• Info Terkini

    Sabtu, 23 Januari 2016

    Ulasan Cerpen "Siluman Palak" Karya Mahfuzh Amin (FAMili Tabalong, Kalsel)

    Dalam dunia kesusastraan, cerpen yang baik tidak melulu mengangkat sesuatu yang 'wah' untuk dapat disebut baik. Cerpen, sesederhana apa pun itu ide dasarnya, apabila diolah dengan matang (diksi tidak berlebihan, natural meski fiktif, serta mempunyai twist ending yang membekas), tetap bisa disebut sebagai cerpen yang baik. Sebaliknya, cerpen dari ide dahsyat yang dieksekusi dengan buruk, tetap saja disebut cerpen gagal.

    Cerpen "Siluman Palak", menurut Tim FAM Indonesia, masuk kategori cerpen berhasil. Pertama, cerpen tidak menunjukkan keinginan penulis menonjolkan kekayaan diksi yang dia punya. Kedua, tidak bertele-tele (kalimat-kalimatnya cukup efektif). Dan terakhir, pesan moral tersampaikan.

    Cerpen ini mengisahkan adanya siluman di suatu desa, yang biasa merasuki orang untuk berbuat tidak baik. Tokoh utama dalam ceritalah yang kali itu jadi korban. Ia dibujuk untuk melakukan perbuatan jahat demi balasan kekayaan mendadak. Pada akhirnya, tokoh utama sendirilah yang rugi. Hanya karena menuruti hawa nafsu, ia rela mencelakakan keselamatan orang dan dirinya sendiri.

    Mungkin struktur cerpen ini sederhana, tetapi ia mewakili sebuah cerpen dengan kelengkapan unsur intrinsik sehingga disebut berhasil—selain karena ditambah kemampaun menyelesaikan cerita dengan baik. Kita disuguhi konflik dan alur yang tidak rumit (walau lemah dari segi penokohan), tetapi juga twist yang membekas, dan itu terjadi tanpa membawa-bawa kesan 'wah'. 

    Kita sudah biasa menemui cerita dengan ide semacam ini yang dicoba dikembangkan agar terkesan 'wah', yang sayangnya malah gagal. Dalam hal ini, tim FAM memberi nilai plus untuk penulis. Hanya mungkin karena cerpen ini terlalu pendek, terkesan agak tergesa-gesa. Dengan terus berlatih dan berlatih, ke depan diharapkan penulis bisa lebih mengeksplore terutama dari segi karakter tokoh. Jangan terburu-buru menutup cerita, bahkan meski ia sesederhana ini.

    Untuk kerapian, masih ada kekeliruan EyD dan kesalahan ketik. Ke depan disarankan agar penulis mengoreksi kembali tulisannya sebelum diterbitkan/dikirim ke media massa. Selebihnya, tambah bahan bacaan Anda agar cerpen-cerpen berikutnya lebih matang.

    Salam aktif!
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    SILUMAN PALAK
    Karya: Mahfuzh Amin (IDFAM3975U)

    Malam masih gerah, padahal sudah sangat larut. Ancai – yang malam ini bertugas jaga malam – sedang menyeruput kopi hitamnya yang masih mengepul ketika hidungnya menangkap bau yang menusuk. Makin lama, bau itu semakin menyengat,  hingga membuat hidungnya terasa sakit. Ia mulai batuk-batuk. Matanya pun terasa pedas dan mulai berair.

    Ini adalah pertanda…

    Ia bergegas mengambil pentungan dan memukul-mukulnya dengan keras sambil berlari mengelilingi dusunnya. “Palak!!! Palak!!!” teriaknya.

    Semua warga sudah paham maksud peringatan Ancai. Lantas mereka menyalakan lampu dan bersiaga dengan gayung di tangan dan seember air di rumah masing-masing.

    Seperti sudah menjadi agenda tahunan di puncak panasnya kemarau, Siluman Palak selalu datang menghantui dusun-dusun untuk mencari mangsa, tak terkecuali dusun Gambut. Makhluk astral yang tak diketahui wujudnya ini memang telah menjadi momok yang menakutkan. Ia hadir seperti udara, tak bisa disentuh, namun baunya menyegat dan dapat membuat mata perih hingga berair.

    Siluman Palak bukanlah siluman penghisap darah, pemakan daging, apalagi pencuri celana dalam. Ia adalah siluman yang merasuki manusia, kemudian menyuruh manusia itu melakukan apa yang diinginkannya. Biasanya, hal yang ia inginkan selalu berhubungan dengan api.

