• Info Terkini

    Tuesday, April 5, 2016

    Yuk, Berpetualang di Dunia Fiksi

    NET
    BAGI kamu yang suka menulis fiksi; cerpen, puisi, novel, roman atau drama, yuk berpetualang memasuki dunianya. Di dunia fiksi kamu akan menemukan hal yang mustahil menjadi mungkin, yang sulit menjadi mudah dan yang tidak terjangkau jadi terjangkau. Kamu akan menemukan keasyikkan setelah benar-benar memasuki dunia itu dan menyelam di dalamnya. Bahkan, tak menutup kemungkinan, kamu tidak mau pulang kembali ke dunia nyata, karena di dunia fiksi kamu bisa meraih impianmu yang di dunia nyata sama sekali belum teraih. 

    Kok bisa? Bisa! Tak ada “hil” yang “mustahal”, he-he. 

    Oke, pertama, kamu harus tumbuhkan dulu rasa penasaranmu alias rasa ingin tahu. Orang yang serius, selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar. Penasaran tingkat dewa, Bro! Kalau rasa penasaranmu masih biasa-biasa, datar-datar, bahkan terkesan ogah-ogahan, ah... lupakan saja untuk memasuki dunia fiksi! Nah, rasa penasaran itu penting karena itu modal awal untuk memudahkanmu memasuki dunia yang baru. Berbekal rasa penasaran tersebut akan timbul dorongan dari diri kamu untuk mengetahui lebih jauh; apa sih fiksi? 

    Pertanyaan-pertanyaan itu akan otomatis mampir di benakmu. Ke manapun kamu pergi pertanyaan itu ikut terus, seperti hantu bergentayangan yang berusaha menggodamu. Sebelum pertanyaan itu terpecahkan, kamu merasa ada sesuatu yang gamang, belum lengkap, gelisah, cemas dan ingin dapat jawaban. Dari sana kamu akan terdorong untuk bertanya pada siapa saja yang menurutmu layak ditanya. Tidak cukup satu jawaban, rasa penasaranmu akan terus mendorong kamu untuk bertanya dan bertanya lagi. Ibarat musafir yang kehausan di tengah gurun pasir, begitu menemukan air, ia akan minum sepuasnya, hingga dahaganya hilang. Tak terkecuali kamu akan berselancar di dunia maya; lewat bantuan Mas Facebook, Mas Email, dan kakeknya Mas-mas tersebut yaitu Mbah Google. Jreng! Kamu menemukan jawaban!

    Jawabannya; fiksi adalah cerita rekaan atau khayalan. Karya fiksi berupa hasil olah imajinasi pengarang yang biasanya diwarnai oleh kultur, pengalaman batin, filosofi, pendidikan, religiusitas dan latar belakang pengarang lainnya. Karya fiksi bersifat fiktif, artinya karya tersebut adalah hasil kreativitas dari ide/gagasan pengarang yang tertuang secara artistik dan intens. Namun, walaupun bersifat fiktif, karya fiksi memiliki kebenaran faktual, misal yang bertema; ketimpangan sosial, keserakahan, kemiskinan, kebobrokan moral, dan lainnya. 

    Oke, rasa penasaranmu sudah terjawab. Selamat! Sekarang kita melangkah ke gerbangnya. Jangan lupa, bawa peralatan yang mendukung, meskipun hanya berupa catatan kecil dan sebuah pena. Peralatan itu akan sangat membantumu saat berpetualang. Tanpa peralatan yang memadai, kamu akan dibuat repot sendiri, sebab memori otakmu terbatas. Bisa-bisa apa yang kamu lihat di dunia fiksi, menguap begitu saja saat kamu keluar dari sana. Jangan minder dibilang “kuno” atau “ketinggalan zaman”, fokus saja pada tekad dan fasilitas yang kamu miliki. Yang penting kemauanmu kuat dan merasa enjoy dengan caramu. Kamu adalah kamu, bukan mereka. Disebut “kuno” atau “ketinggalan zaman” tidak masalah, yang penting cara berpikirmu maju (ingin berkembang), daripada “modern” tapi cara berpikirnya terbelakang. Tralala, yuk kita masuk!

    Lihat, kamu sudah berada di dunia fiksi. Keluarkan catatan kecil dan penamu. Bangkitkan rasa penasaranmu dan hidupkan daya imajinasimu. Berimajinasilah tanpa batas. Jangan takut disebut “nyeleneh”! Justru kalau kamu tidak “nyeleneh”, petualanganmu akan sia-sia. Berekspresilah sebebas-bebasnya! 

