• Info Terkini

    Sabtu, 06 Februari 2016

    Ulasan Cerpen "Jalan Lain Menuju Brawijaya" Karya Darwan (FAMili Lombok Tengah)

    Nindy berharap suatu hari nanti ia bisa diterima kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Ia sudah tidak memiliki Ayah. Tentu saja, kondisi sulit harus Nindy alami. Tetapi, ia siswi yang berprestasi dalam bidang karate. Berkat prestasinya inilah, kelak cita-citanya untuk berkuliah di Malang dapat terwujud.

    Ide cerpen ini sederhana. Penyajiannya juga sederhana. Bagaimanapun, setiap cerita, entah rumit atau sederhana, sepatutnya bisa dinikmati kehadirannya karena perbedaan selera setiap pembaca, apalagi yang memiliki pesan positif seperti di cerpen ini. 

    Sayangnya, kesederhanaan cerpen ini yang diiringi kekuatan pesan, tidak bisa mencapai hasil maksimal untuk bisa disebut "bagus". Pasalnya penyajian dari segi EyD, tanda baca, dan pergantian paragraf masih banyak yang salah.

    Yang paling menonjol adalah pergantian paragraf dalam kalimat-kalimat dialog bersahutan yang dilakukan beberapa tokoh. Seharusnya, kalimat dialog antar tokoh dibedakan dengan pergantian paragraf; dalam cerpen ini tidak. 

    Itu hanya satu contoh saja, sehingga diharapkan ke depan penulis memperhatikan kerapian tulisan. Sebab, sebagus apa pun karya Anda, apabila disajikan dengan kurang rapi, akan mengurangi minat pembaca melanjutkan membaca tulisan Anda sampai rampung.

    Terus berlatih dan iringi aktivitas menulis Anda dengan membaca karya-karya bermutu. Karya seperti apakah itu? Yakni karya-karya yang lahir dari tangan para penulis best seller, para pemenang sayembara bergengsi, atau para penulis peraih nobel. Menambah kualitas bacaan akan memperbagus tulisan kita ke depan.

    Salam aktif!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    JALAN LAIN MENUJU BRAWIJAYA
    Karya: Darwan (IDFAM3960U)

    Ditengah kesunyian malam terdengar suara setengah berteriak, “ ibu,ibu, alhamdulillah Nindy bisa diterima di Univeristas Brawijaya Malang. Syukur nak, itu berkat kerja keras kamu nak, ibu hanya bisa mendoakan semoga cita-cita kamu menjadi kenyataan nak. “Nindy tidak nyangka bisa diterima di Brawijaya karena nilaiku tidak baik-baik amat. Hore,,,aku diterima di Brawijaya. Lamat-lamat di keheningan suasana, suara Azan shubuh berkumandang, membangunkan setiap muslim untuk segera memenuhi panggilanNya.

    Wanita paruh baya dengan mukena putih mengetuk pintu kamar dekat beranda. “  Bangun-bangun nak, shubuh nich, bangun Nin, ayo ita ke masjid. Nindy yang masih terbuai dengan mimpinya, seketika itu terkesiap mendengar ketukan pintu yang cukup keras. Nindy menggeliatkan tubuhnya. Suara khas ibu menyadarakannya dari tidur lelapnya. “Astagfirullah, ternyata aku bermimipi lirihnya.

    Ayo nak segera ambi air wudhu, kita segera ke masjid. “ oh,,ya,,nak tadi ibu sempat dengar kamu mengigau layaknya kamu berbicara dengan seseorang. “ya bu ternyata aku bermimipi. “mmm, kamu mimpi apa nak? Dalam mimpiku aku di terima salah satu universitas terkenal di pulau Jawa bu. Ya udah, sekarang kamu segera berwudhu, ibu tunggu di luar. Tanpa banyak pikir Nindy segera segera berwudhu. “alhamdulillah, terasa segar udara pagi ini, terima kasih ya Allah, gumam Nindy. Selesai berdo’a wudhu, Nindy segera ke kamar untuk mengenakan mukena.

