• Info Terkini

    Kamis, 03 Desember 2015

    Ulasan Cerpen "Balada Pohon Sukun" Karya Sri Wahyuni (FAMili Bandung)

    Cerpen ini berkisah soal Salim, sarjana farmasi, yang berjuang mati-matian meyakinkan kedua orangtuanya bahwa obat-obat kimiawi yang diproduksi di perusahaan tempatnya bekerja itu aman, karena melalui riset yang ia kerjakan sendiri. Obat-obatan itu terbukt ampuh, tetapi Ayah dan Ibu tidak percaya. Suatu ketika Ayah sakit. Ibu yang ahli meramu jamu-jamuan herbal, tidak sudi akan usulan Salim mengenai obat kimiawi hasil risetnya. Ibu menolak dan berpikir Ayah pasti sembuh dengan obat tradisional yang selama ini beliau percayai.

    Ketika akhirnya Ayah meninggal, pengertian itu mulai lahir. Barangkali benar obat-obat berbahan dasar Kimia cenderung bahaya dan berakibat tidak baik bagi tubuh. Namun, tidak semua demikian. Pikiran Ibu mulai terbuka akan hal ini dan keluarga itu kembali "berdamai". Hanya saja, Ayah telanjur tiada.

    Ide dasar cerpen ini bagus. Hanya saja dari segi bercerita, beberapa bagian terasa kurang menarik. Ada beberapa kalimat yang diulang, baik secara makna maupun langsung, yakni soal penolakan sang ibu pada saran Salim. 

    Saran dari Tim FAM, bisa saja bagian-bagian itu diisi dengan fragmen lain, misalnya masa kecil Salim dan Ayah yang bicara soal obat kimiawi. Apa saja bisa diolah dan dikembangkan dari konflik antara Salim dan orangtuanya. Hanya saja, penulis berkutat pada ruang itu saja: penolakan.

    Kekurangan cerpen ini terutama ada pada kerapian; banyak EYD yang tidak sesuai. Penulisan "disini", "dibalik" (sebagai keterangan tempat, bukan kata kerja pasif), "diluar", "disaat", "di vonis", "apapun", "orang tua", "merubah", "fikir", "sekedar", "tunjukan", "kerumah", "kemana", seharusnya: "di sini", "di balik", "di luar", "di saat", "divonis" (gabung), "apa pun", "orangtua" (gabung, karena apabila ditulis terpisah (orang tua) sudah bermakna lain, yakni manusia yang sudah berusia lanjut), "mengubah", "pikir", "sekadar", "tunjukkan", "ke rumah", dan "ke mana".

    Untuk kata-kata tidak baku seperti "gak" atau "nggak" sebaiknya ditulis dengan huruf miring, agar bisa dibedakan dengan kata-kata yang sudah baku. Kata panggilan subjek "Ibu" dan "Ayah" sebaiknya diawali dengan huruf kapital.

    Kepada penulis diharapkan untuk terus menulis. Jangan lupa koreksi tulisan sebelum diterbitkan. Imbangi pula kegiatan menulis dengan membaca. 

    Salam aktif,

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    Balada Pohon Sukun
    Oleh: Sri Wahyuni IDFAM1193M

    “Tapi, Bu, kita nanti bisa membeli tanah untuk ladang apotek hidup seperti disini, ya kan?” kata Salim dengan nada penuh pengharapan pada ibunya yang sedang asyik mengunyah seupah (dalam bahasa Sunda. Seupah adalah campuran daun sirih dan kapur guna menguatkan gigi dan menyehatkan mulut; secara empiris/turun temurun). 

    “Sudahlah, ibu sudah tua, tak perlu kau khawatirkan. Pikirkanlah anak istri dan karirmu itu,” jawab ibu dengan nada datar, bahkan terkesan sinis.

    Salim akhirnya diam. Sudah dia duga bahwa perdebatan dengan ibunya tidak akan menang. Ibunyalah yang akan menang. Dialah yang akan mengalah. Selalu seperti itu, sejak dulu, sejak ayah masih hidup. 

