Mereka tak menghiraukan terik cahaya matahari yang membuat keringat bercucuran. Tekad mereka sudah bulat yaitu untuk mengungkap misteri yang ada di gua. Sekarang sampailah mereka di depan mulut gua. Bima yang pada awalnya begitu berani mulai menggigil ketakutan dan bulu kuduknya merinding. Pada bagian mulut gua itu telah ditumbuhi oleh semak-semak liar yang  tinggi menjulang dan jalannya begitu sempit untuk dilewati. Untungnya tubuh mereka begitu kecil sehingga mudah memasuki gua tersebut. Jalan setapak mereka lewati dengan menggunakan penerangan seadanya. Jalannya sedikit becek sehingga mereka harus berhati-hati agar tidak tergelincir. 

    Mereka terus melangkah memasuki gua tersebut pelan-pelan agar tidak ada yang terganggu dengan kedatangannya. Mereka senantiasa waspada seandainya ada binatang liar yang tidak suka dengan kedatangan mereka ataupun ular yang kelaparan dan dapat menelan mereka hidup-hidup.   Baru saja beberapa langkah, tiba- tiba terdengar suara ribut dari dalam gua. Jantung mereka berdetak kencang. Tak lama kemudian, kelelawar berhamburan keluar. Mereka pun menjadi lega kembali. 

    Percikan bunyi air terdengar begitu keras saat mereka menginjakkan kaki di gua itu. Stalaktit dan stalakmit juga meneteskan air tetesan demi tetesan.  Dengan pencahayaan seadanya, mereka terus memberanikan diri untuk menyusuri gua itu walaupun beberapa orang dari mereka telah menggigil kedinginan. Semakin lama semakin jauh mereka memasuki gua yang misterius itu dan  tak terasa sudah berapa banyak lorong- lorong dan kelokan yang telah dilewati.

    “ Kamu yakin kita akan melanjutkan perjalanan ini? Ucap seno yang sedari tadi sudah menggigil ketakutan.

    “ Tentu saja Seno. Ih, dasar penakut.  Perjalanan kita ini harus berhasil. Kita harus membuktikan bahwasanya di gua ini tidaklah seseram yang masyarakat kita pikirkan” Balas Afra. 

    “ Tumbenlho bisa bicara seperti orang dewasa. Week” Aryo mencibirnya..

    “  Loe mau buat perkara sama gue lagi ya? Afra bermaksud untuk membalas perlakuan Aryo. 

    “ Hey. Kalian ini apa nggak punya otak ya? Sadar. Kita ini lagi dimana jadi kuharap tahan dulu emosi kalian untuk bertengkar. OK” Bima berusaha melerai perkelahian itu.

    Dengan wajah merah padam karena menahan amarah, Afra pun menuruti perintah Bima. Lalu, mereka pun terus melangkah. Tiba- tiba terdengar bunyi dentuman yang keras dan berulang kali. Langkah mereka  terhenti. Terbayang dipikirannya tentang berbagai hal yang menakutkan.

    “ Ahh. Aku menyerah. Aku ingin kembali ke pantai” Seno berbalik arah namun langsung dicegat oleh Bima dengan wajah yang beringas sehingga Seno kembali ke posisi semula.“ Rencana kita ini tak boleh gagal. Kita harus mencari tempat bersembunyi yang aman untuk bisa mengintip apa yang sebenarnya telah terjadi” Ucap Afra dan disetujui oleh semuanya.

    Dengan langkah pelan, mereka terus melangkah sambil bersembunyi. Makin lama makin dekat ke sumber suara. Melalui celah yang ada, mereka mengintip lokasi dentuman itu.  Mereka begitu terkejut saat menemukan beberapa orang yang sedang sibuk melakukan penggalian di dalam gua itu. Mereka berusaha mengenali orang-orang yang ada disana. Lalu pandangan Afra tertuju kepada salah seorang pria.