    Pagi yang cerah, bintang gemintang masih bertaburan di langit shubuh. Meski udara dingin, tak menyurutkan langkah Nindy dan ibunya menerobos keheningan shubuh. Rumah Nindy tidak terlalu jauh dengan Masjid Al-Huda Mantang. Khawatir ketinggalan takbir pertama, Nindy dan ibu mempercepat langkah, langkah mereka menyerupai dua atlet jalan cepat yang berebut garis finish.

    Di Masjid jama’ah sudah ramai. Nindy dan ibu mengambil shaf yang masih kosong. Tak lupa Nindy dan ibu sholat Tahiyatul Masjid. Selesai sholat shubuh, Nindy dan ibu mendengar tausiyah dari Ustadz Muzammil. “ Jama’ah shubuh yang di rahmati Allah, ingatlah selalu, Allah tempat kita mengadu dan meminta pertolongan atas kesulitan yang kita hadapi. Tidak ada yang tidak mugkin bagi Allah. Cukup dengan ucapan “ kun fayakun” maka jadilah ia. Sambung Ustadz Muzammil, oleh karena itu bila kita mempunyai cita-cita atau keinginan mintalah kepada Allah dengan serius dan tawadduk disertai dengan usaha keras dari kita sendiri. Insya Allah keinginan kita dikabulkan Allah SWT.

    Seiring dengan berakhirnya  tausiyah, jama’ah masjid dengan tertib mulai meninggalkan masjid. Begitupun dengan Nindy dan ibu, mereka segera beranjak pulang. Semburat merah di ufuk timur sebagai tanda penyambutan istimewa terhadap mentari yang akan memberi cahaya cuma-cuma pada dunia. Tak berapa lama matahari keluar dari singgasananya sembari tersenyum mempesona. Udara segar seketika menyelimuti desa Mantang. Embun pagi di dedaunan laksana muitiara di lautan yang melengkapi kesejukan Desa Mantang pada hari itu. Lalu lalang kendaraan motor kendaraan mulai memadati jalan trans Mantang-Mataram.

    Desa Mantang selalu ramai pada hari libur, khususnya hari minggu yang merupakan hari pasaran. Di sebuah rumah kecil namun rapi dan bersih yang terletak tidak jauh dari pasar. Disanalah Nindy dan ibu tinggal. “ nak, kamu menyimak tadi tausiyah di masjid tadi. Kamu harus tekun berlatih agar apa yang kamu cita-citakan dapat kamu raih. “ Ya bu, aku menyimak dengan seksama apa yang disampaikam Ustadz Muzammil tadi. Nindy akan lebih giat lagi berlatih untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) yang sebentar lagi di adakan. “Tapi jangan lupa nak, kamu juga harus belajar yang rajin, ibu khawatir kamu nanti tidak lulus, kamu sekarang kelas XII, berarti tinggal beberapa bulan lagi kamu akan menghadapi Ujian Nasional (UNAS). Insya Allah bu, aku optimis bisa lulus, ku bisa mengatur waktu untuk belajar dan berlatih. Oh ya bu, aku berangakat dulu, tidak lupa Nindy berpamitan dan mencium pipi ibunya.

    Sepeninggal Nindy, ibu kembali ke dapur. Sembari mencuci piring sisa sarapan Nindy, ibu menggumam dalam hati. “ tidak terasa empat tahun, Nindy di tinggal Bapak untuk selama-lamanya. Kiranya bapak masih berada di tengah-tengah kita, tentu beliau akan gembira tak terkira melihat putri satu-satunya menjadi atlet kebanggaan sekolah. Di tengah usiaku yang semakin senja, masihkah aku mampu membiayayai Nindy hingga Nindy bisa kuliah di universitas terkemuka, penghasilanku sebagai pedagang warung nasi tidaklah seberapa. Namun yang menggembirakan akhir-akhir ini pelanggan semakin ramai, dan keuntunganku semakin berlipat bila dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu. Mudah-mudahan ini pertanda baik gumamnya.

