Skip to main content

Bergerak Sosialisasikan FAM Indonesia di Palembang


PALEMBANG –  Di sela-sela kesibukan masing-masing anggota, FAM Cabang Palembang menggelar Kopdar ke-3 & buka puasa bersama di Taman Polda Sumatera Selatan, Sabtu (18/06).
Acara dibuka oleh Ketua FAM Cabang Palembang, D.A.Akhyar, dengan memberikan motivasi menulis dan ajakan bergabung menjadi keluarga FAM Palembang, serta keluarga besar FAM Indonesia.

Menurutnya, Menulis itu merangsang; merangsang sang penulis untuk terus menambah ilmu, membaca dan berpikir. Rangsangan dari kegiatan menulis sangatlah luar biasa, baik untuk membaca maupun untuk berpikir. Terlebih jika sudah kecanduan menulis, tentu akan berusaha mencari inspirasi.

Di saat jumlah penulis yang sudah berkarya mengalami lonjakan, sayembara dibutuhkan karena dua hal. Pertama, ia akan merangsang para penulis—terutama yang muda atau yang masih berstatus “calon”—untuk terus menulis. Meski saat ini jumlah media untuk mensosialisasikan karya jauh meningkat dibanding dulu ketika sastra Indonesia baru tumbuh, tapi tak selamanya ruang sosialisasi tersebut memberi pilihan yang menguntungkan bagi penulis muda atau “calon penulis”.

Di tengah “dilema” itulah sayembara menulis seharusnya ditempatkan. Ia menjadi ruang yang—meski terbatas—bisa memberi rangsangan yang besar pada orang untuk menulis. Selain merangsang untuk terus menulis, sayembara menulis juga memudahkan seorang penulis untuk tahu seberapa tinggi atau jauh “pencapaian” yang sudah ia buat. Seorang penulis yang baik adalah mereka yang bukan hanya terus menulis tapi juga terus berusaha melakukan estimasi atas “pencapaian estetika” yang berhasil digapainya. Ia adalah orang yang berusaha membandingkan apakah karyanya yang sekarang mengalami peningkatan estetik atau tidak.

“Kita perlu mengadakan agenda atau sejenis project jangka dekat dengan mengadakan stimulus pada pihak lain; misal kita adakan sejenis kepenulisan bersama dengan anak-anak SMA di Palembang.” ujarnya.

Pendapat tersebut diiyakan oleh ketua harian FAM Palembang dan peserta kopdar lainnya.

“Kita bisa launching buku perdana anggota FAM Palembang bersama anak-anak SMA di Palembang,” usul Syhifa.

Ketua FAM Cabang Palembang menyambut ide segar para anggotanya. Menurutnya, itu ide yang bagus, di mana nantinya bisa mensosialisasikan FAM di Kota Palembang, dengan target pertama anak SMA.

Sementara, Pipit Sukirno, Koordinator Harian FAM Palembang membahas pentingnya kas harian dalam wadah FAM Cabang Palembang. Menurutnya, hal itu sangat berguna untuk kegiatan-kegiatan yang akan berlangsung, seperti; rihlah, bakti sosial, dll.

Agenda pertama untuk kegiatan FAM Cabang Palembang adalah membuat sayembara menulis yang nantinya naskah terpilih akan dibukukan. []


Laporan: D.A.Akhyar (IDFAM. 2075M)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…