    Seperti yang terjadi di dusun Karet setahun silam. Hampir seluruh kebun Karet milik warga habis dilahap api akibat ulah seorang warga yang awalnya hanya membakar sebatang pohon karet atasan perintah Siluman Palak. Beberapa rumah warga juga ikut terbakar. Setelah kejadian itu, dusun Karet pun diselimuti asap tebal yang membuat para warga kesulitan bernapas hingga banyak yang mengalami infeksi pernapasan. Bahkan, ada balita yang meninggal akibat bencana ini. Hingga hujan turun menguyur dusun Karet, barulah Siluman Palak pergi meninggalkan dusun tersebut.

    Tentu warga dusun Gambut tak ingin kejadian naas yang menimpa dusun Karet itu terjadi di dusun mereka. Sehingga mereka menyatakan siaga satu untuk menghindari Siluman Palak mengabuti dusun mereka. Dengan strategi menyalakan seluruh lampu hingga membuat rumah mereka terlihat benderang, mereka berharap Siluman Palak enggan mendekati rumah mereka.

    Memang benar, Siluman Palak tampak enggan mendekati rumah-rumah dusun Gambut. Ia pikir, penghuni rumah pasti sudah siaga untuk mengusirnya dengan air. Namun, sebelum ia mengurungkan niat mencari mangsa di dusun Gambut, ia melihat sebuah rumah yang gelap gulita. Ia segera mendekati rumah itu.

    Ternyata itu adalah rumah Ancai. Ia memang sengaja tidak menyalakan lampu agar menjadi perhatian Siluman Palak. Ia juga sengaja mengajukan diri menjadi penjaga malam. Ia ingin Siluman Palak datang ke rumahnya.

    “Akhirnya, kau datang juga,” sambut Ancai ketika rumahnya mulai dikepuli asap.

    Kepulan asap itu mulai menyelimuti tubuh Ancai. Ancai terbatuk-batuk.

    “Tenang! Tenang!” pinta Ancai dengan suara yang mulai parau. “Aku tidak bermaksud menantangmu. Aku hanya ingin bernegosiasi denganmu.”

    Kepulan asap menyebar meninggalkan tubuh Ancai. Dada Ancai turun naik, mengatur napas.

    “Katanya, kau bisa membuat orang kaya, benar itu?” tanya Ancai. “Jujur, aku sudah capek jadi orang miskin. Aku ingin menjadi orang yang kaya. Jika kau bisa membuatku kaya, aku siap menjadi abdimu.”

    Kepulan asap itu terbang meliuk-liuk mengelilingi ruangan. Kemudian, terdengarlah suara yang berat, “Aku bukan penyihir yang bisa membuatmu kaya sekejap. Tapi, aku bisa memberimu jalan untuk menjadi orang kaya.”

    “Bakarlah hutan yang ada di belakang dusun ini!” seru Siluman Palak.

    “Mengapa harus membakar. Tidak ada cara lain kah?” nego Ancai.

    “Aku suka api. Jika kau ingin bantuanku, kau harus melakukan apa yang kusukai. Jika kau bisa membuat aku senang, aku pun akan membuatmu senang.”

    Ancai diam. Menimbang-nimbang.

    “Jika kau bakar hutan itu, maka akan terbuka lahan untuk kau tanami. Aku akan memberi tahu Tanah agar setiap tanaman yang kau tanam nanti tumbuh subur.”

    Ancai perlahan sumringah. Ia telah tergiur. Bergegas ia mengambil minyak tanah dan membawanya ke hutan. Dusun Gambut beserta dusun-dusun di sekitarnya pun langsung geger melihat kobaran api besar yang melahap hutan kebanggaan mereka akibat keserakahan dan ketidakpedulian seseorang yang tidak mereka ketahui.

    “Sepertinya kita harus mengungsi. Siluman Palak pasti akan merajalela,” ujar seorang warga ketakutan.

    Ancai tersenyum bahagia melihat kobaran api yang besar itu, seakan melihat emas-emas yang siap diraupnya agar ia menjadi orang kaya. Dia tak menyadari bahwa di belakangnya, sang Siluman Palak siap kapan saja mendorongnya masuk ke kobaran api itu. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Siluman Palak" Karya Mahfuzh Amin (FAMili Tabalong, Kalsel) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top