    Sebulan setelah ayah Nindy meninggal dunia. Nindy ikut latihan Karate INKANAS (Institut Karate Nasional) di Praya. Sebagai anak baru, Nindy terlihat biasa-biasa saja. Namun ketika usia latihannya memasuki bulan ke lima, barulah talenta Nindy mulai kelihatan. Waktu senggang di rumah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengulang kembali gerakan atau tehnik yang diajarkan. Melihat perkembangan Nindy, Sinpai (guru) Asror tersenyum. “Nin, saya akan berikan kamu latihan tambahan. Sebentar lagi ada kejuaraan daerah (Kejurda) di Praya. Dan kamu Nin, saya rekomendasikan untuk ikut serta, tegas Sinpai Asror.

    Terbukti pada Kejurda dalam rangkaian kegiatan menyemarakkan HUT Kabupaten Lombok Tengah Yang ke-70, Nindy berhasil menyabet dua medali emas cabang komite dan kata perseorangan putri. Sejak saat itulah Nindy selalu diikutsertakan di berbagai event yang kelak membawanya menjadi atlet yang cukup terkenal di Kabupaten Lombok Tengah. Tak ayal lagi, hal ini membuat sekolah tempat Nindy menuntut ilmu kecipratan terkenal. Selain itu juga yang membuat hati Nindy berbunga-bunga, Nindy di daulat sebagai atlet andalan Lombok Tengah di ajang Pekan Olahraga Provinsi yang bertempat di kota Mataram.

    Walau Nindy menjadi menjadi ikon dan idola baru. Di sekolah Nindy tetap rendah hati.Dia tidak pernah memilah-milih temannya dalam bergaul. Penampilannya pun sederhana. Bila dilihat dari tubuhnya yang mungil, orang tidak akan menyangka, Nindy adalah seorang karateka penyandang sabuk hitam yang merupakan atlet andalan daerah. Atas dasar itulah Nindy di segani teman-temannya.

    Matahari tepat ditengah kepala ketika Nindy pulang dari Dojo latihan. “ Assalamu’alaikum, Nindy mengucap salam. “Wa’alaikumussalam.warohmatullah, jawab ibu. Alhamdulillah sedari tadi ibu menunggumu pulang. Terus bagaimana persiapan untuk kejuaraan di mataram itu nak ?  “ Alhamdulillah Nindy sudah siap tanding, jawabnya mantap. Syukur dah nak, sekarang kamu bersihkan diri dulu, selesai itu kamu sholat zohor. Kebetulan ibu telah menyiapkan hidangan opor telur kesukaan kamu. “ oh,,asyik bu, Nindy memeluk ibunya. Nindy mandi dulu ya, nindy kegirangan sambil berlari ke kamar mandi.

    Langit biru di cakrawala serta mega yang berarak tertiup angin membuat suasana hari itu cerah ceria. Secercah harapan Nindy yang masih menggantung di langit biru minta untuk segera di turunkan. Cuaca cerah hari itu menjadi saksi keceriaan Nindy menyambut hari itu. “ bu, aku berangkat dulu, sambil mengambil tas ranselnya. Tak lupa Nindy salaman dan mencium pipi ibunya.

    Aku optimis bisa menjadi juara di PORPROV, gumam Nindy dalam hati. Nin, ayo kita berbaris di halaman ajak Winda teman sebangkunya. Keduanya segera mengambil barisan sesuai kelas masing-masing. Upacara bendera di mulai. Suasana upacara bendera di SMAN 1 Batukliang berjalan lancar, rapi, dan khidmat. Bertindak sebagai pembina upacara, kepala SMAN 1 Batukliang pak Hasan, M.Pd. Dalam amanatnya pak Hasan mengingatkan peserta upacara. “ Hari ini merupakan hari istimewa bagi kita semua, keluarga besar SMAN 1 Batukliang, karena nanti siang teman kalian, Nindy siswi kelas XIIa program IPA akan berangkat ke Mataram mengikuti PORPROV. Nindy menjadi utusan sekolah dan Kabupaten Lombok Tengah. Untuk itu saya mengajak kita semua untuk mendo’akan Nindy agar bisa menjadi juara di event tersebut.