    Sebagai seorang anak laki-laki satu-satunya, dia merasa wajib untuk mengurus ibunya yang sudah sebulan yang lalu ditinggal suaminya pergi karena sakit kanker. Salim beserta istri dan anak perempuannya, Salwa, menemani ibu sejak kematian ayahnya. Salim cuti selama sebulan dari pekerjaannya, dan ketika dia akan kembali ke Bandung, dia berharap dapat membujuk ibunya untuk pergi dan tinggal bersamanya di Bandung. 

     Salim bekerja di salah satu industri obat terbesar di Bandung yang memproduksi obat anti kanker dari bahan kimia yang bahan bakunya di impor dari Jepang. Salim yang sudah bekerja selama sepuluh tahun, semenjak lulus sarjana farmasi, apoteker dan magister farmasinya, dia mengabdi di industri tersebut, hingga kini menjadi manager. Perjalanan karir Salim memang layak diacungkan jempol, dari segi kesetiaan Salim dan keuletannya memang sangat bagus. Salim juga merupakan salah satu pegawai yang terjun langsung dalam penelitian uji aktivitas dari bahan baku impor tersebut terhadap penyakit mematikan itu. Penghargaan demi penghargaan yang dia dapatkan secara otomatis telah mengharumkan namanya, perusahaannya, keluarganya, dan seharusnya terutama orangtuanya yang sudah sangat berusaha menyekolahkannya hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi, itu tidak terjadi ketika Salim memilih kerja di industri obat dari bahan kimia.   

    Sebagai orang yang lahir dan tinggal di daerah perkebunan, kedua orang tua Salim sangat percaya akan pengobatan herbal walau masih secara empiris. Mereka berharap Salim dapat membuat obat dari bahan herbal, atau melakukan penelitian terhadap uji aktivitas tanaman, atau minimal membuat kedai jamu di kampung halamannya sendiri, bukan menjadi orang kaya yang berkutat dengan bahan baku kimia yang sudah jelas-jelas banyak efek sampingnya. Menurut mereka, obat apapun yang berbau bahan kimia adalah berbahaya. 

    Paradigma yang sudah melekat kuat pada orang tuanya itu membuat hubungan Salim kurang harmonis dengan orang tuanya. Padahal Salim sudah sangat mapan, dia bisa membiayai hidup kedua orang tuanya, menyejahterakan kehidupan orangtuanya, tetapi, semenjak Salim bekerja di industri obat kimia, mereka benar-benar kecewa terhadap Salim.

    Salim, sudah berkali-kali menjelaskan kepada kedua orangtuanya, membuka pikiran mereka mengenai paradigma-paradigma kuno mereka terhadap bahan kimia dan pekerjaannya yang sekarang. Tetapi, itu tak membuahkan hasil apapun. Salim yang kini dipandang egois. Bahkan Salim disebut so pintar karena sudah menjelaskan hal-hal yang percuma karena kedua orang tuanya tidak mengerti tentang kimia, struktur, mekanisme kerja, reaksi dan lain-lain, mereka justru merasa tersinggung ketika Salim mencoba menjelaskan apapun tentang pekerjaannya, tentang obat bahan kimia, mereka selalu merasa dibodohi oleh anak satu-satunya itu. Hingga, Salim menyerah dan memilih untuk bertahan di perusahaan yang menjanjikan jaminan hidup lebih baik. Dia tinggal di Bandung dengan istri dan anak peremuannya. Bahkan, ketika ayahnya jatuh sakit, di vonis kanker stadium tiga, Salim tetap tak berhasil merubah paradigma mereka terhadap pengobatan modern. 

    Karyanya yang dia rintis dan sudah menyembuhkan banyak orang dalam melawan penyakit kanker itu tak dapat mengubah pola fikir orang tuanya dan keadaan ayahnya yang saat itu semakin parah melawan kanker hingga sebulan yang lalu, ayahnya meninggal dunia. Entah salah siapa. Salim merasa lebih baik menyalahkan dirinya sendiri, walau dia sudah berusaha semampunya. 

