• Info Terkini

    Rabu, 24 Februari 2016

    Ulasan Cerpen "Wanita Kekal" Karya Hasan (FAMili Gowa, Sulsel)

    Rodiyah kehilangan anaknya, Nina, dalam sebuah bencana. Ia begitu yakin anaknya tak selamat dalam peristiwa ini, apalagi setelah ditemukannya mayat yang ciri-cirinya mendekati ciri fisik Nina.

    Rodiyah berusaha mengikhlaskan kematian anaknya. Setelah jasad tak dikenal itu dikubur, kenyataan berkata lain: Nina masih hidup. Demikianlah, anak beranak itu kembali hidup bersama.

    Ide cerita seperti ini sudah banyak dipakai sebenarnya. Namun tak ada salahnya. Ide apa pun, sefamilier apa pun, selama kita bisa mengolahnya menjadi beda dan tak biasa, tentu akan bagus. Sayangnya, dalam hal ini, penulis perlu berlatih lebih jauh lagi untuk menjadi "beda" dan "tak biasa" meski memakai ide yang pasaran.

    Kekurangan cerpen ini adalah ketika ditemukannya mayat tersebut, pembaca sudah tidak yakin bahwa itu anak Rodiyah, Nina. Pembaca sudah bisa menebak arah cerita sehingga sepanjang apa pun cerpen ini, ending yang disiapkan jadi terasa sia-sia. Namun demikian, dengan berlatih dan terus berlatih, pengembangan cerita dan pengolahan alur, serta konflik yang matang, bisa membuat seorang penulis mengemas cerita menjadi tidak klise, tidak tertebak, dan pastinya tidak membosankan. Bukankah tidak ada sesuatu yang hebat terlahir secara instan? Maka, saran untuk penulis adalah teruslah berlatih.

    Kesalahan EyD, tanda baca, dan typo (salah ketik) banyak sekali ditemukan dalam cerita ini. Tim FAM tidak mendaftarkan satu per satu karena terlalu banyak. Untuk penulis diharapkan mengoreksi kembali tulisan ini dengan berpedoman pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Perhatikan ejaan mana yang tepat, juga bagaimana fungsi-fungsi tanda baca (terutama di kalimat-kalimat dialog) sehngga tulisan menjadi lebih rapi. Semakin rapi tulisan, semakin pembaca merasa nyaman. Bagaimana mungkin kita mengharapkan pembaca menikmati sajian yang disajikan secara berantakan dan asal-asalan, bukan?

    Pesan untuk penulis, tetaplah berlatih dan berlatih. Iringi aktivitas menulis Anda dengan membaca karya-karya berlkualitas dari penulis kenamaan (bisa dalam atau luar negeri). Dengan cara ini, ke depan diharapkan tulisan Anda akan bekermbang jauh lebih baik dari hari ini.

    Terus semangat.

    TIM FAM INDONESIA

    BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING

    WanitaKekal
    Karya: Hasan (IDFAM2900M)

    “ GUARRRRR!!!!!!!!!!.. GUARRRRRRR!!!!!!!!!!!!.. GUARRRRR!!!!!!...”

    “ GUARRRRRR!!!!!!!...... GUARRRRRR...!!!!!!!!!!!!!!!”

    Di tengah sayup-sayup keheningan malam, ketika anak-anak larut dalam buaian, warga desa Rawasari di gemparkan oleh bunyi petir yang bersahut-sahutan. Langit seakan mengamuk dan memecah cakrawala malam. Horizon yang tadinya dihiasi oleh sederetan bintang, perlahan-lahan  hilang dari pandangan dan tergantikan oleh sekumpulan awan hitam. Warga desa Rawasari lari ke luar rumah masing-masing untuk melihat apa yang sedang terjadi. Rasa khawatir terpancar jelas di wajah mereka di kala menyaksikan petir menari-nari di langit. Mereka bertanya-tanya apa  yang akan terjadi. Tiba-tiba angin pun berhembus tak seperti biasanya. Pohon-pohon mulai bergoyang bahkan ada yang sudah roboh. Hujan lebat pun turun membuat warga desa mulai panik. Mereka sesegera mungkin  mengumpulkan anggota keluarga mereka dan harta yang bisa di selamatkan. Hura-hara mulai  terdengar dimana-mana  wewarnai kepanikan mereka. Di tengah Kepanikan, salah satu warga, Rodiyah , sibuk mencari anak semata wayangnya. Kristal air mata pun mulai menggenangi pelupuk matanya, lantaran dia belum menemukan anaknya. Ia tak habis pikir, mengapa putrinya bisa hilang, padahal dia tidur bersamanya semalaman . 

