• Info Terkini

    Wednesday, May 25, 2016

    Resensi Novel “Senyum Gadis Bell’s palsy”

    Peresensi: Miss Carol
    Judul: Senyum Gadis Bell’s Palsy
    Penulis: Aliya Nurlela
    Penerbit: FAM Publishing
    Tahun Terbit: Cetakan Pertama, November 2015
    Jumlah Halaman: 304 halaman
    Harga: Rp. 50.000,-

    Hari-hari Delima begitu sempurna dengan wajah cantik, deretan pria yang naksir dan memiliki banyak teman. Hubungan dengan Bagas terasa manis hampir tak ada hambatan. Walaupun seringkali, kegemaran Delima yang menyukai buku dan membaca selalu menjadi alasan pertengkaran dengan Bagas yang tak menyukai buku.

    Berbeda dengan Fariz, kakak Delima dan keluarga satu-satunya yang dimiliki gadis itu sejak meninggalnya orangtua mereka. Laki-laki ini sangat berpegang teguh dengan agama dan batasan antara mahram jelas menjadi alasan untuk resah saat Bagas sering mengajak Delima jalan-jalan sore ke pinggir sungai atau ke toko buku sekalipun. Sampai adik semata wayang marah karena nasihatnya, Fariz tetap menyayangi Delima sepenuh hati. Kali ini laki-laki 25 tahun itu berhenti untuk menuntut Delima soal aturan-aturan agama yang mereka yakini. Tidak ada agama yang dituntut, Tuhan juga tak meminta untuk dipilih tapi memberi pilihan untuk kaum di jalan yang benar.

    Sebagai permintaan maaf pada Delima, Fariz mengajak Delima jalan-jalan sore ke mana pun yang Delima mau. Permasalahan dimulai saat Delima melihat pria yang ia cintai bermesraan dengan gadis lain di sungai tempat istimewa mereka. Fariz yang tak menyadarinya hanya mengikuti permintaan Delima untuk pulang. Esok harinya lebih parah, Delima dengan mudah memaafkan Bagas dengan alasan cinta, lupa luka pengkhianatan.

    Semua kembali berjalan normal, hingga Delima merasakan sakit di telinga, wajahnya tidak simetris, mata yang bulat dan indah kini tak lagi seimbang. Seperti sesuatu yang menariknya. Fariz yang resah segera pergi ke apotik, sedangkan Bi Ratni percaya ini penyakit kiriman dan menyarankan mereka pergi ke orang pintar. Fariz jelas menolak, mana bisa memberikan kepercayaan sembuh pada orang yang menyekutukan Tuhan.

    Raihanah, teman Fariz yang tanpa sengaja bertemu di apotik, menyarankan Delima di bawa ke dokter. Untuk kali ini, vonis dokter membawa duka lara. Delima terkena penyakit Bell’s Palsy yang tak ada obatnya. Ditambah Bagas yang memilih pergi dan mempermalukan dirinya depan teman kampus. Seorang pria asing yang tak dikenalnya berusaha melindunginya.

    Di tengah keputusaan pengobatan mampukah Delima bertahan? Bagaimana kisah cinta Bagas dan Delima? Siapakah orang asing yang rela membantunya?

    Berdasarkan kisah nyata yang berada di tengah-tengah kehidupan patut di acung jempol, ide yang jarang dikembangkan penulis lain. Bahasa yang digunakan santun dan cocok untuk remaja. Motivasi yang digunakan terkesan tak menggurui. Walaupun, mengusung tema remaja tak melulu membahas cinta terselip pesan moral pada hubungan adik kakak. Tapi, sayangnya beberapa kejadian di bab akhir seperti dipaksakan dan terburu-buru. Penggambaran suasana seperti jalan cerita sinetron zaman sekarang yang mudah ditebak pembaca.

    Dengan harga sesuai kantong remaja, buku ini cocok untuk yang sedang mencari motivasi, pengembangan diri sampai mengalami demam panggung. Semua dikemas apik dengan cover yang menarik.


     Sumber: https://natacarol13.wordpress.com/2016/03/14/pejuang-bells-palsy-bertahanlah/
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Resensi Novel “Senyum Gadis Bell’s palsy” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top