• Info Terkini

    Tuesday, November 3, 2015

    Antara Cinta, Dakwah, dan Pesan Literasi

    HARIAN DUTA
    Judul: Senyum Gadis Bell’s Palsy
    Penulis: Aliya Nurlela
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: I, November 2015 
    Tebal: 313 halaman 
    Peresensi: Eko Prasetyo

    Sastrawan Wilson Nadeak pernah mengutip ucapan Dr. Sudjono, seorang dosen ITB, yakni ”Sebenarnya sastra itu ilmu sehingga tak ada alasan bagi kita mempertentangkan sastra dan ilmu. Kedua istilah itu ibarat uang logam dengan dua muka.Sama saja.Yang penting adalah karya, bukan kebanggaan karena istilah” (1984: 62).

    Kalimat tersebut dipicu oleh masih adanya dikotomi antara karya sastrawan ternama dan sastrawan yang belum banyak dikenal masyarakat umum. Sebagian orang masih memandang bahwa nama besar itu menjadi jaminan mutu. Tentu saja pandangan tersebut tidak bisa dianggap keliru.Persoalannya, ketika pegiat sastra yang belum begitu dikenal dan berasal dari daerah, muncul pertentangan di ranah mutu tadi.Masih ada –untuk tidak menyebut tak sedikit orang– yang memperdebatkan mutu karya sastrawan ternama dan sastrawan yang namanya belum banyak terpublikasikan oleh media.

    Karena itulah, kemudian terlontar kalimat dari Dr. Sudjono tersebut.Secara sederhana, sesungguhnya ia berharap tak ada lagi kastanisasi di kalangan sastrawan. Sebab, sebagaimana dikatakan Dr. Sudjono, yang penting adalah karya.

    Nama Aliya Nurlela sebagai sastrawan mungkin belum banyak dikenal oleh para penikmat sastra. Namun, karya-karyanya, baik cerpen maupun novel, patut dikedepankan.Tampak tegas bahwa karya-karyanya sangat kuat dipengaruhi oleh aliran sastra feminis. Hal ini terlihat, misalnya, dari novel Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh (2014) dan Senyum Gadis Bell’s Palsy ini.

    Dalam novel terbarunya tersebut, Aliya kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam memotret kondisi sosial tertentu secara sederhana namun pesannya begitu membekas.Dari judulnya, yakni Senyum Gadis Bell’s Palsy, novel ini memang mengetengahkan tokoh utama yang menderita bell’s palsy. 

    Tokoh utamanya adalah Delima, gadis yatim piatu yang hidup berdua dengan kakak lelakinya, Fariz. Keduanya tinggal di rumah sederhana peninggalan orangtua mereka. Delima digambarkan sebagai sosok yang memiliki paras cantik dan orang yang periang. Dia masih kuliah semester 3 di jurusan psikologi.Sementara Fariz sudah berusia 25 tahun, bekerja, dan belum menikah.Karena itu, ia menjalankan tiga peran sekaligus bagi adiknya, yakni menjadi ayah, ibu, sekaligus kakak. 

    Pergulatan emosi dan konflik batin yang melibatkan tokoh-tokoh dalam novel ini sangat kental. Misalnya, Fariz mendalami ilmu agama sejak kuliah sehingga sedikit paham tentang halal-haram, batasan pergaulan yang bukan muhrim, dan kegiatan yang menurutnya bermanfaat. Sebaliknya, tidak demikian halnya dengan Delima. Ia berpacaran dengan teman kampusnya, Bagas, dan terbiasa jalan-jalan berdua di sore hari. Tempat favoritnya adalah Sungai Cikapundung. Tak heran, Fariz merasa khawatir dengan gaya pacaran adiknya dan berusaha menegur, namun Delima justru marah dan menganggap kakaknya jahat. Fariz pun berusaha mengubah cara mengingatkan adiknya, dengan cara halus (pelan-pelan) sesuai tingkat pemahaman adiknya. 

    Konflik kecil misalnya melibatkan Bagas dan Delima yang disebabkan hobi membaca Delima dan kegemarannya membeli buku. Bagas menilai sang pacar terlalu kutu buku. Sebaliknya, Fariz sangat mendukung hobi sang adik. Bahkan,Fariz rela menyisihkan gaji demi membelikan buku untuk Delima.

    Puncak konflik dimulai ketika Delima tiba-tiba menderita penyakit aneh. Wajahnya berubah tidak simetris. Parasnya yang cantik perlahan-lahan memudar. Ia sangat terpukul dan terpuruk. Akibatnya, Delima menjadi suka mengurung diri, enggan kuliah, dan tidak mau bertemu orang, termasuk Bagas.

    Sedemikian putus asanya, Delima hanya mengisi hari-harinya dengan menangis, apalagi ketika dokter menyatakan Delima menderita penyakit bell’s palsy, yaitu kelumpuhan separuh saraf wajah yang secara medis belum ada obatnya, kecuali rutin melakukan fisioterapi atau operasi plastik pada titik terparah. Alhasil, Delima depresi. Perubahan fisik Delima membuat Bagas menjauh dan mulai bersikap kasar. Puncaknya, ia memutuskan hubungan cinta dengan Delima di depan teman-teman kampusnya. 

    Kekuatan moral dan dukungan dari orang-orang terdekat seperti Fariz dan Raihanah membuat Delima mampu bangkit dari keterpurukannya, apalagi sejak ia bertemu Ziyad Amru, seorang fotografer sebuah majalah ibu kota yang mengorbitkan Delima sebagai penulis. Kedekatan emosional keduanya menumbuhkan benih cinta. Sayangnya, cinta itu tidak bisa disatukan karena Ziyad keburu dipanggil Sang Mahakuasa setelah mengalami kecelakaan. Bagas pun sempat mengiba cinta kepada Delima, namun ditolak. 

    Sebagaimana umumnya cerita roman, akhir kisah dalam novel Senyum Gadis Bell’s Palsy ini ditutup dengan bahagia. Delima bertemu jodoh, seorang petani sukses dari Kampung Cilimus, seorang tokoh yang tidak diberi nama, yang mencintai Delima dalam keterbatasan. Delima menyebutnya bak pangeran dari Negeri Dongeng. Kebahagiaan itulah yang akhirnya mengantarkannya pada kesembuhan atas sakitnya.

    Akhir cerita (ending) novel ini memang mudah diterka, tetapi kuatnya penokohan dan kemasan konflik yang apik membuat novel ini “hidup”. Membawa nilai-nilai dakwah serta pesan akan pentingnya literasi, novel ini sungguh layak dibaca. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com. 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Antara Cinta, Dakwah, dan Pesan Literasi Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top