    Kemudian pak Hasan melanjutkan, “yang tak kalah penting, jangan lupa untuk lebih giat belajar, karena Ujian nasional sudah di ambang pintu. Selain itu ada khabar gembira bagi kita semua, bahwa sekolah kita di undang mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Ini berarti kesempatan emas bagi kita semua. Untuk itu, kelas XII semua jurusan peringkat 10 besar di kelas masing-masing, saya minta memfoto copy nilai raport dari kelas X sampai dengan kelas XII semester ganjil dan dikumpulkan mulai besok pagi, tegas pak Hasan.

    Wajah sumringah Nindy memasuki rumah mungilnya. “Bu,,aku disuruh kumpulin foto copy raport sebagai syarat bisa masuk universitas terkemuka di seluruh Indonesia. Aku pilih Universitas Brawijaya aja, ya bu ! “ itu terserah kamu nak, ibu mendukung aja, asal sesuai dengan minat dan cita-citamu nak. “ ya bu, Nindy kepingin jadi arsitek supaya bisa bantu ibu cari uang dan bikinin rumah baru untuk ibu. Ibu mengusap rambut Nindy sembari memeluk erat anak satu-satunya. “ Sekarang kamu makan, udah itu sholat dan beristirahat. Satu setengah jam lagi Sinpai Asror akan menjemputmu.

    Sekitar pukul 15.00 WITA Sinpai Asror menjemput Nindy. Nindy membawa pakaian seperlunya. “Kita berkumpul di gedung KONI Praya bersama atlet yang lain Nin, ujar Sinpai Asror. “ Ok, Sinpai. Dari Praya jam berapa kita ke Mataram, tanya Nindy. “ Sekitar pukul 17.30 kita berangkat. Rencanaya kita akan mengikuti acara pelepasan dulu. khabarnya bapak Bupati yang langsung akan melepas kontingen Lombok tengah.. Oh ya Nin, cabang karate langsung akan di pertandingkan nanti malam setelah acara pembukaan, untuk itu Sinpai minta, Nindy tenang dan fokus untuk menghadapi pertandingan nanti.

    Gelanggang Olahraga (GOR) Turida yang merupakan kembagaan masyarakat NTB, malam itu berteriak histeris bak orang udik yang baru pertama nonton hiburan. Gegap gempita yel-yel suporter masing-masing kontingen melengkapi gemerlapnya kota Mataram yang ditaburi bintang gemintang.

    Rupanya malam itu Nindy turun di komite perseorangan putri kelas 50-60 Kg. Nindy akan menantang kontingen tuan rumah yaitu Kota mataram.  Kedua atlet yang bertanding saling berhadapan dan memberi hormat. Ronde pertama dimulai kedua atlet saling menjajaki kecepatan gerakaan, tendangan mawase (sapuan mengarah ke pipi)  lawan nyaris mengenai Nindy. Nindy berhasil berkelit sempurna dengan replek tingkat tinggi. Jual beli tendangan dan pukulan kedua atlet tidak menghasilkan point. Detik-detik terakhir ronde pertama, lagi-lagi lawan mencoba melayangkan melayangkan tendangan mawase ke arah pelipis kiri Nindy, di saat yang sama sambi mengelak replek Nindy melepaskan pukulan Giyako Suke ke arah ulu hati lawan yang tidak terjaga, brukk,, pukulan Nindy telak mengenai sasaran. Papan skor memecahkan telur 2 : 0 untuk keunggulan Nindy. Ronde kedua dan ketiga berjalan sengit. Jual beli serangan dilakukan kedua atlet. Setelah lebih kurang 20 menit Nindy berhasil menyudahi pertandingan dengan skor akhir 6 : 4 untuk keunggulan Nindy.

    Pada babak selanjutnya Nindy tidak dapat lawan yang sepadan. Nindy melenggang mulus ke babak final. Di partai final ini Nindy akan melawan atlet andalan Kota Bima. Beberapa menit sebelum laga tampak Sinpai Asror selaku pelatih dan official memberikan arahan. “ Nin, untuk bisa menang, kamu harus tenang dan fokus. Upayakan curi point cepat di awal pertandingan. Nindy mengangguk tanda setuju, laga yang di tunggu-tunggu di mulai. Suara riuh suporter kedua suporter menggelorakan semangat kedua atlet.

