Skip to main content

Peladang

Judul: Peladang
Penulis: Murji Ni’am Es-Sunurryi
Kategori: Buku Novel 
ISBN: 978-602-335-336-7
Terbit: Mei 2016
Tebal: xvi + 212 hlm ; 13 x 20 cm
Harga: Rp45.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

Engkau semua adalah Para Peladang di negeri ini. Sedangkan benihnya adalah semangat dan keimanan yang berada di dalam hatimu. Jadi hiduplah sebagai Peladang yang baik, selalu merawat tanamannya dari hama-hama jahat yang menggerogoti. Karena Peladang yang baik, tidak akan membiarkan hama-hama itu memusnahkannya.

Betul adanya. Mereka laksana Peladang yang merawat tanaman kebunnya dari hama yang menghancurkan. Ketika Peladang hilang, maka kebun-kebunnya yang ada akan musnah. Siapa lagi yang merawat mereka? Bibit-bibit yang baru bertunas pun akan hilang dimakan ternak berkeliaran.

Negeri ini adalah negeri Para Peladang, negeri di mana selalu menjunjung tinggi tentang agama, adab, ilmu, karakter, adat budaya dan kemerdekaan. Karena di negeri ini juga mereka bisa menanam benih-benih kebajikan untuk meraih buah kemenangan yang tiada tara di akhirat nanti. Tentu buah kemenangan yang paling tertinggi adalah menuju Sang Kekasih Sejati.

Novel ini menjadi sumbangsih penting bagi bangsa Indonesia karena kental akan nuansa budaya lokal dan pesan moral yang mengedukasi pembacanya. Kekuatan konflik dan nilai spriritualitasnya menjadi kelebihan tersendiri. Sebuah bacaan yang sangat berisi. 

~Eko Prasetyo, Jurnalis dan Editor Buku

Padang Pariaman tidak pernah kering melahirkan penulis muda. Kali ini, Murji Ni’am Es-Sunurryi muncul dengan novel barunya;”Peladang”. Novel yang dikemas dengan bahasa santun dan sarat nilai-nilai Ilahiah. Tak salah, pengarang yang berlatar belakang pendidikan agama ini, memilih jalan dakwah lewat sastra. Tahniah, semoga semakin produktif berkarya.
~Muhammad SubhanPenulis dan Pegiat FAM Indonesia

Novel “Peladang” karya Murji Ni’am Es-Sunurryi mengungkap realita perjuangan tokoh Zahid yang sedang berkutat mencari jati diri. Sejumlah konflik yang mengaduk-aduk perasaan mewarnai cerita, ada romantisme, persahabatan, tantangan, pengusiran, termasuk upaya menaklukkan ego yang memerlukan ketegaran. Tak hanya itu, novel ini mengandung pesan hikmah dan motivasi yang dituangkan penulis secara implisit (melalui kiasan). Inspiratif!
~Aliya NurlelaNovelis dan Pegiat FAM Indonesia

“Peladang” sebuah novel yang mengandung nilai-nilai filsofis agama dan adat, melalui kisah seorang anak muda yang mencari jati diri melalui kehidupan sebagai santri. Menganggkat setting kehidupan pesantren, dan keberadaan Tuanku, yang tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya di Pariaman dan sekitarnya. Sangat menarik, informatif dengan catatan kaki yang sarat informasi. Novel yang layak dibaca dan dijadikan referensi budaya. Sepertinya novel ini layak untuk difilmkan.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…