    “ Tampaknya wajah itu tak asing bagiku. Ayaaah” ucap Afra lirih.

    “ Iya Ra. Itu kan ayahmu. Kenapa ayahmu bisa ada disini? “Aryo berbicara sambil berbisik.

    “ Aku juga nggak tahu” Sekarang Afra tahu kenapa ayahnya jarang pulang. Ia mendapatkan pekerjaan yang sulit disini. “Namun, apa tujuannya melakukan penggalian itu?”Ia bertanya- tanya dalam hati. Ia bermaksud ingin menghampiri ayahnya namun dicegat oleh Aryo karena keadaannya berbahaya.

    “Ayoo. Kalian harus terus bekerja. Kalau loyo begini kapan kerjaannya selesai!” Seseorang yang sedikit gendut dan bertubuh pendek serta bersuara lantang terus meneriaki para pekerja. Kapak, linggis, dan alat- alat galian lainnya semakin memekakkan telinga. Para pekerja yang sudah kelelahan mulai sempoyongan dan pingsan. Bukannya mendapatkan bantuan malahan si bos gendut itu menamparnya untuk membangunkannya. Terlihat keringat yang bercucuran dan desahan napas yang tak beraturan pada para pekerja tersebut karena begitu kelelahan. Namun mereka tak diizinkan untuk beristirahat.

    “Seno yang paling tak tahan melihat perlakuan yang tak berperikemanusiaan itu bermaksud untuk melawan tindakan bos yang kejam itu. Namun maksud baiknya dicegah oleh teman-temannya demi untuk keselamatan mereka semua.Afra mulai menangis sesenggukan. Dia tidak tahan melihat nasib ayahnya yang bekerja keras tanpa istirahat. Mereka semua berfikir langkah apa yang bisa dilakukan untuk menghentikan perlakuan yang tidak berperikemanusiaan ini. Tiba-tiba Seno ingat suatu hal. Ia merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan handphone kakaknya yang tadi diambilnya diam- diam untuk bermain game.

    “ Aku akan meminta pertolongan.” Awalnya Seno mengirimkan pesan singkat pada orang tuanya untuk mengabarkan keberadaannya dan situasi yang berbahaya. Lama ditunggu namun belum ada balasan SMSnya.

    “ Coba dech kamu menelfon aja.” Saran Aryo.

     Dengan berat hati, ia pun menelfon papanya. Padahal ia sudah lama tidak berkomunikasi dengan kedua orang tuanya yang telah bercerai dan sibuk dengan urusannya masing masing sehingga mereka telah menelantarkan Seno dan kakaknya.

    “ Halo Murti” Terdengar suara yang mengangkat telfonnya.

    “ Bukan Pa. Ini Seno” dengan suara yang sedikit gemetar dia menelfon papanya.

    “ Seno. Kenapa kamu telfon papa sekarang? Tahu nggak papa sedang sibuk jadi jangan diganggu.”

    “ Pa, Seno butuh bantuan papa” Suaranya semakin serak.

    “ Kamu butuh uang belanja lagi? Nanti papa tambahin  ke rekeningmu. OK”

    “ Bukan itu Pa. Sekarang Seno butuh bantuan papa untuk datang kesini, ke gua yang ada di dekat pantai rumah kita Pa. Seno takut Pa. Disini telah terjadi tindakan kekerasan, Pa. Kumohon Pa.” Belum selesai dia bicara, sinyalpun terputus. “Arghh…” Teriakannya terdengar oleh si bos itu. Mereka pun secepat kilat kembali bersembunyi.

    “ Suara apakah itu? Coba kamu cari asal suara!” Perintah si bos itu kepada seorang anak buahnya. Dia pun melangkahkan kaki mendekati tempat persembunyiannya dan mengitarinya. Namun, tak menemukan apapun.Ia kembali menghampiri bos itu dan mengatakan tidak ada apapun yang ditemukan. Lalu bos pun meminta mereka agar segera melanjutkan pekerjaan kembali. Hal itu dikarenakan bos besarnya ingin menjual temuan dari galian ini tanpa diketahui oleh masyarakat sekitar tempat tersebut.

