• Info Terkini

    Senin, 13 Juni 2016

    Lima Jam Bersama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia


    Oleh: Eka Sutarmi


    Hari Sabtu kemarin, saya senang sekali karena bisa berkesempatan untuk menghadiri sebuah acara yang sangat menarik dan insya’allah berkah, yaitutalkshow kepenulisan, yang diselenggarakan oleh FAM (Forum Aktif Menulis) Indonesia di STAIN Kediri. Saya mengetahui informasi ini dari halaman facebook. Karena saya baca info tersebut, aksesnya cukup mudah, akhirnya saya berniat untuk ikut.

    Sebenarnya tidak hanya talkshow kepenulisan saja, namun ada dua acara yang lainnya, yaitu Launching program FAM goes to School/Campus dan Lomba baca Puisi se-Kabupaten Kediri. Saya kurang tahu persis penyusunan ketiga jenis acara ini bagaimana, karena memang tidak disebutkan dalam brosur pengumumannya. Untuk memperjelas acara tersebut saya menghubungi CePe, tetapi hanya hal-hal umum saja yang saya tanyakan, tidak sampai pada susunan acara.

    Sehari sebelumnya, saya mengajak Adik saya, ternyata ia ada janjian dengan temannya untuk belajar kelompok. Setelah saya tawarkan kepada teman satu kamar kos saya, ia mau. Saya akan berangkat bersamanya dan esok pagi  kita berangkat. Tertulis di brosur bahwa acara dimulai pukul 08. 00.

    Pagi itu hari cukup terang. Semburat cahaya pagi menemani keberangkatan kami ke Kediri. Perjalanan memakan waktu satu jam lebih. Sebenarnya satu jam saja sudah sampai. Tetapi, saya sempat lupa arah menuju ke Kampus STAIN Kediri. Setelah bertanya berkali-kali, kami bisa menemukannya.

    Setelah memasuki area kampus, tempat pertama yang saya tuju adalah pos satpam. Saya bertanya kepada satpam yang jaga tentang lokasi acara FAM. Dengan senang hati, beliau menunjukkan arahnya. Kami berjalan menuju aula utama di lantai 4. 

    Terdengar dari bawah, suara musik masih menggema. Syukurlah, berarti acara belum dimulai. Memasuki aula, kami harus registrasi dulu, menuliskan nama dan asal kampusnya, baru kami menempati tempat duduk yang disediakan. Saya mengajak teman saya untuk duduk di kursi paling depan agar bisa dengan jelas menyaksikan setiap rangkaian acaranya. Kebetulan kursi paling depan tidak ada yang menempati, jadi anggap saja kursi baris kedua yang paling depan. Kalangan mahasiswa yang datang ada beberapa saja, termasuk kami berdua. Kursi yang tersedia dipenuhi oleh para pelajar (SMP dan SMA) yang ikut lomba baca Puisi dan juga guru pemdamping. 

    Pukul 08.45 acara dimulai. Sang moderator membuka acara dan membacakan susunan acarannya. Setelah acara dibuka, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panita, yaitu Ibu. Arifa Sulandari. Selain sebagai ketua panitia, di FAM beliau juga sebagai koordinator divisi perempuan. Dalam sambutanya, beliau menyampaikan, khususnya untuk para pelajar tingkat SMP dan SMA bahwa lomba baca puisi selain bisa mengukur sejauh mana kemampuan dalam membaca puisi, juga diharapkan setelah para pelajar cinta dengan salah satu bentuk kegiatan literasi ini (baca puisi), akan mampu mendorong siswa untuk melahirkan karya dalam bentuk tulisan. 

    Bu. Arifa juga menyampaikan bahwa berkaitan dengan program FAM goes to school/campus dengan mengangkat tema tentang menulis (Ayo Kediri Menulis), semata-mata merupakan ketertarikan FAM sendiri untuk mengajak para pelajar dan juga mahasiswa untuk berkarya.

                Setelah sambutan, acara dilanjutkan lomba baca puisi untuk nomor undian 1-10. Teks puisi ditentukan oleh panitia. Ada dua jenis puisi, yaitu puisi karya SapardiDjoko Damono berjudul “Dalam Do’aku” dan karya Afrizal Malna dengan puisi berjudul “Asia Membaca”. Ada sebagaian peserta yang membacakan puisi “Dalam Do’aku” dan ada yang membacakan puisi “Asia Membaca”. Saya yang notabene tidak pandai membaca puisi, melihat penampilan mereka merasakan kagum, merinding, bahkan aku sampai tertegun karena beberapa peserta yang sangat menjiwai terhadap isi puisi yang dibawakan.


