• Info Terkini

    Saturday, May 7, 2016

    Ulasan Cerpen “Senja Yang Terseret Malam” Karya Gafur Abdullah (FAMili Pamekasan)

    Cerpen ini bercerita tentang seorang lelaki bernama Toni. Toni masih kuliah dan mempunyai seorang kekasih bernama Erna. Tanpa sepengetahuan Toni, Erna menyembunyikan sakitnya, yaitu kanker.

    Suatu hari, Toni dikejutkan kabar dari ayah Erna, bahwa kekasihnya sudah seminggu dirawat di rumah sakit. Ketika Toni datang ke rumah sakit, ia tak sempat berbicara dengan Erna. Wanita itu sudah tergolek tak bernyawa. Toni merasa kehilangan dan mendapati sepucuk surat dari Erna untuk dirinya, sebagai ucapan perpisahan.

    Penulis hendak menyampaikan pesan melalui tulisannya tentang makna cinta dan kehilangan. Sebuah tema cerita yang mengharu biru. Namun ada beberapa catatan; pertama, dalam hal teknik bercerita. Penulis perlu mengolah kembali, sehingga cara bercerita tidak datar dan penyampaian konflik akan terasa gregetnya. Tak ada salahnya, jika penulis bermain tanda baca seru (!) sebagai kejutan-kejutan dalam cerita, hingga perasaan pembaca terhanyut. Ada rasa tegang, lega, sedih dan lainnya.

    Kedua, penulis perlu melakukan editing lebih matang sebelum karya itu dikirim. Saat menulis, penulis bebas mengabaikan EYD, akan tetapi ketika tulisan itu tuntas, penulis perlu melakukan editing sebaik mungkin. Terutama pada bagian kesalahan ketik. Tim FAM Indonesia banyak menemukan kesalahan ketik dalam tulisan ini, seperti; suasan, sorang, sebrang, deratan, dll. Hampir di setiap halaman terdapat kesalahan ketik. Atau pada EYD, seperti; telpon, kangker, aktiv, terimakasih, yang seharusnya ditulis; telepon, kanker, aktif, terima kasih. Atau penulisan huruf kapital, seperti; mas toni, mbak Erna, yang seharusnya ditulis; Mas Toni, Mbak Erna, dst.

    Namun, terlepas dari koreksi Tim FAM Indonesia, upaya penulis menghasilkan sebuah karya dengan menyelipkan pesan positif, patut diapresiasi. Penulis telah berusaha meramu tulisan fiksi dengan harapan ada nilai manfaat bagi pembaca. Selamat untuk penulis, terus berkarya dan banyak-banyaklah membaca cerpen-cerpen yang sudah terbit di media massa. Semoga akan lahir cerpen-cerpen selanjutnya yang lebih berkualitas.

    Salam aktif, salam santun,
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    Senja Yang Terseret Malam
    By: Gafur Abdullah* IDFAM4010U

    Sore itu sang raja siang mulai bersila di atas pundak gunung ufuk barat. Aku yang kala itu hendak pulang dari kampus, menyempatkan diri melihat kearah barat yang sebentar lagi senja akan segera tiba. Bagiku, senja merupakan suasan yang bersejarah dalam hidupku. Karena suatu saat dan berbarengan dengan suasana senja datang ada sorang wanita yang membuat aku kenal pada cinta,  yang kata remaja, hal itu merupakan hal yang indah. Kala itu pula aku menjulukinya sebagai Wanita Senja.

    Sekitar beberapa bulan lalu, aku dan wanita bernama lengkap Ernawati  terikat oleh cicin kepatuhan. Tidak terasa ikatan pertunaganku dan dia sudah berjalan 10 bulan 5 hari. Keluargaku dan keluarganya sudah seperti magnet apalagi aku dan dirinya. Aku sangat menyayanginya pun dia padaku.

    ***

    Assalamualaiku.” Suara pak rudi, ayah wanita senja dari sebrang via telpon.

    Waalaikumsalam,  ya om ada apa?” responku. Pikiranku dihinggapi rasa penasaran, karena tidak biasanya calon mertuaku menelponku di waktu yang sangat pagi sekali.

    “ Nak Toni, kapan kamu bisa ke Sumenep?” tanyanya.

    “Saya belum bisa memastikan om, soalnya kuliah lagi padat dan tugas masih banyak yang belum terselesaikan.” Tuturku.

    “Memangnya ada apa om?” tambahku dengan mimik wajah penasaran.

    “Tutttt tuttt...” telpon terputus.

