Skip to main content

Senyum Nolina

Judul: Senyum Nolina
Penulis: Dedi Saeful Anwar
Kategori: Antologi Cerpen
ISBN: 978-602-7956-48-3
Terbit: Juli 2014
Tebal: 131 hal 13 x 20 cm.
Harga: Rp38.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

Senyum Nolina adalah potret wajah negeri ini. Masalah kemiskinan, perjuangan hidup, carut marut sosial-ekonomi, menumbuhkan jiwaentrepreneurship, potret buram dunia pendidikan, kebudayaan, masalah anak dan remaja, juga mengasah empati pada sesama. Rangkaian kata dalam buku ini mengajak kita untuk lebih memaknai hidup.

“Kalau Nolina berbeda dalam hal perkembangannya, lalu apakah kita harus membedakan hak dia dengan peserta didik lainnya? Bukankah seharusnya kita merangkul dan memberikan perhatian yang lebih pada ABK seperti dia?” papar Bu Melati tenang namun tegas.

Sejak semalam, Nolina banyak bercerita pada ayah ibunya. Dia memohon kehadiran ayah dan ibunya untuk melihat penampilannya. Dan malam sebelum hari pementasan tiba, Nolina pulas ditemani mimpi-mimpi indahnya. Bibirnya menyunggingkan kebahagiaan. Hingga pagi mengantar senyum, membangunkan tidurnya.

Sejumlah kisah dam Senyum Nolina membawa kita pada sisi lain dalam hidup ini.


***

Potret buram pendidikan kita disindir secara halus oleh Dedi Saeful Anwar dalam kumpulan cerpennya ini. Membuat kita tercenung.
~ Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia, jurnalis & penulis

Sekumpulan cerita yang menarik. Sederhaan, dan ditulis dengan sudut pandang berbeda.
~ Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia, penulis fiksi & non fiksi

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…