    Coba kamu hirup udara, rasakan segarnya dan embuskan kembali. Kamu hayati dengan memejamkan mata dan pikiran yang fokus, pasti kamu akan menemukan ketenangan dari kejadian sesaat itu. Nah, buka mata perlahan, lihat sekeliling dunia fiksi dan pandang dengan rasa penuh keingintahuan. Ada daun-daun hijau, daun setengah kuning, daun hampir gugur dan sebagian daun yang menari-nari di udara tertiup angin. Ada rumput-rumput basah yang tersapu embun, mentari yang keluar malu-malu dan angin yang semilir menyibak rambutmu. Nun jauh di sana, ada sepasang angsa yang sedang berenang. Bulunya putih dan paruhnya kuning. Elok sekali. Apa yang tersirat di benakmu? Cepat tuliskan di buku catatan kecilmu! Terserah nulis apa saja yang terpikir saat itu, jangan lupa libatkan perasaanmu. Lebay sedikit, tidak masalah, yang penting jadi tulisan dulu, meskipun tulisan sangat pendek. So, berimajinasilah!

    “Sepasang angsa berbulu putih yang berenang di kolam dengan cantik, menarik ingatanku padamu. Andai, itu adalah aku dan kamu. Hmmm...pipiku bersemu merah.” 

    Lebay? No problem!

    Di dunia nyata, kamu baru saja patah hati atau disakiti, tapi di dunia fiksi kamu bisa jadi tokoh yang sangat bahagia; sedang jatuh cinta dan hatimu berbunga-bunga. Di dunia nyata, kamu tidak memiliki orangtua yang lengkap, tapi di dunia fiksi kamu bisa menjelma jadi tokoh yang memiliki keluarga utuh. Di dunia nyata, kamu orang yang pendiam dan introvert, tapi di dunia fiksi kamu tiba-tiba jadi tokoh yang supel, banyak bicara dan disenangi banyak orang. Di dunia nyata, kamu “nggak laku-laku”, tapi di dunia fiksi kamu jadi idola. Di dunia nyata kamu memiliki keterbatasan (kekurangan), tapi di dunia fiksi kamu orang yang hebat (memiliki kelebihan). Di dunia nyata kamu “nggak bisa ngaji”, ke masjid aja jarang, eh... di dunia fiksi kamu jadi ustad. Di dunia nyata kamu dianggap tidak cantik, tapi di dunia fiksi kamu bisa jadi puteri cantik jelita bak puteri kahyangan yang turun ke bumi menjadi rebutan para pangeran. Di dunia nyata, semua impianmu gagal alias belum ada yang teraih, tapi di dunia fiksi kamu hadir jadi orang yang berada di puncak kesuksesan. Di dunia nyata kamu sakit yang menahun tapi di dunia fiksi, justru kamu sehat wal afiat, gagah, berbadan kekar dan jadi duta kesehatan di kotamu. Kok bisa? Sangat bisa, sebab fiksi adalah rekaan, hasil imajinasi pengarang. 

    Dunia fiksi sangat menyenangkan, membawamu berpetualang di ruang imajinasi. Tenggelam bersama majas-majas. Berpeluh-peluh dengan diksi dan berenang-renang bersama kosa kata yang asing. Namun di satu sisi, kamu berjibaku dengan amanat/pesan, sebab sehebat/seindah apa pun gaya bahasa dalam karya fiksimu akan menjadi garing tanpa pesan yang berarti. Kebenaran fiksi bersifat relatif, bahasanya konotatif, tidak memiliki sistematika yang baku, sasaran emosi (perasaan) pembaca dan memiliki pesan moral tertentu. Itulah fiksi!

    So, lanjutkan berpetualang! Ini baru permulaan, belum mencapai kedalaman, yang penting kamu senang dulu dan bisa menuangkan rasa senang itu. Bisa memandang bulan, yang tidak sekadar ditulis “bulan” tapi kamu bisa memberi sentuhan lain, mengolahnya lebih menarik dan terasa “fiksinya.” Selamat menulis! (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Permisi kakak. Saya baru belajar nulis novel di http://novel.id nih. Hehe.
      Coba cek tulisan saya yaa. Mohon koreksinyaaa… :')
      Judulnya Boku no Mirai

      Untuk bab 1-11, bisa dilihat disini : http://novel.id/c/ypung-adult/boku-no-mirai
      Dan ini untuk bab 12-19 :
      http://novel.id/t/bab-12-perasaan-yang-sama/7432
      http://novel.id/t/bab-13-arti-air-mata-lelaki/7458
      http://novel.id/t/bab-14-goodbye/7535/1
      http://novel.id/t/bab-15-mencintai-kehilangan/7579
      http://novel.id/t/bab-16-maaf/7615
      http://novel.id/t/bab-17-ujian-yang-mendebarkan/7637/1
      http://novel.id/t/bab-18-im-home/7683/1
      http://novel.id/t/bab-19-setelah-sekian-lama/7717

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Yuk, Berpetualang di Dunia Fiksi Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top