• Info Terkini

    Sunday, April 10, 2016

    ‘Senyum Terakhir Siti Sarah’ Memoar Guru Bergaya Cerpen

    Oleh Sadri Ondang Jaya

    Dalam beberapa tahun terakhir ini, hasil karya para sastrawan dan penulis Aceh tidak saja nongol di surat kabar dan media sosial. Melainkan mulai banyak muncul dalam bentuk buku.

    Terhitung Februari lalu, satu lagi buku karya penulis dan sastrawan Aceh diterbitkan. Buku itu, diberi titel “Senyum Terakhir Siti Sara”.

    Setelah buku“dikuliti”dan ditelusur, buku kumpulan Cerpen setebal 161 halaman ini,  mengisahkan tentang cinta dan prolematika hidup seorang guru yang begitu sabar, ikhlas, dan tawakal dalam menghadapi hidup.

    Terutama kisah suka dukanya dalam mendidik, mengajar, membina, membimbing, dan mengarahkan siswanya hingga menggapai sukses.

    Di sini juga diungkapkan dengan gamblang hubungan ayah dengan anak, dengan isteri, dan dengan masyarakat sekelilingnya yang notabene sosok ayah itu, seorang guru.

    Tak ayal, tiga kompetensi yang dimiliki guru, seperti, kompetensi pedagogik, sosial, profesional, dan kepribadian, sangat  sempurna dipaparkan oleh tokoh-tokoh dalam tujuh judul cerpen yang sangat memotivasi, mencerahkan, dan menggerakkan ini.

    Sehingga buku ini, layak dibaca karena sangat menginspirasi dan mengedukasi. Apalagi, kalau dibaca oleh seorang guru. Sunggu mengenakan dan mengasyikan. Karena tema, latar, dan settingnya lebih banyak di sekolah dan “berbau”pendidikan.

    Namun, jika ditelaah cerita yang ditulis dalam buku ini, bukan tanpa kelemahan. Dalam buku ini ditemukan, kepribadian dan perilaku sosok guru sebagai suami, sebagai seorang ayah, dan sebagai anggota masyarakat yang terlalu normatif dan ada cerita yang belum tertuntaskan.

    Norma-norma itu pun, dalam cerpen ini, terkesan dipaksakan. Akibatnya, menghilangkan fakta-fakta dan logika-logika yang ada lingkungan masyarakat. Inilah yang membuat penikmat “bosan” membacanya.

    Disadari memang, kisah-kisah ini, ditulis oleh seorang guru. Sehingga perilaku “keguruannya”yang sangat normatif, tercermin dalam cerita. Karena itu, kumpulan Cerpen ini bisa dinamakan semacam buku memoar guru yang dikemas dengan gaya cerpen.

    Ya, tak bisa dibantah. penulis cerpen di samping seorang sastrawan juga seorang guru senior yang sudah malang melintang dalam dunia tulis menulis dan pengajar. Sang sastrawan dan guru itu bernama: Bussairi D. Nyak Diwa. (*)

    Sumber: ACEHTREND.co

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: ‘Senyum Terakhir Siti Sarah’ Memoar Guru Bergaya Cerpen Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top