    “ Apakah yang mereka gali itu? Bima bicara sambil berbisik.

    “Aku tak tahu. Mungkin saja mereka sedang menggali harta karun yang terpendam di sekitar tempat ini” jawab Seno. 

    “ Ahh. Ngacok kamu. Masa’ disini ada harta karun? Emank ini cerita negeri seribu satu malam.” Balas Bima lagi.

    “ Hey. Di situasi segawat ini kamu masih bisa bercanda? Ayoo kita pikirkan bagaimana cara menyelamatkan diri dari tempat ini dan menguak sindikat kejahatan disini” Afra berbicara dengan setengah berbisik.

    Di tempat lain, Pak Ahmad tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Ia masih teringat dengan pembicaraan di telfon dengan anaknya. Mereka sudah begitu lama tidak berkomunikasi lagi. Diam- diam ia senang karena anak bungsunya mau menelfonnya. Ia ingin menelfon anaknya lagi namun selalu gagal. Kecemasan mulai merasuki pikirannya. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera menghubungi polisi untuk meminta bantuan.

    “ Aryo” Setelah lama hening karena ketakutan, Afra mulai angkat bicara.

    “ Ada apa Ra?”

    “ Aryo, maafin aku ya karena selama ini aku telah salah menilaimu. “ Aryo yang mendengar perkataan Afra menjadi kikuk dan ia pun juga meminta maaf karena sering mengganggu Afra. Hal ini dilakukannya karena ia sangat ingin mempunyai seorang saudara perempuan. Setelah mereka bermaafan, lalu mereka semakin kompak untuk mencari pertolongan serta jalan keluar yang aman agar tidak diketahui oleh semua pekerja di gua tersebut.

    Misi penyelamatan diri pun dimulai. Satu persatu, mereka berbaris keluar dari gua dengan langkah pelan. Hingga ditengah perjalanan aman terkendali namun saat harus melangkah di gua yang berair, langkah mereka kembali terdengar oleh si Bos.

    “ Berhenti sebentar” perintah bos pada para pekerja.“ Aku mendengar suara langkah disana. Sukri, coba kamu cari asal suara.” Ia pun bersama beberapa pekerja mencari asal suara. Di gua yang berair, mereka menemukan jejak kaki.

    “ Sepertinya ada yang memperhatikan kerja kita. Kamu coba cari ke sebelah sana dan aku  kesini”

    Mereka bersembunyi di balik batu yang besar yang ada di dekat gua berair. Dari balik persembunyian terdengar suara langkah semakin mendekat. Degup jantungnya semakin cepat, desah napasnya tak menentu. Mereka terus berdo’a agar pertolongan segera datang. Namun sepertinya semuanya sia sia. Persembunyian mereka dapat diketahui oleh salah seorang pekerja. Mereka semua pasrah dengan takdir yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta.

    “ Afra... Kau kah itu nak? Pekerja itu mengenali wajah Afra.

    “ Ayaah.” Ia memeluk ayahnya.”Ia Nak. Ini ayah.  Ia mengecup kening anaknya sambil berlinang air mata karena kerinduan setelah lama tidak bertemu dengan anaknya.

    “ Kenapa ayah bisa berada disini?”

    Sejenak ia terdiam.” Ceritanya panjang Nak. Yang penting sekarang kamu harus segera keluar dari gua ini. Kamu ikuti sumber cahaya itu dan jangan berisik. Nanti ayah akan menyusulmu.”

    “ Tapi ayah.”

    “ Kamu harus mengikuti perintah ayah. Ayah ingin melihat kamu selamat dan bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Sekarang ayo pergi. “ Sebelum melangkahkan kaki, ia memandangi wajah ayahnya lekat-lekat yang tampak lebih tua dari usianya yang seharusnya. Ayahnya tersenyum dengan penuh ketabahan.