    Ronde pertama berjalan ketat skor sementara 3 : 2 untuk keunggulan lawan. Ronde kedua terjadi seri. Serangan bertubi-tubi lawan berhasil dimentahkan Nindy. Sampai akhir ronde kedua, Nindy mampu mengunci dan membaca gerakan lawan. Hingga akhir ronde ke-dua di papan skor tertulis 4 : 4. Refere panjang berbunyi pertanda ronde penentuan dimulai. Sekilas Nindy menatap Sinpai Asror. Sinpai Asror mengangguk. Ronde penentuan pun di mulai. Nindy bergerak tenang, sambil merangsek menyerang tendangan mawase mengenai pipi lawan. Point cepat berhasil didapatkan Nindy. Merasa diatas angin,di detik akhir ronde ketiga Nindy hanya berkelit, mengelak tanpa membalas serangan lawan. Secara daramatis Nindy berhasil menaklukkan perlawanan ketat atlet kota Bima dengan skor akhir 6 : 4.

    Gegap gempita suporter menggetarkan aula GOR Turida. Nindy dirangkul dan digotong teman-temannya. Sinpai Asror mengikatkan bendera merah putih di pinggung Nindy. Mata Nindy berkaca-kaca. Dia tidak bisa menahan gejolak perasaannya. Tanpa terasa air mata Nindy menganak sungai menghanyutkan segala perasaan. Haru biru meyambut kemenangan Nindy. Teman-temannya masih merangkul Nindy. Dia berhasil mempersembahkan medali emas pertama untuk kontingen Lombok Tengah.

    Tanpa terasa tiga bulan berlalu. Medio bulan Mei mei, ada hari yang berkesan bagi muda-mudi putih abu-abu. Tidak ketinggalan muda-mudi putih abu-abu SMAN 1 Batukliang telah bersiap sedia menyambut hari istimewa itu. Pada hari itu tanggal 21 Mei 2015 merupakan pengumuman kelulusan Ujian Nasioanl (UNAS) sekaligus Kelulusan SNMPTN. Dag-dig-dug  jantung muda-mudi putih abu-abu berdetak berirama dengan detak jam menunggu saat-saat yang dinantikan.

    Ditengah kerumunan putih abu-abu, seorang gadis berkulit sawo matang tengah asyik ngobrol dengan temannya. “ Winda, kemarin kamu pilih Universitas mana ya ? tanya Nindy. “ aku pilih Universitas Mataram jurusan Pendidikan Kimia. “ kalau kamu Nin, pilih mana ? “ Aku pilih Universitas Brawijya Malang Jurusan arsitektur, jawab Nindy. “ tuch, kita di suruh kumpul di halaman, Winda mengingatkan. “ Yuks, kita kesana Winda menggandeng tangan Nindy.

    Pengumuman kelulusan UNAS dan SNMPTN segera dibagikan. “Apapun hasilnya saya ingatkan, pak Hasan berpidato, itulah hasil kerja keras kita. Ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan hari ini merupakan awal untuk kalian semua menapaki kehidupan yang sesungguhnya. Tak lama kemudian pengumuman hasil UNAS dan SNMPTN di bagikan. Bagi siswa yang ikut snmptn, termasuk juga Nindy menerima dua amplop. Seketika suasana berubah menjadi gaduh karena amplop yang dibagikan langsung dibuka oleh mereka. Beragam rupa luapan ekspresi muda-muda putih abu-abu SMAN 1 Batukliang di tabuh. Ternyata kelulusan tahun 100 % ujar Winda. “ Berarti kita semua lulus, alhamdulillah Winda dan yan lainnya berjingkrak kegirangan. Ayo kita sujud syukur ajak Winda, dengan berat hati Nindy mengikuti temannya sujud syukur meski hatinya sedang di landa kecamuk hebat. 