    Pembacaan puisi oleh salah satu peserta lomba
    Acara selanjutnya adalah launching program FAM goes to School/Campusyang oleh Ibu. Aliya Nurlela (Pendiri FAM Indonesia). Yang semula hanya tahu beliau lewat halaman fesbuk, kali ini saya berkesempatan untuk bertatap muka langsung dengan beliau. Paparan yang sangat menarik dan menggugah beliau sampaikan. Pertama, beliau memperkenalkan diri. Ibu. Aliya Nurlela meyampaikan banyak hal tentang dirinya. Seperti halnya hobi menulis yang dilkoni sejak kecil dan pengalaman pertama mengirimkan karya dimedia yang menjadi kenagnan yang tak terlupakan. 

    “Bebicara tentang menulis, saya suka menulis memang sejak kecil. Tetapi, usia 14 tahun baru mulai mengirim karya ke media dan untuk jaman dulu tidak seperti sekarang yang mudah sekali, pakai e-mail yang anak-anak kecil saja sudah pintar main e-mail. Jaman dulu ngetik saja harus manual dan susah-susah ke kantor pos beli perangko dan ketikan amburadul tanpa minta penilaian dari orang tua, Itu kenangan yang tidak bisa dilupakan.  Waktu itu honor satu tulisan Rp. 1000,- dan itu diantar ke sekolah dan merasa sangat bangga, karena biasa kalau di sekolah guru-guru memanggil ke depan, jadi ini anak yang suka nulis gitu kan. Itu kenangan yang tidak bisa dilupakan” Jelasnya.

     Cerita menarik dari beliau saat memperkenalkan novel karyanya. Selain ada buku non-fiksi dan buku antologi yang ditulisnya, beliau menulis dua buah Novel, yaitu  Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh dan Senyum Gadis Bell’ Palsy. Kedua Novel tersebut tersebut ditulis berangkat dari pengalaman prbadi yang dibumbui bahasa fiksi. Novel “Lukisan Cahaya dari Batasa Kota Galuh” merupakan Novel yang berlatar belakang tanah kelahirannya sendiri, yaitu salah satu kota di Ciamis. Kota Galuh sengaja dimasukkan oleh penulis, dengan harapan lewat tulisan itu, berharap Kota kelahirannya akan menjadi seperti Belitung. Karena lewat tulisan Andrea Hirata yang mendunia, yang semula Belitung sebagai Kota terpencil, menjadi terangkat.

                Novel Senyum Gadis Bell’s Palsy juga terinspirasi dari pengalaman nyata.Novel tersebut dilatarbelakangi penyakit Bell’s Palsy yang beliau alami beberapa tahun terakhir. "Saya adalah satu orang yang terkena sakit Bell’s Passy. Sakit Bells’s Passy itu menyerang wajah hanya separo dan berbeda dengan stroke. Saat ini saya sedang masa penyembuhan. Akibat sakit itu membuat wajah tidak simetris. Tertawa tidak sesuai, senyum tidak susai dan itu bikin mangkel di awal-awal terkena. Saya pernah terpuruk dan kehilangan kepercayaan diri, bahkan mengira tidak akan pernah berani tampil lagi di hadapan publik. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkat aktivitas menulis yang saya tekuni dan berani tampil di depan umum, masa-masa tersebut dapat dilewati," ungkap Ibu. Aliya Nurlela yang juga Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

