Skip to main content

Kleptomania

Judul: Kleptomania
Penulis: 35 Penulis Cerpen pilihan
Kategori: Kumpulan Cerpen
ISBN: 978-602-7956-14-8
Terbit:  Mei 2013
Tebal: 352 hal ; 13x20 cm
Harga: Rp53.000 (Harga belum termasuk Ongkir)

Buku Sekumpulan Cerpen Pilihan
Lomba Cipta Cerpen Tingkat Pelajar,
Mahasiswa/Umum se Indonesia 2013

Anak Jalanan (Adli Zuliansyah Putra), Aku Bisa, Gus! ( Iik Zakiah Darajat), Kupu-Kupu Jingga (Budianto Supar), Isak Tangis Mbok Tijah (Amiruddin Awalin), An-Nisa, Menatap Rembulan Separuh (Muhammad Sofyan Arif), Ketika Rongsokan Menjadi Cita-Cita (Willy Ramadhan), Merasa Dirinya (Rahmat Sahri Ramadani), Kilasan Mata Jahannam (Bimo Logo Pribadianto), Sebungkus Nasi Yang Basi (Khairatul Ukhti), Mobil Mobilan untuk Didik (Intan Puspita Dewi), Dia Terus Melangkah Tanpa Kaki (Muhammad Abrar), Kakak Harus Jadi Orang Kaya! (Susi Sulistilawati), Aisyahku Sayang (Zesty Giarni Werti), Cambuk Rotak Emak (Puji Astutik), Aku hanya Ingin pintar, Mak! (Nenny Makmun), Curam (Dodi Saputra), Lelaki Tua Pemulung Botol Air Mineral Bekas (Leni Sundari), Gadis Kecil Penghias Malamku (Desy Rohmawati), Piagam Untuk Emak (Dedi Saeful Anwar), Langit Cinta (Tiara Satya Ningsih), Selendang Putih untuk Ibu Amidah (Hasan Asyhari), Kenapa Namaku Alya? (Dewi Ari Ari), Alif Nun Di Ufuk Senja  (Farihatun Nafiah), Menanti Keajaiban Datang (Mocca Al Kahvy), Menggapai Cita-Cita (Mellania Fitri Ardita), Pemulung Dilarang Masuk, Pemulung dilarang sakit! (Fitria Ayu Lintasari), Impian Hanifah (Rahimah Ib), Bungaku Masih Belum Mekar (Chaya Keenanisa), Rinai (Ridha Sri Wahyuni), Layang Layang Senja ( Warno Adi Susilo), Kleptomania (Nopiah Widaningsih), Sepasang Anting Ibu (Fatih El Mumtaz), Di Atas Kardus Bekas (Fathromi R), Nyanyian Pria Kecil di Rumah Singgah (Riezky Vieramadhani Poetry), Tanah Surga (R. Bagus MEP).
***


Menyampaikan keprihatinan kepada orang-orang terlantar, fakir miskin, dan anak jalanan, bisa melalui media apa saja. Salah satunya lewat cerpen. Bacalah buku ini, hal itu akan Anda temukan; Tragis, mengharu biru, menyentuh hati. Cerita-cerita yang menginspirasi~Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…