    Seorang pekerja lain yang ikut ditugaskan melacak keberadaan jejak itu kembali menghampiri sang bos.” Maaf Bos. Kami hanya menemukan jejak kaki namun tak ada siapapun lagi disini.”

    “ Ahh. Kamu payah. Aku yakin mereka masih berada disekitar sini.” Sekarang si bos turun tangan dan ia mengerahkan makin banyak pekerja untuk menemukan mata-mata disana.

    Langkah mereka dapat diketahui oleh si bos.” Hey, berhenti kalian dan angkat tangan kalian” Si bos bicara dengan nada yang semakin keras. Mereka pun tak berkutik dan menghentikan langkahnya. Si bos bermaksud mendekat namun Pak Sukri berusaha mencegat langkahnya.

    “ Jangan bos. Mereka adalah keluargaku. Kumohon lepaskan mereka Bos.”

    Sudah kukatakan paadmu agar tidak memberi tahu siapapun tentang lokasi ini. Ikat mereka! Perintah si bos pada pekerja yang lain. Ayah Afra berusaha membujuk bosnya namun tidak berhasil. Mereka lalu membawa Afra dan ketiga temannya ke suatu lorong gelap dan mengikat mereka di dekat bebatuan.Baru saja mereka selesai mengikat tawanan lalu dari luar terdengar bunyi sirine.

    “Angkat tangan kalian. Kalian telah dikepung!” Pak Ahmad setelah mendengar penjelasan anaknya langsung menghubungi polisi dan meminta bantuan.Polisi berhasil menemukan keberadaan mereka dengan cara mengikuti jejak kaki yang mereka temukan di jalan setapak gua tersebut. Para pekerja dan si bos berusaha melawan dan melarikan diri namun usahanya sia-sia. Para polisi berhasil memborgol mereka semua termasuk Sukri ayah Afra.

    Pak Ahmad berusaha menemukan keberadaan putranya. Lalu dari info Pak Sukri mereka pun bersegera menuju lorong ke tempat putra dan temannya yang lain disandera. Pak Ahmad pun melepaskan ikatan mereka.

    “ Ayaaah.” Seno berhamburan ke pelukan ayahnya. Lain halnya dengan Afra. Ia berlari ke tempat ayahnya yang diborgol oleh polisi.

    “ Ayaaah. Jangan tinggalkan Afra, Yah. Pak polisi, lepaskan ayah Afra Pak. Dia tidak bersalah.“ Pak polisi pun menjelaskan kepada Afra kalau ayahnya juga harus dibawa ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan. Jika terbukti tidak bersalah maka ayahnya akan dilepaskan kembali. Sebelum itu ayahnya berpesan kepadanya agar ia menjaga ibu di rumah dan  menjadi anak yang cerdas agar kelak menjadi pengusaha sukses.

    Si bos dan semua pekerja di gua itu telah berhasil ditangkap. Dari penjelasan mereka maka terkuaklah misteri suara-suara aneh yang seringkali membuat warga ketakutan mendengarnya. Galian di gua itu bertujuan untuk menggali batu akik dari sejenis batu rugby yang harganya milyaran rupiah. Ia tidak mau para warga disana mengetahui lokasi tersebut sehingga ia bisa menggali batu tersebut dan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualannya..Oleh karena itulah dia dan timnya yang lain memberikan kesan angker pada tempat tersebut. Lalu, untuk memudahkan rencananya itu, mereka mempekerjakan para pengangguran dengan iming- imingan upah yang besar. Padahal pada kenyataannya siksaan demi siksaan kerap mereka dapatkan disaat bekerja dan akhirnya harus mendekap di balik jeruji besi. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Misteri Suara Aneh" Karya Indah Permata Sari (FAMili Padang) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top