• Info Terkini

    Monday, April 11, 2016

    Catatan Dibuang Sayang: Yang Tertinggal dari Milad ke-4 FAM Indonesia

    Lihar Amin (memakai kaos putih bertuliskan "I Love FAM")
    Oleh: Lihar Amin

    SELASA, 1 Maret 2016, saya berangkat dari Surabaya menuju Pare, Kediri, bersama Ketum Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Muhammad Subhan, setelah menjemput beliau di Bandar Udara Internasional Juanda di Sidoarjo. Hari sudah malam, sebab Bang Subhan—demikian saya akrab menyapa—turun dari pesawat di saat jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. 

    Setelah mengemasi bagasi, Bang Subhan keluar di terminal kedatangan, kami bersalaman dengan akrab, dan bercengkerama sejenak. Tak lama kemudian, Bang Subhan menelepon sopir travel yang menjemput beliau, dan malam itu, sekitar pukul 22.00, mobil yang membawa kami membelah Kota Surabaya, terus ke Pare, dan tiba pukul 01.30, dini hari.

    Di perjalanan ke Pare, sebelumnya mobil yang kami tumpangi sempat singgah di Mojokerto, rehat sejenak, menikmati makan malam, walau malam sudah sangat larut. “Lumayan capek dan lapar, kita makan sebentar ya,” ajak Bang Subhan. 

    Setiba di Pare, malam itu, kami menginap di sebuah penginapan di tengah Kota Pare, di pemukiman Kampung Inggris yang terkenal itu. Walau tidur hanya beberapa jam, namun lelah terbayar sudah. Dan, esoknya, Rabu, 2 Maret 2016, kami berkemas, terus ke kantor pusat FAM Indonesia di Jalan Mayor Bismo, No. 28, Tertek, Pare, yang di pagi itu telah ramai oleh Tim FAM Indonesia yang mempersiapkan acara syukuran 4 tahun FAM Indonesia. 

    Kedatangan saya ke kantor FAM adalah kali kedua, setelah tahun lalu saya sempat singgah di kantor ini, berdiskusi dengan Mbak Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia dan Tim FAM lainnya yang ramah-ramah. Saya bersyukur dapat berkunjung kembali, dan kali ini tidak sendiri, melainkan bersama Bang Subhan, Ketum FAM Indonesia yang juga orang kampung saya; Aceh.

    Tepat pukul 13.00 WIB, sesudah salat Zuhur, tibalah acara puncak Milad FAM Indonesia. Selain syukuran dan doa bersama, Tim FAM menyiapkan tumpeng yang dipotong dan dibagi-bagikan kepada peserta Milad. Sekitar 50-an tamu datang menghadiri acara itu. Mereka datang dari seputaran Pare, Kediri, Jombang, Tulungagung, Surabaya dan daerah-daerah sekitarnya. 

    Selain syukuran, hari itu juga diadakan bedah novel “Senyum Gadis Bell’s Palsy karya Mbak Aliya Nurlela dengan pembahas Bapak Suprapno (Tulungagung) dan Ibu Arifa (Kediri). Bang Subhan juga tampil sebagai narasumber. Ada tanya jawab, ada hadiah doorprize buat peserta. Saya berkesempatan menjadi tukang kodak; jepret sana sini. Hari itu, bukan sekadar syukuran, tapi juga rasa kekeluargaan juga terlihat, apalagi ada makan bersama dan foto bersama.

    Esoknya, Kamis, 5 Maret 2016, FAM Indonesia diundang ke dua tempat. Pertama ke SMA Muhammdiyah 1 Babat Lamongan untuk memberikan motivasi kepenulisan kepada beberapa siswa yang berprestasi dalam bidang Karya Ilmiah. Motivasi ini langsung disampaikan Bang Subhan, meskipun hanya sebentar saja sebab harus melakkukan perjalanan yang lain, tetapi siswa sangat antusias menyimak pemaparan atau materi yang disampaikan Bang Subhan.

    Seusai dari SMA Muhammadiyah, tim FAM Indonesia yang didampingi Pak Fathurrahim yang juga Koordinator FAM Lamongan, meneruskan perjalanan ke Pondok Pesantren Al-Ishlah yang dipimpin KH. Muhammad Dawam Saleh. Ponpes itu terletak di Kecamatan Paciran, Sendangagung, Lamongan. Begitu Tim FAM datang, di Ponpes yang berdiri sejak tahun 1987 itu, tim FAM langsung disambut sang Pendiri dan Pimpinan Pondok, penuh suasana kekeluargaan.

    Setelah berbincang-bincang dan mengutarakan maksud kedatangan, Tim FAM sempat foto bersama dengan Kyai yang pernah mondok di Pesantren Gontor itu. Tim FAM juga mendapatkan buku karya beliau yang kebetulan juga seorang penulis dan penyair. 

    Tim FAM pada kesempatan itu menjadi narasumber Seminar Menulis dengan peserta 200-an santri putra putri, dan acara berlangsung di aula Pesantren. Seminar itu berlangsung seru. Antusias para peserta mengalahkan waktu yang ketika itu terasa singkat dan hampir magrib. Acara dipandu Azizah, santri Ponpes Al-Ishlah yang juga penulis sejumlah buku. Seminar itu di akhiri dengan tanya jawab dan pemberian hadiah kepada mereka yang berhasil menjawab pertanyaan. 

    Yang paling berkesan selama perayaan Milad FAM Indonesia yang saya ikuti, adalah rasa kekeluargaan antar sesama Tim FAM Indonesia dan seluruh anggota. Hampir tidak ada jarak, meskipun saya secara pribadi adalah tahun pertama ikut terlibat dalam Milad, tetapi saya merasa betah dan tidak canggung sama sekali. Inilah yang sebenarnya membuat saya berat meninggalkan kantor FAM dan kembali ke Surabaya. Bagi saya, kantor FAM sudah seperti rumah dan keluarga sendiri. Kekompakan seperti itu akan membuat pekerjaan semakin mudah bisa diselesaikan karena mengutamakan komunikasi. Saya berharap, hal itu akan ada terus-menerus dan menjadi tradisi di FAM Indonesia. 

    Selama mengikuti kegiatan FAM, saya sangat bersyukur sekali karena dapat ilmu baru bagaimana menjadi seorang penulis dan cara menerbitkan buku. Hal serupa memang pernah saya dapatkan dari internet. Tetapi rasanya kurang sempurna karena sangat beda penjelasan antara yang kita baca dan penjelasan secara langsung dari penulis. FAM sejauh ini sudah memberikan kontribusinya kepada insan penulis, ke depannya FAM ada di seluruh pelosok Nusantara. Sehingga akan lahir novelis dan cerpenis yang bisa bersaing dengan penulis lain.  

    FAM itu adalah salah satu komunitas penulis ‘modern’ karena tidak memilih siapa calon penulis. Akan tetapi siapa yang bisa dan mau menulis, FAM akan merangkulnya sehingga bisa langsung menerbitkan buku di FAM Publishing, divisi penerbitan FAM Indonesia. Sejauh ini, keterlibatan FAM dalam “Dunia Kepenulisan” di Indonesia sudah sangat bagus. Dan, ke depan, saya berharap semakin bagus; mendunia. Semoga. (*)

    LIHAR AMIN. Mahasiswa Semester Akhir Universitas Sunan Giri (UNSURI) Surabaya dan saat ini sedang menyelesaikan naskah “Buku Pintar Indonesia dan Dunia”.

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Catatan Dibuang Sayang: Yang Tertinggal dari Milad ke-4 FAM Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top