• Info Terkini

    Selasa, 08 Desember 2015

    Ulasan Cerpen "Keputusan Terbaik' Karya Alana Zee (FAMili Padangpanjang)

    Rea belum menikah di usia 27 tahun. Dulu ia sempat berpacaran dengan Arkan, anak orang kaya dan terpandang. Arkan ingin agar mereka segera menikah, namun pekerjaan Rea membuat gadis itu harus rela menunda keinginannya menjadi istri Arkan. Ya, ia tidak bisa menikah sampai masa kontrak dua tahun berjalan. Padahal, di sisi lain, Arkan yang baik dan santun, tidak ingin terlalu lama berpacaran. Ia ingin mereka segera menikah. Karena Rea tidak ingin diremehkan akibat tidak lagi bekerja, terpaksa Arkan meninggalkannya.

    Kini, saat usianya sudah "terlalu tua" menurut sang ibu, Rea makin tertekan. Ia tidak tahu apa keputusan terbaik untuknya saat datang seorang Zaki, anak teman almarhum ayahnya, yang ingin melamarnya dan mengajaknya ke Jerman nanti setelah menikah. Rea bimbang. Kali itu ia mendapat promosi jabatan. Dan jika menikah, terpaksalah ia berhenti. Ia lagi-lagi harus memilih antara pekerjaan atau menikah?

    Cerpen ini bagus daris segi ide, namun penuturannya belum terlalu baik. Ada banyak kesalahan EYD, seperti "nafas", "bisakan", "dikuping", "terngian", "di ubah", "asik", "sedikitpun", "dikemudian", yang harusnya: "napas", "bisa, 'kan?", "di kuping", "terngiang", "diubah", "asyik", "sedikit pun", "di kemudian". Banyak tanda baca yang kurang tepat juga. Diharapkan ke depan penulis mau memperbaiki dari segi kerapian ini. Sebagai penulis, bekal minimal kita adalah kerapian. EYD dan tanda baca penting. Bagaimana pembaca mau melanjutkan bacaannya apabila tulisan yang disajikan kurang rapi?

    Soal penuturan cerpen ini, memang masih belum baik (tidak ada yang sempurna di dunia ini, bukan?). Dan itu bisa diperbaiki dengan banyak-banyak berlatih menulis cerpen. Cari ide-ide sederhana di sekitar dan tuliskan. Imbangi juga kegiatan menulis dengan membaca. Tanpa membaca, penulis tidak punya amunisi. Semakin banyak membaca, akan lahir banyak pintu di kepala kita untuk bagaimana memulai, menghadirkan, dan mengakhiri cerita dengan baik.

    Tetap semangat dan terus menulis.

    Salam aktif,
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    Keputusan Terbaik
    Karya: Alana Zee (IDFAM3904U)

     “Apa kamu sudah punya calon, Rea?” Pertanyaan itu bagai sengatan listrik. Memberi kejutan yang menghentak pada gadis itu.

    “K...kenapa Ibu tiba-tiba bertanya begitu?” Rea terbata. Gadis itu malah balik bertanya pada ibunya.

    “Kamu sudah 27, ibu jadi kepikiran. Anak teman-teman Ibu yang lebih muda dari kamu saja sudah menikah, malah punya anak....” Ucap ibu. “Lagipula kamukan sudah lebih dua tahun bekerja jadi tak terikat kontrak lagi untuk tidak menikah.”

    Rea mendadak gugup. Jemarinya meraba kuping cangkir di atas meja. Ia menyeruput teh yang tak lagi hangat.

    ***

    Gadis itu teringat Bang Arkan. Seorang lelaki yang sempat menjalin hubungan serius dengannya tiga tahun lalu. Arkan berjanji akan mendatangi ibunya dan melamar Rea. Kenyataan itu tak pernah terjadi. Arkan belum sempat menemui ibu untuk melamarnya.

    Rea diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta kala itu. Rea tak ingin melepas kesempatan emas. Lebih dari setahun menganggur membuatnya malu pada keluarga. Jelas-jelas ia sudah selasai kuliah, tapi masih bergantung pada ibu secara finansial. Terlebih Arkan berasal dari keluarga terpandang. Meski ia disambut baik, tapi Rea tetap merasa tak enak hati.

    “Bang..., kamu bisakan bersabar dua tahun. Hanya dua tahun Bang....” Pinta Rea sore itu.

    “Rea ini bukan masalah sabar atau tidaknya untuk menunggu. Tapi aku tak bisa menjamin diriku sendiri untuk bisa tetap berada pada batas yang wajar dalam hubungan ini. Kita tidak diikat oleh ikatan halal. Kita tetapa jalan berdua. Sementara setan selalu penuh godaan. Aku hanya ingin mencintaimu dengan memuliakanmu Rea. Bisakah kamu memahaminya?” Jelas Arkan penuh kesungguhan.

    “Tapi aku tak bisa melepas pekerjaan ini Bang..., Aku sudah berjuang agar bisa lolos....” Ujar gadis itu lirih. 

    “Kamu tidak bilang kalau pekerjaan ini mengikat untuk tidak menikah selama dua tahun. Itu waktu yang tidak sebentar....”

    Rea memang tak pernah memberi tahu Arkan. Gadis itu merasa bersalah.

    “Bang..., bukankah kamu mencintaiku. Berarti kamu juga mendukung keputusanku.” Sergah Rea.

