Skip to main content

Untuk Sebuah Nama

Judul : Untuk Sebuah Nama 
Penulis : Liza Hilda Noor Azizah
Kategori : Buku Puisi
ISBN : 978-602-335-113-8
Terbit : Mei 2016
Tebal : viii + 74 hlm ; 14 x 20 cm
Harga : Rp32.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

Cinta adalah wewenang setiap manusia. Akan menjadikan bahagia atau tidak tentu kembali pada yang menjalani. Karena meyakini cinta juga memiliki hak untuk bahagia.

Jika cinta tidak membawa bahagia lalu untuk apalagi cinta masih dipertahankan? Di depan sana masih banyak cinta yang menanti untuk menjemput bahagianya. Kecuali jika tidak ada lagi cukup waktu untuk mencari cinta yang baru. Maka cinta yang lalu akan tetap terasa utuh walau hanya mencintai seorang diri.

Seperti aku, aku memiliki kisah cinta yang tidak sempurna. Cinta membuat kisahku patah. Aku tidak memperbaikinya sampai saat ini. Aku masih menjalani cinta yang sama. Aku mengubahnya menjadi bayangan mencintai, menyayangi, dan mengasihi tanpa jeda waktu.

“Untuk Sebuah Nama” bukti cinta yang teramat padanya. Walau tak diketahui, walau tak dihargai, walau menjadikannya semakin berlalu dan pergi. Nyatanya, tidak membuatku beranjak untuk meninggalkan. Jika ada yang bertanya, apakah ini sakit? Aku tidak lagi mengetahui sakit itu seperti apa. Karena cinta yang ia tanggalkan memberiku hidup dalam imajinasi. Mata indahnya memberiku napas dalam impian. Aku tidak menyesali dengan rasa yang Tuhan beri, aku tidak membenci dengan caranya yang tidak memiliki hati. Aku hanya akan terus mencintai hingga batas mampu, karena saat aku memilih, tak ada syarat agar memiliki. Hingga pada akhirnya, aku harus tersadar dan beranjak dari mimpi, bahwa dia takkan kembali.
Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi Cal Centre: 0812 5982 1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com. 

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…