    “Cepat  cari perlindungan, hujan semakin lebat !!!, ”ujar salah seorang warga sambil berlari.

    Walau petir , angin, dan hujan tengah mengacaukan desanya, Ibu yang berstatus janda  ini terus mencari putrinya. Penelusurannya  tidak jelas karena kerasnya angin dan hujan menghalangi pandangannya. Tiba-tiba peglihatannya  mulai kabur, kepalanya pening, dan apa-apa yang ada di sekitarnya tampak memudar. Rodiyah tersungkur di tanah tak sadarkan diri.

    Fajar pun mulai menyingsing, sang surya perlahan-lahan membuka matanya dan binatang-binatang pun keluar sarang menyambut datangnya pagi. Dunia pun kembali di hiasi oleh kicauan burung yang bertengger di dahan pohon. Desa Rawasari porak-poranda setelah di terpa angin kencang dan hujan lebat, seakan-akan Tuhan murka terhadapdesa itu. Walau tak ada yang kehilangan nyawa, tapi tak  sedikit warga yang luka berat dan hilang, termasuk Nina, Putri dari Rodiyah. 

    “Lagi dimana ini ??, ” ujar Rodiyah yang tampaknya sudah siuman.

    “  Ibu ada di posko pengungsian sekarang, ”ujar Pak Tamin, kepala desa Rawasari

    “  Anakku ada dimana ??, ”tanya Rodiyah khawatir

    “  Ibu tenang dulu, anak Ibu sementara di cari oleh warga desa, ”jawab Pria berperawakan tegap ini mencoba meyakinkan Rodiyah. 

    Tak ada sekilas pun senyuman yang menghiasi bibir wanita ini, kristal air mata kembali menghiasi pelupuk matanya. Ia pun menangis. Sebagai kepala desa yang prihatin terhadap keadaan warganya , Pak Tamin mencoba menenangkan Rodiyah sebisa mungkin. Tak hanya Rodiyah yang berduka atas peristiwa itu, tetapi  semua warga desa pun merasakan hal yang sama. Tak hanya anggota keluarga yang luka dan hilang, tetapi hewan ternak pun mati bergelimpangan.

    Tak terasa, 2 pekan pun berlalu. Peristiwa nan pilu  di malam sabtu, telah menyayat sanubari warga desa Rawasari. Mereka pun kembali ke desanya untuk memperbaiki kediamannya. Desa Rawasari yang dulunya di kenal sebagai desa hijau , rindang nan permai, kini hancur berantakan akibat ulah tarian 3 unsur alam. Pagi itu desa tak seperti biasanya, tak ada yang  bertani, tak ada yang  mencuci, dan tak ada satupun anak kecil yang bermain. Yang ada hanyalah suara palu dan gergaji. Warga sibuk memperbaiki rumahnya yang roboh. Di lain sisi, Rodiyah tampak bersandar pada batang pohon tumbang. Matanya yang tampak sayu terus menatap rumahnya yang rusak parah. Wanita berkulit kuning langsat ini tak bergerak sedikitpun di tempatnya bagaikan patung, nampaknya ada sesuatu yang merasuki pikirannya.

    “  Eh, Bu. Ngapain melamun disini ??,”tanya Pak Dirman menyapa

    “  Aku lagi mikirin anakku yang hilang, ”jawab Rodiyah sedikit serak.

    “  Sabar ya Bu, bukan hanya anak ibu yang hilang, tapi yang lain juga. Lagipula sebagian warga desa juga sedang mencari warga yang hilang, ”ujar duda ini menenangkan Rodiyah.

    “  Sabar ya sabar, tapi sampai kapan???, ”ujar Rodiyah setengah berteriak.

    Wanita yang sudah 5 tahun menjanda ini , seakan tidak menerima pernyataan Pak Dirman barusan. Sebuah pernyataan tentang prinsip hidup yang sangat klasik yang biasa terlintas di telinganya. Air matanya pun kembali tumpah. Tanpa sepatah kata, Rodiyah beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Pak Dirman seorang diri.

    “ Huftt...kasihan Rodiyah,”bisik Pak Dirman dalam hati sambil menghela nafas.