    Arkan menghela nafas perlahan.

    “Rea aku tak bisa memaksamu. Aku bisa meraba diriku sendiri. aku tak ingin membodohi diriku hingga melukaimu. Aku hanya akan memberimu dua pilihan. Kamu lepaskan pekerjaan itu dan menikah denganku atau kamu tetap melanjutkan pekerjaan itu dan kita akhiri sampai di sini....” 

    Gadis itu tersentak. Kalimat Arkan tegas tak memberi ruang untuknya.

    ***

    Tak ada lelaki sebaik Arkan yang pernah ia temui setelahnya. Lelaki yang sopan, baik dan rendah hati. Menyesal. Jelas sekali ia menyesal mengambil keputusan itu. harga dirinya terlalu tinggi karena tak ingin diremehkan.

    Mata gadis itu berkabut. Ia melihat foto-foto Arkan bersama keluarga kecilnya terpampang di beranda ‘Facebook’. Istri Arkan tampak Anggun dalam balutan jilbab ungu. Putra kecilnya juga lucu dan menggemaskan. Kalau saja itu dirinya. Ah..., tak pantas ia berangan.

    Ucapan ibu tadi kembali terngian dikupingnya. 

    “Ibu sudah kepingin kamu menikah. Sekuat-kuatnya seorang wanita, tetap saja ia makhluk yang lemah. Ia butuh pendamping hidup untuk mengayomi, menguatkan dan meluruskannya dalam menjalani hidup...,” Ibu terdiam sejenak memikirkan sesuatu. “Apa kamu sudahkepikiran untuk menikah?”

    Pertanyaan itu hanya dijawab Rea dengan senyum getir. Ia belum mampu menjawab pertanyaan ibu. Belum ada lelaki yang menggerakkan hatinya.

    ***

    Enam bulan berlalu sejak pertanyaan itu muncul. Sudah tiga orang datang ke rumah untuk berkenalan dengan Rea. Tujuannya, kalau cocok ia akan menikah. Belum ada yang ia rasa klik untuk jadi pendamping hidup.

    “Sebentar lagi kamu 28 Rea. Dua tahun setelahnya umur kamu kepala tiga. Waktu dua tahun itu sebentar....”

    Kenapa dulu Bang Arkan bilang waktu dua tahun itu lama. Sementara ibu bilang dua tahun itu sebentar. Apa rentang waktu itu bisa di ubah sesuai keinginan seseorang. Apa waktu itu ukuran relatif. Ia jengkel. Terlebih ibu menyinggung masalah umurnya.

    “Kamu perempuan Rea,” Lanjut ibu namun terpotong oleh ucapan putrinya.

    “Apa masalahnya kalau aku perempuan dan umurku hampir kepala tiga? Apa aku harus menikah saat gadis seumurku sudah menikah dan punya anak?” Rea gusar. Ia tak sadar telah membentak ibunya.

    “Ibu tidak pernah memaksa kamu Rea. Tapi untuk kali ini ibu berharap kamu memikirkannya baik-baik...,” Jawab ibu menenangkan.

    Rea merasa bersalah. Ia sudah membentak wanita yang ia cintai sepenuh hati. Meski begitu ibu tetap lembut menanggapinya.

    ***

    Sore itu Rea mendapati seoarang pemuda sedang asik mengamati pemandangan di sekitar rumah. Ia berdiri di beranda. Wajah gadis itu mengeras. Apakah itu lelaki selanjutnya yang ingin ibu jodohkan dengannya. Kenapa ibu tak bisa memberi ruang sedikitpun baginya untuk berpikir. Ia juga sedang berusaha mencari lelaki yang cocok untuk dijadikan imam.

    Rea mencoba untuk tidak tersenyum dan bersikap acuh. Kakinya melangkah masuk ke pintu. Pemuda itu tidak melihatnya.

    “Rea...,” Sapa suara itu mengagetkan Rea. Ia sudah berusaha menghilangkan bunyi Higheelnya agar lelaki itu tak menoleh.

    Tapi Rea kaget. Siapa pemuda itu. Kenapa ia sok akrab begitu padahal baru pertamakali bertemu. Apa ibu?

    ***

    Zaki, anak teman ayah. Lebih tepatnya sahabat baik almarhum ayah. Pemuda yang santun dan hangat. Sejenak pertemuan mereka kembali setelah sekian tahun membuat Rea melupakan Arkan. Sekarang ia malah menyimpan rasa kagum pada pemuda itu. 

    “Bulan depan aku kembali ke Jerman. Memang aku punya alasan kuat untuk kembali ke indonesia sebulan lalu.” Zaki mengulum senyum. “Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini dan menyesal dikemudian hari. Jika kamu berkenan aku ingin melamarmu untuk menjadi istriku. Lebih baik kamu shalat istikarah dulu. Aku tunggu jawabanmu seminggu lagi. Kuharap itu keputusan terbaik...,”

    Rea kembali dilanda kebingungan. Karirnya sedang bagus, ia juga dapat tawaran promosi dari perusahaan. Jika ia menerima lamaran Zaki otomatis gadis itu harus berhenti bekerja dan iku ke Jerman. Kenapa ia kembali dihadapkan pada pilihan sulit. (*)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Keputusan Terbaik' Karya Alana Zee (FAMili Padangpanjang) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top