    Karena pulsaku tidak  cukup untuk  melakukan panggilan keluar, dengan terpaksa aku menunggu ayah wanita yang akrab disapa Erna itu menelponku kembali. Aku menunggunya sampai jam di ponselku menunjukkan pukul 7: 24. Dengan segera aku berangkat ke kampus yang tidak jauh dari kosku, karena  pada pukul 7: 30 aku ada kelas mata kuliah Manajemen Organisasi Pendidikan Islam( MOPI).

    Di tengah kefokusanku mendengarkan penjelasan dosen di depan, tiba-tiba ponselku yang aku letakkan di saku celanaku bergetar pertanda ada sms masuk. Karena tempat dudukku kebetulan ada di deratan paling depan, sengaja aku tidak langsung mengambil ponselku untuk membaca sms yang bersemayam beberapa menit yang lalu.

    “Baiklah saudara-sudara sekalian, jadi dalam pembahasan kali ini kita sudah mengatahui bahwa organisasi dilihat dari bentuknya ada dua, yakni formal dan informal.” Bicara  bapak Abd Aziz, dosen pengampu mata kuliah MOPI menyimpulkan.

    “Silahkan yang mau bertanya!” seru dosenku yang tengah menyelesaikan pendidikan doktornya di IAIN Jember dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam.

    Karena tidak ada yang bertanya, perkuliahan pun diakhiri. Aku yang waktu itu tidak bertanya, di tanyakan oleh temanku, Fauzan.

    “Toni, tumben kamu ngak nanya hari ini? Biasanya kamu sering bertanya di setiap ada kesempatan untuk bertanya.” Bicara fauzan saat keluar dari ruangan.

    Mendengar pertanyaan temanku yang berasal dari kecamatan Pakong itu, aku hanya menggelengkan kepala tanpa kata-kata. Aku langsung berpamitan kepada Fauzan ke kantin untuk mengisi perutku yang dari paginya belum terisi. Di kantin, aku teringat kembali pada ponselku untuk membaca sms yang belum sempat aku baca.

    “ Nak Toni, maaf tadi sempat om putus telponnya. Begini nak, nanti sore habis kuliah kamu langsung menuju Sumenep danlangsung menuju rumah sakit tempat om kerja. Erna dalam keadaan darurat ini, Ia dirawat sejak 1 minggu yang lalu. Dia menderita penyakit kangker.” Isi sms dari ayah wanita yang mengambil jurusan kedokteran di Universitas Brawijaya Malang.

    Kedua benua pipiku mulai terbelah lantaran air kesedihan membanjirinya. Usai membaca sms  itu, aku mengisi pulsa di tempat aku makan dan menghubungi salah satu temanku yang mempunyai kelas di jam ke tiga, Eko.

    “ Broo, tolong buatin surat! Aku tidak bisa masuk di mata kuliah Manajemen Peserta Didik, bagianya pak Syaiful Hadi.” Bicaraku kepada Eko via telpon.

    “ Ok bro.” Timpal Eko berjanji.

    ***

    Tiba di terminal, aku langsung menaiki bus AKAS yang rute tujuannya ke kota Sumekar (red: julukan kota Sumenep). Di dalam bus aku hanya membayangkan wajah kekasihku yang sedang berbaring lemah di ranjang rumah sakit Moh Anwar, salah satu rumah sakit yang berada di kota Sumenep.

    Ya Allah, berikannlah kesembuhan pada kekasihku. Aku tahu dan aku yakin engkau mendengar suara hatiku ini. Berilah kami kesempatan untuk menikamati indahnya cinta yang kau anugrahkan pada mahlukmu ini hingga menuju plaminan. Aku mencintainya ya Allah.” Doaku dalam gumam.

    Di tengah perjalanan, aku mencoba menghubungi calon ibu mertuaku, ibu Risma. Enam kali aku menghubunginya, enam kali pula operator yang menjawabnya dengan menyatakan “ NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIV.” Rasa khwatir akan Erna semakin menyerang pikiranku.

    Sebelum bus melintas di depan STKIP Sumenep, ayah Erna menelponku. Ia menghimbau agar aku turun di depan kampus itu.

    “ Nanti biar pak Syarif yang menjemputmu ke sana nak Toni.” Tutur calon mertuaku.

    “ Ya om” timpalku patuh.

    “ Ya sudah kamu tunggu saja!” serunya mengakhiri pembicaraan.

    Bus yang mebawaku dari kota pendidikan (red: juluka kota Pamekasan) itu berhenti di depan kampus yang berhadapan dengan SPBU.

    “ Berhenti pak,” seruku pada kondektur bus.

    Tidak sampai 5 menit aku menunggu di depan kampus STKIP Sumenep, pak Syarif yang diperintah oleh majikannya datang mobil Jass warna hitam milik majikannya.

    “ Mari mas Toni.” Ajak pak Syarif dengan ramah.