    Kini Rodiyah tak bisa berbuat apa-apa. Wanita ini terus berjalan lurus kedepan tanpa tujuan mengikuti arah jalan, tanpa menengok ke kiri ataupun ke kanan. Rodiyah tiba disuatu tempat yang sunyi . Tempat yang sedikit mengobati rasa pilunya. Tak ada sedikitpun suara manusia, hanya bunyi serangga pohon yang terdengar nyaring. Dia merebahkan tubuhnya di rumput nan hijau sambil menatap langit biru dengan tatapan kosong. Rasa iri sempat terbersit di benaknya ketika sekumpulan burung bangau melintas di atasnya. Rasa kekhawatiran terhadap putrinya tetap bersarang di memorinya. Beberapa saat kemudian, Ibu satu anak ini memutuskan  kembali ke desanya untuk membenahi rumahnya yang rusak berat.

    “ Ada mayat... ada mayat.. ada mayat !!! ,”teriak bu Siti sambil berlari

    Rodiyah mencoba mencari sumber suara itu. Rasa kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Tak lama kemudian, wanita ini melihat bu Siti menuju ke arahnya. Tak salah lagi, dia yang berteriak.

    “ Dimana ada mayat Bu ?, ”tanya Rodiyah menghalangi jalan bu Siti.

    “ Di.. di..di.. sungai Bu, ”jawab bu Siti mengatur nafas

    Tanpa menunggu pertanyaan Rodiyah lagi, Bu Siti kembali berlari sambil memberitahukan warga yang lain tentang hal ini. Hanya hitungan menit, warga desa kembali gempar. Mereka berbondong-bondong ke sungai sebagaimana yang diutarakan bu Siti. Tak mau tinggal diam,dengan cekatan, wanita ini juga menuju ke tempat yang sama. Sesampainya di sana, telah banyak warga lainnya yang mengerumuni mayat itu. Tak ada isak tangis yang terdengar . Nampaknya, tak ada seorang pun diantara mereka yang mengenali mayat itu. Rasa penasaran bercampur khawatir timbul di benak Rodiyah. Wanita tegar ini mencoba berdesak-deskan dengan warga lain demi ingin melihat mayat tersebut yang membuat heboh seisi kampung. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, mayat itu adalah seorang anak perempuan dengan rambut yang panjang. Walau wajahnya tak bisa lagi dikenali. Rodiyah yakin bahwa itu adalah putrinya. Dia langsung terduduk di depan mayat itu dan meraung sejadi-jadinya. Dia berteriak histeris seolah ingin melawan takdir. Dengan air mata yang hampir menetes, Bu Sinta, istri dari Pak Tamin mencoba menenangkan Rodiyah.

    “ Bibi yakin ini mayat Nina?,”tanya Juan, teman sepermainan Nina.

    “ Iya nak, Bibi sangat yakin,” jawab Rodiyah tersedu-sedu   

    “ Bagaimana kalau ini bukan anakmu,”tanya Pak Mahmud mencoba angkat bicara.

    “ Tidak mungkin ini bukan anakku. Aku ibunya, jelas aku tahu,” jawab Rodiyah dengan mata yang membengkak.

    “ Apa yang membuatmu yakin bahwa ini adalah anakmu?, ” tanya Bu Minah menyelidik.

    “ Semua yang ku lihat membuktikan ini adalah anakku !!!,”jawab Rodiyah dengan nada tinggi.

    “ Bagaimana kalau kita bawa mayat ini ke rumah sakit untuk diotopsi, ”ujar Pak Tamin

    “ Ndak usah Pak, itu membutuhkan banyak biaya,”ujar Bu Sari.

    “ Betul, sebaiknya kita urus saja mayat ini dengan layak, ”sambung Pak Dirman.

    Kepala desa pun pun mengangkat mayat itu yang diyakini adalah putri dari Rodiyah. Wanita itu masih tak bergerak di tempatnya, Rodiyah tak sanggup berdiri. Dia menjambak rumput yang ada di dekatnya dan memukul-mukul tanah. Ia hampir tak sadarkan diri. Beragam raut muka yang terpancar dari warga yang lain. Ada yang sangat prihatin, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang tidak peduli.

    Aroma kematian merebak di sepanjang jalan, mengiringi jenazah  yang di usung ke tempat peristirahatan terakhir. Prosesi pengurusan sampai pemakaman jenazah memakan waktu sampai malam hari. Rodiyah masih tak berhenti meneteskan air mata sedari tadi. 

    “ Ayo kita pulang Bu, sudah malam,”ujar Pak Tamin

    “ Aku masih mau disini, aku mau sendiri !!!, ”ujar Rodiyah terisak-isak memeluk kuburan anaknya.

