• Info Terkini

    Senin, 09 Mei 2016

    Mengolah Konflik Itu Asyik

    Siapa sih yang ingin hidup di tengah konflik? Semua orang menginginkan hidup tenang, nyaman dan damai. Termasuk kamu, tentunya. Konflik membuat hidup gelisah, cemas, tidak tenang dan perasaan-perasaan lainnya yang melemahkan gairah. Apalagi kalau konflik itu berlangsung terus-menerus. Bisa-bisa kamu stres dan menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Entah menyepi ke gua atau ke gunung yang tinggi, he-he.

    Tapi tahukah kamu, konflik yang kamu benci itu ternyata amat berguna. Bermacam konflik yang timbul dalam kehidupan adalah penyumbang inspirasi dalam berkarya (menulis cerita). Berkat konflik-konflik yang terjadi di sekitarmu, kamu diuntungkan, mendapat ide berserak yang gratisan. Tinggal pungut, olah dan tulis. Keren, bukan?

    So, jangan buru-buru meradang ketika kamu enggak setuju dengan aturan orangtua yang menyita laptopmu saat menghadapi ujian. Terus kamu mencak-mencak dan mengancam tidak akan belajar. Atau sikap yang lebih ekstrem, mogok makan berhari-hari.

    Serius kamu kuat? Emosimu pasti kuat, tapi ingat perutmu itu, Guys! Perutmu tak sekuat emosimu, camkan, titik!

    Berterimakasihlah pada konflik. Tanpa konflik, karya sastra (seperti novel atau cerpen) tidak akan hidup; garing, hambar, datar dan tidak indah. Tanpa ada keseruan dan puncak cerita, sebab si tokoh hidup aman, damai, sentosa. Pembaca hanya disuguhi ketenangan dari awal hingga akhir cerita, tanpa ada ketegangan sedikit pun.

    Satu contoh begini, ada seorang tokoh cerita yang memiliki banyak impian. Dalam perjalanan hidupnya, satu persatu impian tercapai dengan mudah. Tanpa halangan sama sekali. Tanpa kegagalan. Prestasi si tokoh selalu baik, berderet piala, bejibun piagam penghargaan, bertabur sanjungan dan berlimpah materi. Semua orang menyukainya. Dia idola untuk semua kalangan; tua-muda. Ending cerita, ia hidup bahagia mendapat jodoh lelaki tampan yang saleh, kaya, bergelar doktor sastra dan setiap bulan diajak pelesir ke luar negeri.

    Nah, bagaimana perasaan kamu ketika membaca cerita seperti di atas? Bahagiakah? Rasionalkah cerita itu?

    Bukankah dalam kehidupan nyata, setiap usaha selalu ada hambatan? Impian tidak selalu terwujud. Banyak aral melintang yang menghadang, liku-liku yang menguras keringat dan air mata. Halangan demi halangan inilah yang akan menjadi daya tarik dan puncak ketegangan cerita, hingga pembaca hanyut menikmati serta timbul rasa penasaran untuk melanjutkan baca hingga titik terakhir. Itulah pentingnya konflik!

    Oke, ternyata konflik dalam sebuah cerita itu sangat penting. Konflik adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, bersifat negatif. Hal yang tidak menyenangkan ini, kita seret masuk ke dalam cerita, selipkan di salah satu bagiannya, untuk “menyenangkan” pembaca. Caranya? Gali dulu konflik sebanyak-banyaknya. Jadikan rangkuman dalam ingatanmu. Bukan berarti kamu harus berantem dulu dengan teman, cekcok mulut dengan tetangga, rebutan mainan dengan adik, atau bersikap jahil menyembunyikan pensil temanmu. Ah, itu konflik yang dibuat-buat, tidak keren dan menurunkan nama baikmu, he...he.

    Cukuplah kamu menyelami kehidupan. Amati yang terjadi di sekitarmu. Lihat hubungan sepasang kekasih, orangtua dan anak, kakak-adik, tetangga, teman sekolah, sahabat dan lainnya. Termasuk, peka terhadap perasaan kamu sendiri. Pernahkan kamu merasa minder saat melihat temanmu yang kaya raya itu ke sekolah bawa mobil keluaran terbaru, sementara kamu jalan kaki? Pernahkah kamu merasa tak berharga ketika cinta tulus yang kamu persembahkan untuknya dibalas dengan penghinaan? Pernahkah kamu merasa menyesal atas tingkah polahmu pada orangtua semasa hidupnya dulu, lalu perasaan itu tak bisa hilang dari benakmu, tapi tidak tahu cara meredamnya? Pernahkah dan pernahkah? Tanyakah semua pada dirimu. So, bertanyalah, Guys!

