Skip to main content

Launching FAM Goes to Campus/School & Divisi Perempuan FAM Indonesia




Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia meluncurkan FAM Goes to Campus/School & Divisi Perempuan FAM Indonesia, Sabtu (30/4) di Aula STAIN Kediri. FAM Goes to Campus & School merupakan gerakan literasi FAM Indonesia bekerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di daerah.

Sementara Divisi Perempuan merupakan divisi khusus yang dibentuk FAM Indonesia sebagai wadah diskusi dan berbagi ilmu kewirausahaan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang aktif dan kreatif.

“FAM Goes to Campus & School sejalan dengan tujuan FAM Indonesia sebagai wadah menyebarkan semangat cinta menulis di kalangan generasi muda serta membina anak-anak bangsa untuk gemar menulis dan membaca buku,” tambah Aliya Nurlela.

Acara peluncuran tersebut diisi dengan menggelar Lomba Baca Puisi tingkat Pelajar SLTP/SLTA se-Kabupaten Kediri. Lomba diikuti puluhan siswa SLTP dan SLTA se-Kabupaten Kediri. Juri mengundang Nur Habib (Penyair, staf pengajar, pendiri Komunitas Cekakik) dan Eko Prasetyo (Jurnalis dan Penulis).

Terpilih 3 pemenang yang berhak mendapat hadiah dari FAM Indonesia berupa; uang pembinaan, trophy, paket buku dan piagam penghargaan. Inthesa Nurseptiana, dari Madrasah Tsanawiyah Swasta Ma’arif Pare Kediri, dinobatkan sebagai juara pertama. Di urutan kedua diraih Elma Ardelia F, siswi SMP Negeri 3 Kediri, dan Juara 3 Siti Nur Ainin M, siswi MA Ma’arif NU Kepung.

Selain lomba baca puisi, acara diisi dengan Talkshow Kepenulisan dengan narasumber Aliya Nurlela (Novelis & Pegiat FAM Indonesia) dan Eko Prasetyo (Jurnalis & Penulis). Talkshow dimoderatori Yudha Prima, Koordinator FAM Cabang Surabaya.

Ketua Panitia sekaligus Koordinator Divisi Perempuan FAM Indonesia, Arifa Sulandhari, mengatakan, acara itu diikuti 100-an peserta yang terdiri dari siswa, mahasiswa, guru, dosen dan masyarakat umum lainnya.

“Pihak sekolah sangat antusias mengirimkan perwakilannya, namun karena waktu, jumlah peserta lomba kita batasi,” ujarnya.

Seusai acara FAM Indonesia menyumbang sejumlah buku kepada Perpustakaan STAIN Kediri dan diterima Kepala Perpustakaan, Komarudin. Kepada peserta FAM Indonesia memberikan doorprize.

“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada STAIN Kediri, UKM Jurnalistik STAIN, Elfast Course Pare, Mahesa Institute Pare, sekolah dan kampus di Kediri, dan pihak-pihak lain yang ikut berpartisipasi menyukseskan acara ini,” tambah Aliya Nurlela. [FAM]


Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…