    “Bu, Salim ini seorang farmasis, pembuat obat kanker, sudah lulus S2 dan kini bekerja di pabrik obat yang membuat obat kanker yang sudah teruji khasiat dan keamanannya, apakah ibu tetap tidak percaya pada perusahan? Atau paling enggak, ibu gak percaya sama Salim, anak ibu sendiri?” rajuk Salim sekuat tenaga, sekuat menahan air matanya, sekuat dia membujuk ibunya agar dapat mengijinkannya untuk memberikan obat anti kanker dari bahan kimia kepada ayahnya yang terbaring lemah di kamarnya. 

    “Sudah, tak perlu, ramuan ini sudah cukup membuat ayahmu kuat. Dia pasti sembuh! Bawa pulanglah obat racikanmu itu, jual ke dokter-dokter di kota, kamu pasti kaya.” 

    “Bu!!” 

    Istri Salim, Marwah, langsung membawa suaminya itu pergi meninggalkan ibu, sebelum emosi Salim melunjak. “Sudah, Mas, sudah,” kata Marwah sambil mengusap punggung Salim. Salim hanya bisa menahan emosinya, mukanya merah, dia merasa diremehkan ibunya sendiri, tetapi dia tak bisa melawan ibunya walau sekedar menghardiknya. Dia tahu begitu mulianya seorang ibu. 

    “Aku tahu, Sayang, ramuan jamu dari buah Sukun memang dapat menyembuhkan penyakit ayah. Tetapi, kondisi ayah sudah benar-benar kritis, dia sudah stadium tiga, atau mungkin sudah stadium akhir,” lirih Salim kepada istrinya.

    “Sssttt, Sayang, jangan bicara seperti itu, kita doakan ayah pasti sembuh, bukannya sugesti lebih kuat untuk menyembuhkan? Ayah sepertinya percaya penuh bahwa ramuan yang dibuat ibu itu akan menyembuhkannya.” Kata Marwah pada Salim dengan senyuman dan nada menenangkan. 

    Salim terdiam. 

    Marwah terus mengusap punggung Salim. Dia tahu persis, suaminya pintar, prestasinya dalam pekerjaan dalam membuat penelitian obat anti kanker sudah tak diragukan lagi. Salim sering bercerita banyak hal tentang penelitiannya walau Marwah kadang pusing tak mengerti, tetapi tetap setia mendengarkan dengan antusias, memberikan dukungan penuh, itulah yang membuat Salim selalu bersemangat bekerja. 

    Tetapi, apa boleh buat, keras kepala kedua orang tuanya tak bisa dia kalahkan.  Mereka percaya bahwa bagian dari buah Sukun dapat menyembuhkan kanker, bahkan Salim mengiyakan hal itu karena sudah ada penelitiannya. Tetapi, obat yang dibuat Salim dari bahan kimia itu lebih baik dibandingkan obat tradisional karena mekanisme kerja obat kimianya itu dapat membunuh sel kanker dalam tubuh, tanpa membunuh sel sehatnya, tidak seperti metode kemoterapi. Struktur kimia dalam obat tersebut mampu mengisolasi sel-sel kanker dalam tubuh selama 7 hari, kemudian akan melumpuhkan lalu membunuh. Dalam pemakaian selama terus menerus, sel kanker dalam tubuh akan mati tanpa merusak sel sehat dalam tubuh hingga sel kanker hilang. Penelitian ini butuh waktu puluhan tahun, dan Salim meneruskan penelitian ini lima tahun yang lalu hingga sudah dapat di produksi. Tak mudah Salim meninggalkan pekerjaannya.

    Obat ini dalam masa pengobatannya harus selalu di cek ke dokter untuk melihat perkembangan sel kanker tersebut sudah hilang atau belum. Berbeda dengan buah Sukun, secara empiris dan beberapa penelitian hanya dapat mencegah kanker sejak dini.