                Buku Bell’s Passy  memberikan keberkahan tersendiri bagi Ibu. Aliya Nurlela dan bisa memberikan manfa’at untuk orang lain, karena setelah buku tersebut diluncurkan, justru kebanyakan pembelinya adalah orang yang terkena penyakit itu. Kebanyakan orang yang terkena penyakit Bell’s Passy sangat terpuruk, malu, tidak berani muncul. Ketika tahu ada juga yang terkena penyakit yang sama, sehingga banyak orang yang sharing dengan beliau. Selain itu Novel tersebut juga pernah dijadikan bahan skripsi oleh mahasiswa. Bahkan berkat buku tesebut, profil beliau pernah dimuat di beberapa media. 
    Aliya Nurlela mengisahkan dua novel karyanya
    Setelah memperkenalkan diri, juga memperkenalkan FAM Indonesia sendiri yang beliau dirikan bersama seorang penulis lainnya, yaitu Muhammad Subhan. “Karena sama-sama penulis, kita membuat sebuah komunitas, wadah Forum Aktif Menulis (FAM) dengan harapan para penulis atau orang-orang yang mencintai kepenulisan bisa aktif, sehingga dibentuklah FAM.” Terang Ibu. Aliya saat memberikan sedikit penjelasan mengenai latar belakang berdirinya FAM Indonesia.

    Gagasan berdirinya FAM juga berawal dari sebuah karya. Awalnya beliau bersama Bapak. Muhammad Subhan menulis bersama, saling mengulas karya, dan akhirnya jadilah buku antologi cerpen berjudul FESBUK. “Dari terbitnya buku FESBUK, kita akhirnya membuat sebuah wadah dengan harapan ingin merangkul para penulis-penulis pemula, karena banyak orang yang minat menulis tapi tidak tahu caranya, banyak sekali itu. Jadi, sangat sayang sekali kalau tidak tahu caranya.” Ungkap Ibu. Aliya. Selian itu, maish banyak lagi berkaitan dengan FAM yang beliau paparkan, seperti tujuan FAM, kegiatan FAM, anggota FAM, cabang FAM, Divisi FAM, dll. 

    Berkaitan dengan FAM goes to School/Campus dengan tema “Ayo Kediri Menulis”. Ibu. Aliya Nurlela menjelaskan bahwa FAM Indonesia mengajak berkarya bersama siswa dan mahasiswa, khususnya Kota. Kediri, melalui kegiatan menulis yang akan diadakan di sekolah dan kampus untuk merealisasikan slogan “Ayo Kediri Menulis”. Dijelaskan pula macam-macam kegiatan gerakan FAM goes to school/campus, peserta, waktu dan tempat, dll. 

    Diakhir, Ibu. Aliya Nurlela mmeberikan bonus beberapa tips terkait dengan kegiatan baca-tulis. Berikut adalah tips agar gemar membaca yang beliau sampaikan. Pertama, gemar membaca itu bisa kita ciptakan, yang bisa mengalokasikan waktu khusus. Setiap orang memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam, tetapi kalau tidak bisa mengkhususnya waktu membaca itu akan sulit. Sehari satu halaman tidak masalah, yang penting konsisten. Kedua, membuat target membaca, misalnya bulan ini kita ingin membaca Novel Senyum Gadis Bell’s Passy, harus tamat, jadi caranya dibagi saja halamanya. Ketiga, mulai dari bacaan yang disukai. Kalau masih pemula, jangan asal buku dulu yang dibaca. Pemula harus membaca buku yang disukai. Siapapun yang membaca buku yang tidak disukai pasti akan jenuh dan ngantuk. Keempat, bergaul dengan orang yang suka membaca. Jika kita bergaul dengan orang yang malas membaca, maka akan terpengaruh, begitu juga sebaliknya. Kelima, cari tempat yang asyik untuk membaca. Bahkan beliau pernah membaca diatas pohon Jambu, karena memang disitu tempatnya sangat asyik dan nyaman. 

    Untuk tips gemar menulis dari beliau, pertama, memiliki minat/keinginan menulis, kedua, memiliki komitmen untuk mewujudkan minat tersebut dengan membiasakan diri menulis. Ketiga, memulai menulis berdasarkan pengalaman pribadi, Keempat, bergaul dengan orang yang suka menulis, bergabung dengan komunitas kepenulisan, mengikuti seminar menulis, dll. Kelima, percaya diri mengirimkan karyanya ke media, mengikuti berbagai lomba kepenulisan, mengirimkan karya ke penerbit. 

    “Menulis dan membaca itu satu paket. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.” Terang beliau ketika mengakhiri sambutannya. 

    Kembali lagi, acara diisi dengan lomba baca puisi oleh pelajar tingkat SMA. Untuk ronde pertama, yang tampil adalah nomor urut 1-5. Setelah semua tampil, akhirnya kesempatan yang saya tunggu-tunggu datang, yaitu talkshow kepenulisan dengan narasumber Bapak.Eko Prasetyo, seorang wartawan Jawa Pos, penyair, dan juga penulis produktif dan dipandu oleh moderator Bapak. Yudha Prima, selian penulis produktif, baliau juga sebagai koordinator FAM Indonesia cabang Surabaya.