    “ Kalau begitu, saya duluan ya Bu, ”ujar kepala desa itu lagi

    Wanita malang itu tak lagi menjawab. Pak Tamin pun melangkah di tengah deretan kuburan menuju ke rumahnya.

    Rembulan tergantikan oleh sinar mentari, semilir angin pagi itu seolah ingin protes terhadap rentetan peristiwa kelabu yang menimpa Rodiyah. Pagi itu, Wanita ini tampak lusu bagaikan orang putus harapan. Penampilannya pun tak teratur. Nampaknya dia terkena tekanan batin yang cukup hebat. Kalimat yang keluar dari bibirnya pun bisa dihitung jari. Setelah kepergian orang yang diyakini anaknya itu, Ia pun menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Rodiyah dulu yang di kenal sebagai wanita yang ramah dan baik budinya, sekarang berubah menjadi seorang wanita penyendiri. Hatinya bagaikan teriris pecahan kaca setelah beberapa kejadian malang yang menghinggapi hidupnya. Belum hilang rasanya pilu setelah di tinggal suaminya 5 tahun yang lalu, kini ia kembali di hadapkan pada sebuah kenyataan kelam. 

    Tak salah para pujangga ketika menyinggung konsepsi kehidupan lewat lantunan syair-syair dengan untaian kata yang membahana. Konsepsi hidup yang mengutarakan bahwa dalam samudera kehidupan tersanding dua buah kenyataan, manis dan pahit.

    Siang itu, Rodiyah hanya terbaring di ranjangnya beralaskan tikar yang sudah tua. Wanita ini terus menatap langit-langit rumahnya. Sekilas  di matanya tampak sosok Nina yang tersenyum kepadanya. Ingin rasanya lebih lama menatap sosok tersebut, tetapi dengan cepat, sosok itu hilang dari pandangannya. Ia menyadari bahwa yang ia lihat tadi, tak lebih dari sebuah ilusi.

    Rasa kantuk pun mulai menyerangnya. Nampaknya sebentar lagi Rodiyah akan melanglang ke dunia mimpi. Sesaat ketika hendak menutup mata, ia mendengar pintunya di ketuk oleh seseorang. Ia pun mengurungkan niatnya untuk tidur. Rodiyah pun bangkit dari pembaringannya dan pergi membuka pintu.

    “ Assalamu Alaikum Bi, ”ujar Noval memberi salam

    “ Waalaikum Salam,”balas Rodiyah

    “ Ayo masuk nak !,”ujar wanita ini mempersilahkan masuk.

    Ternyata yang datang adalah teman-teman sebaya dari Nina. Mereka merupakan tonggak masa depan bangsa yang patut diacuni jempol. Rasa sosial yang tinggi terpancar jelas dari aura mereka. Buktinya, mereka sangat prihatin akan kejadian ini, sampai-sampai mengunjungi kediaman Rodiyah. Mereka di persilahkan duduk di kursi rotan yang tampaknya agak reot.

    “ Ada perlu apa nak ke sini?, ”tanya Rodiyah membuka pembicaraan.

    “ Ini Bi, kami bawakan sedikit makanan, ”jawab Cindy sambil membuka bungkusan yang dibawanya.

    “ Oh. Makasih banyak nak. Kalian memang anak yang baik, ”ujar Rodiyah berkaca-kaca.

    “ Bagaimana keadaan Bibi sekarang ?,”tanya Sita.

    “ Bibi lagi kurang sehat, ”jawab Rodiyah.

    “ Bibi udah makan siang?, ”tanya Noval.

    “ Belum nak,”jawab wanita itu lagi.

    Tak hanya sekedar berkunjung, anak-anak ini juga memberikan kue kepada Rodiyah. Kue coklat bertabur kacang yang dihiasi meses disekelilingnya. Wanita ini baru tersadar bahwa dari kemarin, tak ada sedikitpun makanan yang masuk ke perutnya. Aroma kue itu pun tercium oleh Rodiyah, spontan wanita ini pun merasa sangat lapar.

    Tak butuh waktu yang lama, teman-teman sepermainan Nina pun berpamitan untuk pulang. Mereka tetap memberikan dukungan dan semangat kepada Rodiyah untuk tetap berikhtiar dan sabar dalam menghadapi peristiwa pahit ini.

