Skip to main content

Berguru pada Waktu

Judul: Berguru Pada Waktu
Penulis: Agus Salim
Kategori: Buku Non Fiksi
ISBN: 978-602-335-063-6
Terbit: Mei 2015
Tebal: 216 hlm ; 14 x 20 cm
Harga: Rp 40.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. (Terjemah QS. Al-‘Ashr 103 : 1-3).

Berbicara tentang waktu, cukup bagi kita untuk membaca, memahami, merenungkan, lalu mengamalkan kalamullah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tentu bagi yang menyadari, bahwa Allah itu Pencipta alam semesta dan yang membatasi atau mengikannya dengan waktu-ajal. Ya pada hakekatnya semua akan binasa pada waktu yang telah ditetapkannya-Tidak bisa ditunda dan tidak bisa dimajukan, walau sesaat.

Oleh karena itu celakalah bagi mereka orang-orang yang menyia-nyiakan waktu. Dan demikianlah kebanyakan orang, kecuali sebagaimana yang termaktub dalam Q.S Al-Ashr 103 tersebut. Kenapa? Sebab mereka telah memiliki kesadaran waktu itu milik Allah, waktu dunia itu sementara, dan waktu akhirat itu selamanya. Sehingga mereka akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Bukankah dunia itu ladang akhirat? Sehingga kesetaraan waktu di dunia ini tidak akan digunakan larut dalam kemaksiatan, namun akan digunakan larut dalam ketaatan.

Semoga kita bisa selalu belajar dan memetik hikmah dari setiap perjalanan sehingga menjadi orang yang bermanfaat. Oleh karena itu ikatlah setiap perjalanan itu dalam sebuah “catatan” walau sederhana, sebagai sarana untuk instropeksi diri dan menginspirasi saudara kita agar senantiasa berusaha mengabdi dan berbakti pada-Nya jua. Selamat “ Beguru pada Waktu” dan semoga bermanfaat. Amin.

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi Cal Centre: 0812 5982 1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…