    Nin, ada apa kamu kelihatan sedih ? sambil menyodorkan amplop satunya kepada Winda, Nindy menangis terisak. “ aku tidak diterima di Brawijaya ratap Nindy. Winda membuka dan membaca amplop yang diberikan. Winda merangkul erat-erat Nindy sembari sesenggukan. “ sabar Nin, mungkin ada rencana lain dari Allah di balik semuai ini, Winda menguatkan sahabatnya. “ Ingat Nin, kamu adalah idola dan inspirasi kami semua teman-teman kamu. Aku yakin kamu kelak akan sukses Nin, Winda menyemangati.

    Senja telah lembayung ketika siswa-siswi SMAN 1 Batukliang membubarkan diri. Setibanya di rumah, Nindy menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya. “ Nak, luluskah kamu ? “ Alhamdulillah bu, kami semua lulus, ujar Nindy. Meski Nindy mencoba menutupi gurat sedih di hatinya yang paling dalam. Naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ibu tahu ada sesuatu yang yang disembunyikan buah hatinya. “ Nin, apa kamu sakit ? dari tadi ibu perhatikan, kamu kurang gairah dari biasanya. “ Ya bu, dari kemarin Nindy tidak enak badan. “ Kalau begitu kamu beristirahat nak, ibu keluar sebentar cari obat.

    Di kamarnya Nindy menumpahkan tangisnya, “ Ya Allah, mengapa aku tidak di terima di Brawijaya, ratapnya. Jah-jauh hari aku telah belajar dengan keras. Mengapa aku saja yang tidak lulus.

    Hari-hari berikutnya Nindy mencoba untuk melupakan kesedihannya. Nindy memanfaatkan hari-hari bebasnya dari aturan njelimet di sekolah selama ini. Dia berlatih gerakan dan tehnik baru yang sudah dipelajari dari Sinpai Asror. Tak lupa Nindy juga membantu ibu di dapur dan pelayanan di warung. Tidak terasa Nindy bisa melupakan kesidihannya. Setelah hatinya mantap Nindy menceritakan ke ibu perihal ketidak lulusannya di SNMPTN. Mendengar itu, ibu memeluk erat Nindy, mengusap rambutnya. Air mata kasih seorang ibu menetes membasahi baju putih Nindy. Ibu tidak perlu sedih, Nindy sudah ikhlas menerima semua ini. Nindy sadar di balik semua ini ada hikmahnya bagi Nindy, jawab Niny Mantap.

    Ibu bangga membesarkan dan mendidikmu nak, kamu mempunyai jiwa yang besar nak, ucap ibu Nindy. Ada yang mengetuk pintu bu, mungkin ada tamu tuch, mengingatkan ibunya. Nindy dan ibu menuju pintu. Ibu membukakan pintu. “ oh, ibu Sarah, tumben bu. “ Dari kemarin sebenarnya mau kesini bu Nin, tapi saya ragu-ragu dan malu bu. Karena sifatnya mendadak, sekarang saya beranikan diri kesini. “ ada, yang bisa saya bantu, bu Sarah. “ anak saya yang paling kecil sudah 6 hari di Rumah Sakit, kata dokter anak saya terserang DBD, saya tercatat sebagai pasien umum, saya tidak terdaftar di BPJS bu. Ujar bu Sarah panjang lebar. Kalau ibu berkenan, saya mau pinjam uang untuk biaya pengobatan anak saya bu Nindy. Ibu Nindy terdiam sambil berpikir. “ begini bu sarah. Saya ada simpanan uang, mudah-mudahan bisa membantu. “ memang berapa biayanya bu sarah ? “ kata dokter total semuanya Rp 950.000,-. Ibu Nindy kemudian menuju ke biliknya. Tak berapa lama kemudian ibu Nindy kembali sambil menyodorkan ke ibu Sarah. “ ini uangnya bu Sarah, sekarang, segera di bawa pulang anaknya, bu Sarah. Uang itu tidak usah di ganti, saya sedekahkan untuk ibu Sarah, dan anak ibu. Ibu Sarah melongo seakan tidak percaya apa yang didengarnya. Begitu mulia hati ibu, ujar ibu Sarah sambil menerima amplop. “ semoga keluarga ibu Nindy dberi keberkahan dan kelapangan rizki oleh Allah SWT, ibu Sarah terbata-bata. Terima kasih sekali lagi bu Nindy, semoga Allah membalas kemurahan hati ibu. Dengan wajah ceria ibu Sarah berpamitan.