    “Percuma kau tunjukan puluhan piagam penghargaan dalam penelitianmu itu jika ujung-ujungnya adalah sugesti yang dapat menyembuhkan orang sakit kanker,” bentak ibu. Dia mengetahui bahwa yang mengidap kanker stadium akhir itu harapannya kecil, di Rumah Sakit hanya diberi obat placebo, tetapi bayarnya mahal, ujung-ujungnya adalah sugesti dan semangat hidup yang dapat menyembuhkan. Ibu mengetahui hal itu. Sejak percakapan Salim dengan dokter Han, dia adalah dokter yang mengurus ayah ketika dibawa kerumah sakit beberapa bulan terakhir sebelum kematiannya, ibu mendengarkan dibalik pintu ruangan pasien yang ditempati ayah, begitu jelas. Kata placebo atau obat tanpa bahan aktif membuat ibu tak mau membawa suaminya ke dokter dan ke rumah sakit lagi, bahkan memakan obat anti kanker dari bahan kimia buatan anaknya sendiri pun sudah tak ia percayai. Paradigma terhadap placebo, membuat ibu rajin mengurus pohon Sukun di halaman rumahnya, meracik sendiri jamu buah Sukun untuk suaminya. 

    Placebo. Placebo. Placebo. Sugesti. Sugesti. Sugesti. Semua itu selalu terngiang dalam benak ibu, hingga ibu merasa sudah salah menyekolahkan anaknya ke jurusan farmasi. Padahal banyak yang ibu tidak tahu, ibu hanya butuh waktu dan pikiran terbuka untuk menerima semua penjelasan dari Salim. Salim tahu betul ibunya pintar, tetapi disaat seperti ini membuat ibu merasa tak butuh waktu lama berpikir, hanya butuh meracik, meracik, meracik dan memberikan ramuan pada ayah, dengan modal percaya akan kesembuhan ayah. Pada akhirnya, sebagai anak yang begitu menghormati ibunya, Salim hanya bisa berdoa dan pasrah.  

    “Obat Salim bukan placebo, Bu!”

    “Terus apa? Bahan Kimia? Yang banyak efek sampingnya itu?”

    “Semua obat ada efek samping, bahkan obat tradisional sekalipun, Bu!”

    “Kau tak perlu membodohi ibu, Salim!”

    Salim diam. Waktunya mengalah. Selalu begitu jika berdebat dengan ibu.

    Kepergian ayah, membuat ibu seperti kosong melongpong. Jiwanya entah kemana. Setiap hari hanya duduk di kursi di bawah pohon Sukun, menatap kosong gunung Galunggung yang terpampang jelas sejauh mata memandang dari teras rumah. Salim dan istrinya sudah menyerah untuk membujuk ibu tinggal di Bandung, meninggalkan kampung Salopa kawasan perkebunan karet Bagjanagara - Tasikmalaya. 

    “Rumah ini, sudah menjadi bagian dari tubuh ibu, Salim. Percuma kau bawa ibu ke Bandung, jiwa ibu tetap disini.” 

    Salim termenung. Prestasi dalam pekerjaannya terasa hampa tanpa dukungan dari ibunya. Bahkan karyanya tak dapat mengobati penyakit ayahnya, walau sudah menyembuhnya banyak penderita kanker diluar sana, tetapi ayahnya, menjadi korban penyakit mematikan itu tanpa mampu dia bantu mematikan penyakit ganas itu. 

    “Kami akan sering datang kemari untuk menjenguk ibu.” Kata Marwah. 

    “Pergilah. Jaga cucu ibu,” kata ibu sembari mengecup cucunya yang sudah satu tahun itu.

    Salim, Marwah beserta Salwa pun meninggalkan ibunya, sendiri, bersama pohon Sukun dan kenangan bersama ayah. 

    “Maafkan Salim, Bu,” lirih Salim

    “Sudah. Kau tak salah,” jawab ibu. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Balada Pohon Sukun" Karya Sri Wahyuni (FAMili Bandung) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top