    Sebelum Bapak. Eko Prasetyo memyampaikan materinya, terlebih dahulu pemandu acara, Bapak. Yudha Prima juga menyampaikan sedikit motivasi pembuka acara talkshow ini. “Pernah dikatakan bahwa jika suatu negara tidak punya tentara akan aneh. Saya jadi berpikir, kalau tidak punya tentara saja, suatu negara dikatakan aneh, apalagi kalau suatu negara tidak punya penulis. Kalau saja tidak ada Bung. Karno dulu yang menulis, saya yakin Indonesia samai saat ini tidak akan pernah merdeka. Artinya apa, kedepannya tidak punya penulis lagi, Indonesia akan tenggelam. Jadi, untuk menenggelamkan Indonesia tidak perlu tsunami, tidak perlu badai apapun, cukup berhentilah menulis, maka Indonesia kana tenggelam.” Masihkah ada alasan untuk tidak menulis? 
    Yudha Prima selaku moderator talkshow
    Berikutnya motivasi menulis disampaikan langsung oleh Bapak. Eko Prasetyo, atau lebih akrabnya dipanggil Mas. Pras, seorang penggemar wedang kopi, anti rokok yang produktif menulis. Dengan Bahasa santai dan tidak bertele-tele, penjelasan yang belau sampaikan sangat mudah diterima.


    Pentingnya Literasi untuk Menghadapi MEA

    Pada akhir Februari, setelah tertunda beberapa kali, akhirnya diresmikan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), merupakan sebuah kabar gembira sekaligus sebagai tantangan, terutama untuk para pelajar. Kaitanya dengan literasi, implikasinya sangat luas pada MEA ini. Karena kalau berbicara tentang MEA, maka ketrampilan literasi itu berada pada posisi yang paling atas. Mengapa demikian, MEA ini memungkinkan tenaga-tenaga ahli atau tenaga kerja dari negara-negara ASEAN itu masuk ke Indonesia. Bahkan sudah terjadi sebelum MEA diresmikan, terutama buruh dari Tiongkok, Cina sudah masuk ribuan ke Indonesia dan mulai berangsung-angsur, seperti tenaga akuntan, tenaga medis, bahkan tenaga pendidik juga sudah masuk di sekolah-sekolah Internasional di Indonesia. Dan tidak memungkinkan juga para tutor sebaya, yang seumuran dengan pelajar dari negara-negara Asing masuk ke Indonesia. Dengan kondisi seperti ini, budaya literasi harus digalakkan agar bisa mengimbangi keadaan yang ada, sehingga bisa optimis dalam menghadapi era MEA ini.


    Beliau juga mengatakan bahwa hampir tidak ada profesi apapun yang tidak membutuhkan ketrampilan menulis. Beberapa tokoh beliau jadikan contoh bahwa dengan karya yang dibukukan bisa memberikan implikasi penting pada kehidupan, baik Individu, masyarakat, maupun kehidupan bernegara, seperti halnya Gus. Sholah (Salahuddin Wahid), Pramoedya Ananta Toer, RA. Kartini, dll. Terlebih Ibnu Sina, yang bisa menguasai peradaban dunia karena karyanya.


    Bahasa Tulis Itu Istimewa

    Bahasa Tulis lebih istimewa daripada Bahasa  Lisan. Bapak. Eko Prasetyo mengatakan bahwa ketika berbicara, apalagi berbicara di depan umum seringkali ada lubang atau jeda yang mengiringi. Bisanya pembicara akan mengatakan “err” atau “ehm” untuk menutup celah tersebut. Dalam Bahasa Tulis tidak ada istilah jeda atau celah, sehingga Bahasa Tulis lebih terstruktur. Ketika ada celah di dalam Bahasa Tulis, maka bisa-bisa pesan untuk pembaca tidak bisa tersampaikan dengan baik. 


    Meningkatkan Khasanah Bacaan
    Agar kualitas tulisan kita semakin bagus, maka membaca tidak boleh terlewatkan. Dengan membaca, maka banyak wawasan yang bisa kita miliki. Ide-ide menulis juga akan bisa didapatkan lewat bacaan yang kita baca. Khasanah bacaan memiliki peran penting dalam proses kreatif menulis.


