Skip to main content

Kelinci Percobaan K-13

Judul : Kelinci Percobaan K-13
Penulis : Ryan P. Putra
Kategori : Buku Non Fiksi
ISBN : 978-602-335-125-1
Terbit : Maret 2016
Tebal : 117 hlm ; 14 x 20 cm
Harga : Rp32.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)
Buku ini bukan sekedar curhatan penulisnya. Pengungkapan realita yang ditemui penulis selama menjadi pelajar SMA namun dikemas dalam bahasa anak muda metropolitan bertujuan untuk membangun sensitivitas dan kepedulian mereka yang selama ini identik dengan hedonisme. 
~ Yudha Prima, Koordinator FAM Surabaya
Penulisan K-13 yang dijalani atau dialami langsung oleh penulis ditulis dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami. Sangatlah membantu pembaca pada umumnya dan pelajar khususnya dalam mengenal dan memahami K-13. 
~Sri Utami, S.Pd.,M.Si., Koordinator BK SMA Negeri 4 Surabaya
Baru kali ini selama menjadi guru sejak tahun 1992, ada 2 macam kurikulum yang dipakai pada satuan pendidikan di era yang sama dan ada di Indonesia. Kalau penulis merasa sebagai kelinci percobaan, maka guru sebagai pelakasana di sekolah merasa menjadi korban yang Gak Jelas Banget (GJB), Bok!!
~Meitasari, Guru Sejarah SMA Negeri 4 Surabaya
Serupa rujak, K-13 berhasil mewarnai hidup siswa SMA lulusan 2016. Ada asam, pedas, manis, bahkan asin! Tapi tunggu sob, inilah yang berbeda dan menjadi tantangan. Kita punya cerita berbeda untuk nantinya dikisahkan pada anak cucu kita. Begitu juga buku ini, menjadi pedoman yang pas bagi kamu yang kepo sama K-13. 
~Billy Brilliant, Siswa K-13 dan Ketua Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI) 2015
Penulis benar-benar mewakili kalangan remaja pelajar dari segi isi, cara bertutur kata maupun cara berbahasa. Penulis secara aktif mengolah data dan fakta di sekitarnya kemudian mengemasnya secara apik dalam gaya bercerita yang segar dan cocok dibaca oleh kalangan remaja. 
~Vina Nurziani, Siswa K-13 dan Anggota Komunitas Menulis Perempuan Indonesia


Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi Cal Centre: 0812 5982 1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com. 

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…