• Info Terkini

    Selasa, 08 Desember 2015

    Koran Menunggu Karyamu, Lho!

    NET
    + Eh, benarkah koran menerima karyaku yang masih pemula?

    - Benar.

    + Wah, asyik, dong. Gimana caranya?

    - Ya, asyik. Caranya, kamu harus punya karya, lalu kirim. Kalau tak punya karya, apa yang mau dikirim?

    + Kirim ke mana?

    - Ke koran yang kamu tuju.

    + Datang ke kantor korannya, gitu?

    - Kalau kantornya dekat, boleh. Kalau jauh, cukup kirim ke email redaksinya.

    + Email redaksinya bisa didapat di mana?

    - Lihat di box redaksi, biasanya di bawah halaman Opini.

    + Kalau korannya di luar kota dan tidak ada di kotaku?

    - Cari di portalnya. Biasanya koran punya website. Lihat kontak redaksi. Kalau tidak ketemu, tanya ke teman-temanmu yang pernah ngirim karya ke sana.

    + Oke. Lalu, naskahku diposting di badan email gitu?

    - Tidak. Lampirkan di lampiran file. 

    + Lalu?

    - Jangan lupa, tambahkan foto, biodata, dan nomor rekening.

    + Nomor rekening?

    - Ya.

    + Untuk apa?

    - Jika naskah diterima redaktur, lalu dimuat, kamu dapat honor. Uangnya ditransfer ke rekeningmu.

    + Apa semua koran begitu?

    - Tidak semua. Beberapa koran, penulis disuruh mengambil sendiri honornya.

    + Kalau korannya di luar kota, besar di ongkos, dong? Gimana solusinya?

    - Ya, begitu. Solusinya, minta temanmu di kota itu mengambilkannya. Beri surat kuasa bermaterai ke dia. Nanti dia yang mengurus honormu. Tapi, sebaiknya, untuk tahap pemula, jangan mikirkan honor, deh. Berkarya saja dulu.

    + Oh, gitu ya?

    - Iya.

    + Tapi aku butuh uang. Kan capek nulis nggak dikasih honor.

    - Nggak usah jadi penulis. Jualan saja. Buka warung. Jelas untungnya.

    + Wah, jangan begitu dong.

    - Ya, memang begitu. Kalau jadi penulis, sabar menjalani prosesnya. Kalau suatu hari nanti kamu sudah dikenal, karyamu sudah di mana-mana, tak usah lagi mikirkan honor. Koran akan meminta karyamu. Membayarmu mahal. Bahkan, kamu mendapat peluang-peluang lain dari kebesaran namamu.

    + Apa peluang itu?

    - Misal, karyamu terpilih sebagai karya terbaik yang dibukukan bersama pengarang-pengarang hebat lainnya. Kamu mendapat award—mana tahu Nobel. Atau, karyamu difilmkan. Atau lagi, kamu menjadi motivator dan diundang ke sana ke mari menjadi pembicara dengan honor yang menggiurkan, bahkan lebih besar jumlah nominalnya dibanding honor tulisanmu di koran.

    + Oh, gitu ya?

    - Iya.

    + Baik, aku coba. Tanya lagi, apa aku harus mengirim karya ke satu koran?

    - Tidak harus. Malah lebih bagus  mengirim naskah ke banyak koran.

    + Gimana caranya?

    - Kumpulkan email redaksi koran yang menjadi tujuan naskahmu.

    + Setelah dikumpulkan?

    - Bungkus. 

    + Lho, kok dibungkus?

    - Ya, naskahmu harus segera kirim, masa dibungkus seperti lontong?

    + Jangan begitu dong, aku kan bertanya?

    - Iya, aku juga bercanda.

    + He-he, kamu baik deh.

    - Terima kasih.

    + Boleh tanya lagi?

    - Boleh.

    + Bagaimana agar naskahku cepat dimuat di koran?

    - Perhatikan syarat dan ketentuan pemuatannya.

    + Apa syarat dan ketentuannya?

    - Misal, panjang naskah. Jika korannya minta 3 halaman, jangan kirim 5 halaman. Spasi juga perhatikan. Ada koran yang minta naskah 1 spasi, atau 2 spasi. Jenis font, umumnya Times News Roman, ukuran 12. Margin rata kiri kanan. Kerapian naskah penting, jangan acak-acakkan. Lihat juga EYD-nya, sudah benar belum. Edit berkali-kali. Jangan buru-buru ngirim karya ke koran kalau ragu naskah belum matang. Matangkan dulu. Lakukan pengendapan. Baca ulang lagi, dan lagi. Terakhir, tulis sebaik mungkin. Idenya belum pernah ditulis orang. Sesuai momen.

    + Oh, gitu ya?

    - Iya, begitu.

    + Apalagi yang harus diperhatikan?

    - Kirim naskah setiap hari Senin atau Selasa.

    + Kok Senin atau Selasa?

    - Ya. Untuk koran edisi Minggu, umumnya, halaman dilayout hari Rabu atau Kamis. Kalau naskah dikirim hari Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, kecil kemungkinan karya dimuat di edisi Minggu (cerpen, puisi, esai—pen.), kecuali minggu berikutnya. Koran-koran yang minim naskah, akan cepat memuat naskah jika naskah penulis masuk sebelum dilayout. Tentu, kualitas naskah juga menjadi perhatian utama redaktur, bukan sekadar cepat-lambatnya naskah masuk ke email redaksi.

    + Baik, seandainya naskahku dimuat, tapi terbit di luar kota, bagaimana cara memantaunya?

    - Lihat e-paper koran itu, di websitenya. Di media sosial, sejumlah penulis saling berbagi informasi karya siapa saja yang dimuat setiap pekannya. Itu bisa menjadi rujukan.

    + Oh, gitu ya?

    - Iya.

    + Satu lagi, berapa lama naskah dimuat? Kalau naskah yang dikirim sudah berbulan-bulan tapi tidak ada kabar pemuatan, apa yang harus aku lakukan?

    - Tergantung. Jika naskahmu bagus, minggu depan bisa terbit. Tapi, umumnya, jika 3 bulan tidak ada kabar pemuatan, naskah bisa ditarik. Caranya, kirim surat penarikan naskah ke email redaksi. Edit kembali naskah itu, lalu kirim ke koran lainnya.

    + Haruskah membuat surat penarikan naskah?

    - Sebaiknya iya.

    + Untuk apa?

    - Agar tidak terjadi pemuatan ganda di koran lainnya. Mungkin saja, koran pertama masih menunggu momen tepat untuk memuat karyamu.

    +  Jadi harus sabar ya?

    - Ya, sabar modal paling penting dimiliki penulis.

    + Oke, paham. Terima kasih. Aku coba. Mohon doanya.

    - Sama-sama. Amin. Semoga sukses jadi penulis. (*) 

    [Muhammad Subhan, Penulis & Pegiat FAM Indonesia]

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    4 comments:

    1. Info yg sangat bermanfaat bagi penulis pemula. Patut diaplikasikan
      Terimakasih

      BalasHapus
    2. Thank'S Infonya gan... sangat manfaat

      BalasHapus

    Item Reviewed: Koran Menunggu Karyamu, Lho! Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top