Skip to main content

Kepengurusan FAM Cabang Palembang Terbentuk

FAM Cabang Palembang

PALEMBANG - Dalam pertemuan darat yang ke-2 pegiat literasi FAM Cabang Palembang mengadakan Kopdar di KI Park atau "Wong Kito Galo" disebut juga "Kambang Iwak". Sebuah taman kota sekaligus salah satu ikon wisata di tengah-tengah kota Palembang, Sabtu (28/5).

Hadir dalam pertemuan tersebut, Ketua FAM Cabang Palembang, D.A. Akhyar bersama pegiat literasi bahkan dihadiri oleh sebuah komunitas Bicara (Kombic) Palembang.

Acara diisi dengan pembentukan kepengurusan FAM Cabang Palembang. Terpilih sebagai Koordinator Pelaksana Harian, Pipit S. Sekretaris Iswadi. Bendahara M. Irfand Erik. Ketiganya merupakan mahasiswa aktif di PTN Palembang.

Selain itu, pertemuan darat diisi dengan diskusi sesuai dengan tema kopdar, "Berwisata sambil Menulis Keindahan Kota." Berdiskusi sambil berwisata, tentu saja ada manfaat tersendiri bagi FAMily di Palembang.

"Ternyata banyak destinasi di Sumsel ini yang masih tersembunyi, “ ucap Ketua Komunitas Bicara sekaligus penulis buku bersama "Perspektif 14 Jurnalis Sumsel", Fatkurohman.

“Terutama di Pagaralam kota seribu Megalith,” imbuh Pipit S.

Menurut DA Akhyar, perlu diadakan semacam pencarian rekam jejak untuk segera digali dan dipromosikan kepada masyarakat bahwa ternyata di Sumsel ada "Surga yang tersembunyi", seperti yang dituliskan oleh Mahasiwa PTN Palembang, Iswadi yang saat ini menjadi Sekretaris FAM Cabang Palembang.

Hasil pertemuan tersebut mendapatkan dua kesepakatan; pertama, pembentukan kepengurusan Organisasi FAM Cabang Palembang. Kedua, agenda menulis lebih serius dengan menggali keindahan Sumsel dari perspektif penulis.

Dengan terbentuknya FAM Cabang Palembang, koordinator berharap ke depannya akan terbentuk FAM Cabang lainnya di Sumatera Selatan dan bisa diadakan pertemuan "Kemah Literasi" serta menjalin silaturahim dalam sebuah pertemuan besar. [DA]

Laporan Koordinator FAM Cab Palembang: D.A. Akhyar (ID-FAM2075M)


Foto terkait



Comments

  1. mas saya orang palembang dan ingi gaung dengan FAM palembang, ada nomor yang bisa saya hubungi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…