Skip to main content

Ayah, di Bahumu Aku Bersandar

Judul : Ayah, di Bahumu Aku Bersandar 
Penulis : 60 Penulis Nusantara
Kategori : Buku Puisi
ISBN : 978-602-335-320-6
Terbit : Mei 2016
Tebal : 198 hlm ; 14 x 20 cm
Harga : Rp45.000,- 
(Harga belum termasuk Ongkir)

Adinda A. T, Adrean, Ahmad Syaifudin Setiawan, Afian Daniswara, Amelia Rosan, Andika Ahmad Bimantoro, Anita, Asmainda Sy, Ayu Andira Bako, Cut Nur Aini, Delli Ridha Hayati, Dian Restu Agustina, Dinni Ariska, Eka Febriani, Eka Nur Kusuma, Fatmawati Latif, Fauzi Rohmah, Fedora Devena, Diogitta Koerniawan, Hery Nasiki, Hidayati Desy, Indah Putri Agustina, Istiazzah Robbaniah, Khozainah Rahmah, Kurnia Amirullah, Kurnia, M. Syukri, Mahdalena, Marzuli Ridwan Al-Bantany, Meike Sumeler, Meilan Arsanti, Melia Delpi Putri, Muhammad Rifqi Ainun Najib, Naela Khusna Faela Shufa, Najah Khoiriyyah, Ngatmiyatun, S.Pd, Nikmatullah Hidayani, Nova, Nurjanatul Agnia, Nurlita Amril Zain, Nursyamsi, Ramadhan Hidayat, Rezi Azwar, Rhisma Hilda Prawita, Salman Yoga S, Santi Kurnia Putri, Sarah Nurmar’atus Solihah, Sasmita Laila Kurnia Sari, Septia Dwi Jayani, Soeryadarma Isman, Supriyono, Syafiatul Fitriyah, Syifa Rahmayani, Tajuddin Noor Ganie, Tri Hartini, Ucu Mujahidah, Umi Nurjannah, Walrina, Win Ansar, Winda Anggraeni, Zuniaty Zahara.

Antologi puisi “Ayah, di Bahumu Aku Bersandar” berisi 120 puisi karya 60 penulis Indonesia. Melalui puisi-puisi ini, kita belajar sekaligus mengenang tentang arti seorang ayah. Ia mungkin keras, tegas, kaku sebagaimana “gelar” yang sering ditempelkan padanya, tetapi ia juga bisa selembut ibu di dalam (baca: hati) sebagai tempat bersandar anak-anaknya.

Melalui buku ini, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia melalui divisi penerbitannya, FAM Publishing berharap “menyimpan” jejak para penulis khusus untuk ayah-ayah mereka. Di sisi lain juga berharap agar pembaca turut menyerap manfaat dan belajar dari perjuangan dan keberadaan Ayah di hidup ini.

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi Cal Centre: 0812 5982 1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com. 

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…