    Cahaya merah  tampak di ufuk barat, matahari pun  menuju tempat peristirahatannya. Malam pun menyelimuti desa Rawasari. Malam itu, Rodiyah masih tidak menerima kenyataan yang ada. Kenyataan yang mengharuskan wanita ini hidup sebatang kara. Ia rindu kepada suaminya yang sempat menjadi kekasihnya dimasa muda dan ia pun rindu kepada putrinya yang dilahirkan 12 tahun yang lalu. Ingin rasanya ia menyusul 2 orang istimewa tersebut.

    Malam pun semakin larut, Rodiyah memutuskan untuk beristirahat. Dalam keadaan setengah sadar, Ia mendengar suara seperti ada yang memanggilnya. Ia sendiri bingung, apakah itu kenyataan ataukah ia sedang bermimpi. Rodiyah mencoba mendengar suara itu lagi secara seksama. Yah benar, ia tidak sedang bermimpi. Jika diperhatikan lagi, suara itu tampaknya berasal dari arah pintu. Dengan rasa penasaran yang bercampur ketakutan, wanita ini mencoba bangkit dari tempatnya menuju pintu rumah. Terlintas sedikit keraguan di hatinya ketika  hendak membuka pintu, lantaran suara itu tak terdengar lagi. Perlahan-lahan wanita ini pun membuka pintu rumahnya. Rodiyah tercengang melihat seseorang yang berdiri di depannya, dia terkejut bukan main karena ternyata putrinya kembali ke rumah. Seribu pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya, mengapa fenomena ini bisa terjadi. Ia masih heran, apakah dia hantu ataukah memang Nina masih hidup.

    “ Ini Nina Bu, maaf Nina baru pulang , Nina masih hidup,”ujar Nina berkaca-kaca.

    Rodiyah pun langsung memeluk anaknya itu. Rasa syukurnya tak terlukiskan. Dia bagaikan mendapat suatu mukjizat. Isak tangis pun mewarnai pertemuan antara ibu dan anak itu. Rodiyah dan warga lain sudah yakin bahwa ia telah tiada, padahal kenyataan berkata sebaliknya. Dia sangat mengasihi putrinya itu karena Nina lah harta satu-satunya yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya.

    “ Nah.. itu dulu cerita nenek waktu mamamu masih anak-anak,”ujar Rodiyah kepada cucunya.

    “  Tapi mama Falhan selem dech, ”ujar Farhan kepada neneknya.

    “ Seram kenapa Farhan ?, ”tanya Rodiyah sambil mengelus-elus kepala cucunya.

    “ Mama Falhan dikilain hantu, ” jawab Farhan memperlihatkan pipi tembemnya.

    “ Hahahah.. tapi mama Farhan nyata kan,”ujar Rodiyah tertawa

    “ Iya sih nek, ”ujar Farhan

    “ Eh Farhan, jangan nakal yah sayang sama mama kamu, ”ujar wanita tua ini menasehati.

    “ Iya Nek, Falhan nggak akan nakal sama mama Falhan, ”ujar Farhan lagi.

    “ Gitu donkk. Itu baru cucu nenek, ”ujar Rodiyah mencubit pipi Farhan.

    “ Hoamm...., Falhan ngantuk Nek, Falhan tidul dulu yach, ”ujar Farhan mengucek matanya.

    “  Ingat jangan bandel sama mama kamu, mama Farhan sayang sama Farhan,”ujar Wanita itu lagi.

    “  Siap Komandan!!, ”ujar Farhan di depan neneknya.

    “ Huftt... serasa kembali ke masa lalu ketika mengingat peristiwa itu,”guman Rodiyah dalam hati.

    Anak ini Pun berlari ke kamar Ibunya untuk tidur. Rodiyah senang bisa memberikan pendidikan dini kepada cucunya. Pendidikan yang merujuk kepada menghormati orang tua khususnya Ibu. Menurutnya, anak kecil layaknya kertas putih yang belum pernah tersentuh pena. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk melukis nilai-nilai luhur kehidupan dipikiran cucunya itu. Lewat ceritanya, ia seakan membawa Farhan kembali ke masa lalu. Kisah kelamnya di masa lampau dijadikannya refleksi kepada Farhan tentang betapa berharganya seorang ibu. Ibu adalah sesosok manusia yang diibaratkan sebagai Tuhan kedua. Manusia luar biasa yang senantiasa menyanyangi anaknya. Maka dari itu,  sepantasnyalah ibu  menyandang predikat “Wanita Kekal”. Kekal di hati anaknya, begitupula anak tentunya kekal di hati ibunya. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Wanita Kekal" Karya Hasan (FAMili Gowa, Sulsel) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top