Skip to main content

Gebyar Akhir Tahun, FAM Indonesia Luncurkan 60 Buku


Pare (Kediri) – Di penghujung tahun 2016 mendatang, enam bulan lagi, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia akan meluncurkan 60 buku dari 60 penulis Indonesia.

Buku-buku itu ditulis berbagai penulis dengan lintas profesi, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dosen, wartawan, maupun masyarakat umum lainnya.

Tidak hanya itu, buku-buku tersebut diterbitkan berbagai penerbit di Tanah Air, termasuk FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Kegiatan bertajuk “Program Literasi Akhir Tahun dan Gebyar Lauching 60 Buku” itu, merupakan agenda FAM Indonesia sebagai komunitas penulis yang konsen mengajak masyarakat peduli literasi.

“Lokasi peluncuran dipusatkan di satu kota, dan saat ini sedang pengumpulan buku-buku yang akan diluncurkan, sekaligus dibazaarkan,” kata Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia melalui siaran pers, Kamis (23/6).

Dia menyebutkan bahwa buku-buku yang diluncurkan tersebut dalam rangka memperkenalkan lebih luas karya-karya anak bangsa berupa buku.

“Pantauan FAM Indonesia, minat menulis masyarakat Indonesia sangat tinggi, dan itu perlu diapresiasi dan FAM Indonesia membantu mempromosikannya,” jelas Aliya Nurlela yang juga penulis sejumlah buku.

Menurut Aliya, buku-buku yang akan diluncurkan itu terdiri dari berbagai genre, baik fiksi maupun non fiksi. Namun, sampai saat ini, buku-buku yang dikirim penulis didominasi buku-buku fiksi, di antaranya novel, kumpulan cerpen dan kumpulan puisi.

“Bagi penulis lainnya yang ingin berpartisipasi mengirim buku karya mereka untuk meramaikan kegiatan ini dapat meminta informasi ke email aktifmenulis@gmail.com,” tambahnya.

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia merupakan organisasi kepenulisan nasional yang berdiri pada tanggal 2 Maret 2012, berkantor pusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Saat ini FAM Indonesia memiliki ribuan anggota yang tersebar di berbagai kota.

“FAM Indonesia bertujuan menyebarkan semangat cinta menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya,” jelas Aliya Nurlela. 

Foto:
DILUNCURKAN – Salah satu buku karya anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang diluncurkan di kantor FAM, Pare, Kediri, beberapa waktu lalu. Akhir tahun 2016 mendatang, FAM Indonesia akan meluncurkan 60 buku dari 60 penulis se-Indonesia. 




*) Berita ini diterbitkan sejumlah media

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…