    “ Sekalian mas Toni aja yang nyetir ya,” tawarnya dengan memberikan kunci mobil yang pernah aku tumpangi bersama Erna serta keluarganya  beberapa bulan yang lalu.

    “ Ngak usah pak, saya belum bisa nyetir mobil,” tolakku gamblang.

    “ Ya sudah mari mas.” Ajaknya sembari masuk mobil.

    Aku tidak pernah belajar mengemudi mobil, karena tidak pernah punya mobil. Beberapa bulan yang lalu, wanita dengan tanggal lahir 4 Maret 1996 itu sempat menawarkan agar belajar mengemudi, tapi aku tidak mau lantaran masih trauma dengan kecelakaan yang di alami kakak sepuku di Malang. Tidak lebih dari tiga bulan lalu,  Kakakku meninggal dunia lantaran mobil yang dikendarainya mengahantam toko yang ada di pinggir jalan raya.

    “ Saya kira.... mas toni bisa nyetir.” Bicara pak Syarif. Aku hanya meresponya dengan senyuman.

    ***

    Tidak lama aku tiba di ruang Erna di rawat, malaikat pencabut nyawa sudah melaksanakan tugasnya untuk mengambil nyawa dari tubuhnya. Hatiku terasa tertusuk kala itu, lantaran wanita senjaku sudah Tuhan ambil. Semua yang ada diruangan itu mengalirkan air mata kesedihan karena Erna sudah berbaring tanpa nyawa. “ Ya Allah, aku tahu semua kematian telah engkau tentukan waktunya. Tapi mengapa kau ambil kekasihku di waktu yang masih cukup muda? Aku tidak tahu ada apa dibalik semua ini, tapi aku yakin engkau akan memberikan yang terbaik pada semua hambanya termasuk aku. Semoga engkau tenang aduhai kekasihku.” Bicaraku dalam gumam sembari mengecup kening Wanita Senjaku.

    ***

    Selesai Erna dikuburkan, gadis yang masih kelas Tiga SMA, Dila, menghampiriku yang sedang duduk di dekat Batu Nisan kekasihku.

    “ Mas Toni, ini ada surat untukmu dari mbak Erna.” Tutur Dila, adik angkat Erna sembari membrikan sepucuk surat.

    “ Aku pulang duluan mas.” Pamitnya menambahkan.

    Aku hanya menganggukkan kepala. Tanpa ada yang memerintah, aku membuka surat itu dan membacanya di dekat kekasihku dikuburkan.

    Kepada  lelaki yang selalu memotivasiku untuk berjuang dalam hidup

    Aku tuliskan surat ini untukmu aduhai kekasihku. Aku tidak tahu, apakah surat ini akan sampai di tanganmu atau tidak. Aku pun tidak  tahu apakah setelah menulis surat ini nyawaku masih melekat dalam diriku atau tidak? Maafkan aku jika selama ini tidak menecritakan penyaki yang aku derita. Aku tidak bercerita bukan berarti tidak mempercayaimu, tapi aku hanya tidak mau membuat kamu bersedih. Jika aku sudah tiada, silahkan kau cari wanita yang lebih dariku, jangan kau bersedih akan kepergianku. Semoga tuhan mempertemukan kita di Firdaus kelak. Terimakasih atas kesabaranmu mendampingiku selama ini, sulit aku temukan dalam hidupku lelaki sepertimu. Bagiku, kau adalah lelaki yang tanguh, optimis menjalani hidup, sabar, dan bijaksana.

    Aduhai kekasihku, aku menunggumu di pintuFirdaus. Semoga sang maha kasih menyatukan kita kelak walaupun tidak di dunia. Aduhai lelaki penyabar, jangan kau bersedih jika aku tiada, mungkin aku bukan jodohmu di dunia. Aku mencintaimu aduhai lelaki yang selalu memotivasiku untuk berjuang dalam hidup.

    Dari wanita yang mencintaimu.

    Usai membaca surat itu air mataku mengalir dengan sendirinya. Hari itu aku merasa benar-benar kehilangan wanita senjaku. Hari mulai menjelang sore, pertanda senja akan segera datang. Dengan mata yang bengkak, aku menatap senja yang dengan perlahan ditelan malam.

    Aku mencintaimu aduhai Wanita Senjaku. mengapa kau pergi? Ya Allah berikan aku kesempatanbersua dengannya walau di atas pulau kapuk, ” harapku dalam gumam sembari berjalan menuju pulang.  

    Pamekasan, 21 September. 2015


    *Mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam Juga Aktivis LPM Activita STAIN Pemekasan.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Senja Yang Terseret Malam” Karya Gafur Abdullah (FAMili Pamekasan) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top