    Oke Guys, konflik itu ada dua, yaitu konflik internal dan konflik eksternal. Nah, konflik eksternal dibagi dua lagi, yaitu konflik fisik dan konflik sosial.

    Apa sih konflik internal itu? Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam hati-jiwa tokoh cerita. Artinya konflik batin yang dialami manusia dengan dirinya sendiri. Konflik yang dibangun dalam cerpen lebih sederhana dari konflik dalam novel. Konflik itu tidak (harus) mengakibatkan perubahan nasib pada tokohnya, namun demikian harus tetap dikembangkan menjadi cerita yang utuh. Cerita yang utuh dalam cerpen terdiri atas konflik, pengembangan konflik (komplikasi), puncak konflik (klimaks), dan penyelesaiannya (resolusi).

    Cara pengembangannya? Suka-suka kamu deh! Boleh pilih salah satu teknik pengaluran. Entah itu alur maju (progresif), alur mundur (flashback) atau alur campuran.

    Lalu, apa sih konflik eksternal? Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi pada seorang tokoh dengan sesuatu di luar dirinya. Pertama, konflik fisik yaitu konflik yang disebabkan oleh adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam. Kedua, konflik sosial yaitu konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antar manusia.

    Langkah mudah mengembangkan konflik begini deh, kamu susun saja semisal alur seperti: Pertama, Eksposisi atau pengenalan. Kamu kenalkan dulu tokoh-tokoh dalam ceritamu. Latarnya di mana dan kenalkan konflik pembuka.  Kedua, Konflik. Mulailah kamu buat ketegangan atau masalah yang dihadapi tokoh-tokoh ceritamu. Please, kamu heboh-hebohkan saja semaumu. Asal tetap rasional ya, kecuali jika ceritamu itu tentang tokoh kartun; yang nggak mati-mati ketika dipukul, ditembak, dibakar dan lainya yang super ekstrem.

    Ketiga, Komplikasi. Di bagian ini, kamu harus mengembangkan konflik hingga mencapai titik rumit. Seolah-olah masalah yang dihadapi si tokoh sulit terpecahkan. Mainkan emosi pembaca, aduk-aduk perasaannya, dengan suguhan konflik ceritamu yang menegangkan.

    Keempat, Klimaks atau puncak masalah. Nah, bagian ini adalah bagian paling seru dalam sebuah cerita, di mana konflik sudah pada titik puncak. Titik rumit. Titik tegang. Titik panas. Ramu bahasamu di bagian ini sebaik mungkin, sehingga antara komplikasi dan klimaks ada bedanya. Jangan sampai klimaks ceritamu hambar dan tidak menimbulkan efek rasa apa pun pada pembaca. Alias datar-datar saja. Banyak tema konflik dari sebuah cerita yang spektakuler, namun gara-gara pengolahan konflik yang kurang maksimal, hasilnya biasa saja. Tidak menimbulkan efek tegang, apalagi panas!

    Kelima, Antiklimaks. Pada bagian ini, kamu harus menurunkan konflik menuju ketenangan. Perlahan masalah itu menemukan solusi atau pemecahan. Ibaratnya memberikan jeda bernapas bagi tokoh yang tertimpa konflik. Kalau pada klimaks si tokoh dibuat senista-nistanya, hingga berdarah-darah, maka pada bagian antiklimaks si tokoh diberi jalan. Kecemasan dan ketakutannya berkurang, orang yang dulu membencinya mulai menyapa meskipun sapaan alakadarnya tanpa disertai senyum, peluang pekerjaan mulai menemukan titik terang dan lain sebagainya.

    Keenam, Resolusi. Nah, pada bagian ini konflik sudah reda, tuntas, tidak muncul konflik baru. Jangan kamu putar lagi cerita ke bagian klimaks. Cerita tidak akan selesai, bolak-balik, maju-mundur, nggak jelas si tokoh mau diapain dan pembaca pun jenuh. Akhiri konflikmu dan buat cerita baru!

    Oke Guys, sampai di sini dulu bincang-bincang soal konflik. Jangan ribut, jangan rebutan, jangan sikut-sikutan, pakai alat tulismu sendiri untuk menulis. Jika itu terjadi, kamu berhasil menciptakan konflik di dunia nyata, tapi dalam tulisan? Mana, mana?
    Selamat bertengkar,  eh selamat mengolah konflik!


    (Aliya Nurlela, Novelis & Pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Mengolah Konflik Itu Asyik Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top