• Info Terkini

    Selasa, 17 Mei 2016

    Oleh-oleh dari Kopdar ke-30 FAM Surabaya


    Dalam kopdar ke-30 FAM Surabaya (15/5), Ken Hanggara (anggota FAM Surabaya) didaulat berbagi pengalamannya berjuang mengirimkan karya ke media massa. Beberapa bulan terakhir ini karya-karya cerpennya hampir tiap minggu menghiasi media lokal. Namun ternyata, sebelumnya Ken Hanggara butuh sekitar 300 kali lebih untuk ditolak. Proses penolakan tersebut terjadi dalam kurun waktu dua tahun. 

    “Saya juga mengirimkan ke media nasional, meski masih terus ditolak saya terus mengirimkan karya baru,” kata Ken Hanggara.

    Apa saja sih yang menjadi tips jitu Ken agar karya bisa dimuat media? Simak ulasan berikut ini.

    1. Amati ciri khas media

    Sebelum kita ingin mengirimkan naskah cerpen, amati dulu ciri khas media lokal yang akan dituju. Misalnya jika media lokal biasanya menyukai tema kedaerahan atau ciri lokalitas yang ditonjolkan dalam cerita, dengan kata lain dekat dengan budaya. Ciri daerah bisa dari setting tempat, dialog setempat atau jika mengirimkan tema yang umum juga boleh asal dikemas secara unik dan menarik. Sering-seringlah mengamati rubrik cerpen di koran Minggu atau ikuti komunitas online seperti Sastra Minggu untuk mempelajari ciri karya yang dimuat di suatu media.

    2. Belajar dari cerpenis senior

    Menurut Ken hanggara, penggunaan bahasa yang lebih disukai para editor di media massa beberapa tahun terakhir sudah mengalami banyak perubahan. Diksi yang terlalu berbunga-bunga atau puitis, sudah jarang digunakan dalam cerpen yang berkualitas. Bacalah teknik menulis cerpen dari AS Laksana atau Eka Kurniawan yang minim diksi mendayu-dayu namun cerpennya mengena di hati dan pemikiran pembaca.

    3. Cari ide cerita seunik mungkin

    Meskipun tema klise, namun jika ide diolah dengan seunik mungkin, maka cerpen juga akan lebih menarik. Tema-tema unik bisa diambil dari menonton film yang menang festival bergengsi atau bisa dari kehidupan sehari-hari. Cari sudut pandang berbeda dari setiap pengalaman yang kita alami. Bahkan percakapan dengan orang gila pun bisa menjadi sumber ide yang menarik.

    4. Karakter dan karakter 

    Karakter adalah pengemban besar agar ide serta pesan dalam sebuah cerpen bisa tersampaikan. Gambarkan karakter dengan teknik sehalus mungkin. Pelajari cara para cerpenis senior yang bisa membuat deskripsi karakter dengan cara yang halus, misal menjelaskan karakter fisik lewat dialog ringan antar teman sehingga tidak melulu lewat deskripsi yang gamblang. Karakter tidak boleh dibuat terlalu sempurna. Dengan kekurangan namun memiliki misi mulia malah lebih membuat karakter dalam cerita itu hidup.

    5. Twist ending

    Membuat ending yang tidak mudah ditebak adalah salah satu tips agar cerpen kita menawan pembaca sampai akhir. Tetapi jangan berusaha membuat ending yang terlalu dipaksakan. Menurut Ken Hanggara, simpan sebuah clue yang tidak diketahui pembaca dari awal dan pegang hingga ending, dan jangan memaksakan tambahan detail yang justru akan merusak keseluruhan cerita. Buatlah twist sehalus mungkin.
    Semua teknik akan percuma jika tidak dipraktikkan.

     Jangan mudah menyerah jika ingin mampu menulis dengan baik. Mari terus berlatih dan terus berlatih.

    *) Reffi Dhinar, Blogger & Anggota FAM Cabang Surabaya


    Sumber: http://www.wordholic.com/2016/05/bengkel-menulis-cerpen-ala-ken-hanggara.html


    foto terkait: 


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Oleh-oleh dari Kopdar ke-30 FAM Surabaya Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top