Skip to main content

Kenangan Masa Kecil yang Membekas di Hati Jilid 2

Judul: Kenangan Masa Kecil yang Membekas di Hati Jilid 2
Penulis: 31 Penulis
Kategori: Nonfiksi
ISBN: 978-602-335-036-0
Terbit: Mei 2015
Tebal: 220 hlm ; 14 x 21 cm
Harga: Rp 50.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

Lily Suprapto, Maradona Sihombing, Margareta Wila, Maulana Affandi, Meita Candra Sekar Sari, Miceleh Claudia, M. Lutfi Rizal Farid, M.C Rizal, Mochammad Iqbal Hamzah Fansuri, Muhammad Jemadi, Muhammad Nur, Niken Kinanti, Nita Nurfitria, Nur’ Afiah, Nurul Hidayah, Ova Laela Muttaqiyah, Prihatin Suryaningtyas, Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha, Rizki Nuraini Ramadhani, Ruby Nurizni Yuan, Safira Lutfiani, Servita Ramadhianti, Shella Aprilia Hanada, Sherren Nur Ardila, Sherrin Nur Ardina, Suci Rizka Welza Putri, Suprapno, Tyas Mekar Sari, Widya Putriwayan/Widiyanti, Wulan Ayu Fitria, Yenti Indischa/Yenti Asmara Murni

***

Setiap orang punya cerita masa kecil yang tak terlupakan. Suka duka hadir seperti pelangi yang membentuk setengah lingkaran dari ujung timur hingga ke barat. Seperti perjalanan hari, hidup akan selalu penuh warna. Dari cerita-cerita itu, ada buah pelajaran yang bisa kita petik manfaatnya, meski kenangan memang tidak selalu manis ada pula yang pahit.

Buku ini memuat kisah kenangan masa kecil 31 penulis Indonesia. Ada yang lucu, inspiratif, dan menyentuh. Buku ini akan membuat Anda bernostalgia bahwa masa kecil itu memang indah.

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi Cal Centre: 0812 5982 1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…