    Cita-Cita Suzan dan Penulis

    Lagu anak-anak tahun 90-an yang dinyayikan oleh Ria Enes dengan tokoh Suzan ini sempat disinggung oleh Bapak. Eko Prasetyo. Judul lagunya adalah Suzan punya cita-cita. Dalam lagu tersebut Suzan punya beberapa cita-cita, antara lain Dokter, Insinyur, Presiden atau wakilnya, dll. Namun, Suzan tidak pernah bercita-cita jadi seorang penulis. Sehingga, cita-cita penulis masih belum terlalu populer. Kebanyakan anak-anak jika ditanya tentang cita-cita, mayoritas menjawab guru, dokter, insinyur, presiden, dll. 


    Tidak Boleh Jadi Penulis Egois

    Ketika kita punya karya, beliau menyarankan untuk mempblikasikan karya tersebut, agar orang lain juga bisa membacanya. Jangan sampai ketika punya tulisan, dibaca-baca sendiri, dirasakan sendiri, tertawa-tertawa sendiri saat membacanya. Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membaca tulisan atau karya kita itu sangat penting. Siapa tahu tulisan tersebut memberikan manfa’at kepada orang lain. Apalagi ketika tulisan itu mendapat koreksi atau kritikan dari orang lain, malah akan membantu memperbaiki kesalahan yang telah dibuat.


    Pasti Setiap Orang Bisa Menulis

    Proses kreatif menulis itu sangat panjang, tidak instan. Ingat, menulis bukanlah bakat, tetapi menulis itu adalah ketrampilan. Karena menulis itu sebuah ketrampilan, maka sejatinya kegiatan menulis itu bisa dilatih. Jadi setiap orang sebenarnya bisa menulis, sebab everybody has a story, so everybody can write; Setiap orang itu pasti punya cerita, dan mereka bisa menuliskanya.


    Ide menulis akan jauh lebih mudah didapatkan dengan mengaitkan topik topik yang ingin ditulis dengan bidang yang ditekuni. Bapak. Eko Prasetyo sendiri beberapa buku karyanya juga berangkat dari pengalaman pribadi yang dikaitkan dengan bidang yang ditekuninya, salah satunya adalah buku “Ketrampilan Berbahasa”. Beliau sering menemukan permasalahan kebahasaan yang terlihat sepele namun sangat krusial, yang kelihatanya lazim digunakan, namun ternyata salah. Berkat kepekaan berbahasanya, lalu dituangkan dalam tulisan, maka  jadilah buku tersebut sebagai solusi atas persoalan itu.

    Jika memang sudah kepepet tidak ada ide yang muncul, tidak tahu harus menulis apa, tidak mengerti caranya menulis bagaimana, sehendaknya mencoba cara menulis yang paling sederhana dari beliau. Mitra tutur atau lawan bicara ternyata bisa dijadikan bahan tepat untuk ide menulis. Dimana, saat sedang berbicara dengan lawan bicara kita, maka sempatkan untuk merekam. Dari rekaman tersebut, kita bisa menuliskan transkripnya, lalu dikembangkan.
    Penyampaian motivasi kepenulisan oleh Eko Prasetyo

    Di atas adalah informasi penting yang berhasil saya tangkap saat mendengarkan motivasi dan pencerahan dari Bapak. Eko Prasetyo selaku narasumber dalam acara talkshow kepenulisan yang digelar oleh FAM Indonesia di STAIN Kediri kali ini. Senang sekali bisa bertatap muka dengan beliau, sehingga saya berkesempatan mendapatkan ilmunya.

    Setelah acara talkshow selesai, acara selanjutnya masih menyelesaikan lomba puisi, karena masih ada beberapa siswa yang tersisa. Acara terakhir adalah pengumuman pemenang lomba, pemberian penghargaan untuk para pemenang, quiz untuk mendapatkan doorprize, pemberian penghargaan kepada pihak-pihak tertentu, dan diakhiri dengan foto bersama.
    Foto bersama
    sumber : http://blogane-ekasutarmi.blogspot.co.id/2016/05/lima-jam-bersama-forum-aktif-menulis.html
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Lima Jam Bersama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top