    Ada keperluan apa bu Sarah ke sini, tanya Nindy, tumben bertamu ke rumah. “ anaknya di rumah sakit butuh biaya untuk bisa di bawa pulang. Makanya ibu sarah kemari untuk meminjam uang. “ terus berapa biayanya, katanya Rp 950.000,-. Kebetulan ada simpanan ibu dua juta rupiah. Ya ibu ikhlaskan yang Rp 950.000,- untuk ibu dan anaknya bu Sarah. Sebenarnya uang tersebut ibu simpan untuk keperluan Nindy sebagai biaya daftar kulaih kelak. Melihat ibu Sarah yang kebingungan begitu, ibu iba melihatnya. Ya ibu ikhlaskan uang tersebut, mudahan cukup membantu mereka. Sisanya untuk Nindy siapa tahu besok ada tamabahan rizki Nin, Allah Maha kaya Nin, ibu menjelaskan.

    Sedang asyiknya Nindy dan ibu ngobrol. Tiba-tiba diluar terdengar ketukan pintu disertai ucapan salam. “ Wa’alaikumussalam.warohmatullahi wabarokatuh, jawab Nindy dan ibu berbarengan. Nin, bukakan pintu, perintah ibu. “ Masya Allah, pak Hasan  tumben nich, ujar Nindy rada-rada kaget. Mari masuk pak. Pak Hasan duduk di dekat Nindy. Oh ya bu, bagaimana khabarnya ? “ Alhamdulillah sehat wal-afiat. Kami pun berharap demikian kepada pak Hasan dan keluarga. “ Oh ya bu, tujuan saya kesini, ingin menyampaikan khabar gembira kepada ibu dan Nindy. Pak Hasan menyodorkan surat yang dibawanya ke Nindy. Silahkan dibaca isinya. Jadinya Nindy bisa diterima di Universitas Brawijaya pak ? “ ya, jawab pak Hasan. “Syukur Alhamdulillah ucap Nindy senangnya bukan kepalang. Bagaiman saya bisa diterima pak, padahal nilaiku katanya kurang dua angka.

    Setelah kami mengetahui kamu tidak diterima di Brawijaya. Kami berusaha mencari informasi sana-sini termasuk juga di internet. Alhamdulillah prestasi kamulah yang menyebabkan kamu di terima di Brawijaya Malang. Bahkan kamu diberikan beasiswa penuh oleh pihak Universitas sampai kamu menyelesaikan studi di sana. Koq bisa begitu pak, mungkin ini rezeki kamu Nin, pihak Universitas Brawijaya sangat intens memberikan perhatian kepada siswa yang berprestasi di bidang olahraga. Pihak sekola telah mengirimkan hasil scaning foto copy sertifikat dan penghargaan yang kamu raih selama ini. Untungnya semua itu tersimpan rapi di lemari arsip. Mungkin atas dasar itu itu pihak Brawijaya merekomendasikan kamu bisa diterima masuk tanpa tes serta mnerima beasiswa penuh dari universitas. 

    Nindy memeluk ibunya, Alhmdulillah inilah jalan lain yang diberikan Allah kepada Niny. Nindy menangis sesenggukan di pangkuan ibu. Berulang kali dibacanya surat rekomendasi dari Universitas Brawijaya. Terima kasih pak, atas upaya dan jerih payah bapak lirih Nindy. Pak Hasan tersenyum sambil mengusap kepala Nindy. Sama-sama Nin, semoga apa yang kamu cita-citakan dapat terwujud tegas pak Hasan. (*)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Jalan Lain Menuju Brawijaya" Karya Darwan (FAMili Lombok Tengah) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top