Skip to main content

Peraih Juara MTQ Tingkat Provinsi, Aktif Berdakwah bil Qalam

Murji Ni’am Es-Sunurryi nama pena dari Agus Ade Putra adalah Pemuda asli Minang kelahiran tanggal 24 Agustus 1992 di Jakarta. Asal  Kampung Tangah Kurai Taji kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.Bisa disapa dengan panggilan Murji atau Tuanku Sidi nan Mulie. Ia anak pertama dari dua saudara.

Hobi menulis dan membaca sejak kelas IV SD. Namun, masuk dalam dunia literasi sejak tahun 2013. Inspirasi itu timbul setelah mengalami kecelakaan yang hebat pada tahun tersebut. 

Ia pernah mengikuti MTQ mulai dari kecamatan hingga provinsi. Pernah meraih peringkat III lomba Kultum tingkat SMP/MTs Se-Sumatera Barat (diadakan oleh INS Kayutanam, 2006). Pernah aktif dalam bidang MTQ dan MQK di berbagai cabang perlombaan (2007-2014). Pernah menjadi pemenang I dalam MTQ cabang Khutbah Jumat tingkat kecamatan dan kabupaten (2010). Pernah meraih Juara I membaca kitab kuning/MQK antar pesantren tingkat Kabupaten Padang Pariaman (2010). Juara III  tingkat Provinsi Sumatera Barat (2011). Pernah menjadi pemenang II dalam MTQ cabang Syarhil Quran tingkat Kota Pariaman (2011).

Adapun karya-karya yang sudah terbit di antaranya buku nonfiksi;Tuntunan Dasar Agama Islam (2015 sedang direvisi). Dan fiksi;  Peladang (Novel)Jati Diri (Kumpulan Puisi 2015), Dua Gelombang (Novel Minang 2015). Sebuah karya lain terkumpul dalam antologi bersama, yaitu; Raja Tiga Malam (Cerpen 2015), Untaian Kata Untuk Sahabat (Puisi 2015), Indahnya Lukisan Dunia (Puisi 2015), Untaian Kata Untuk Ibu Tercinta (Puisi 2015).

Selain menulis, ia pun juga mengajar ngaji mulai dari Surat Iqra, Al-quran sampai Kitab Kuning. Ia dikenal sebagai ulama muda di kampungnya. Kadang, juga mengajar silat kepada anak-anak dan adik-adik didikannya. Membuka ruang baca serta latihan menulis bagi anak-anak di Singguling Lubuk Alung. Tepatnya Surau Ambacang Singguling. Dan juga membuka RSH (Rumah Sehat Herba)/Bekam pengobatan ala Rasulullah SAW yang bernama Minza’atul Asinnah.


Anak pertama dari Bapak Syamsuir  dan Ibu Nurmi ini, resmi bergabung dengan FAM Indonesia pada tahun 2015 dengan nomor: IDFAM3610M.Menurutnya, senang sekali bisa berbagi inspirasi dan motivasi serta nasehat  pada teman-teman se-Indonesia. Untuk mengenal lebih dekat, bisa hubungi via email:agus_adeputra@yahoo.co.id. Facebook: “Murji Ni’am Es-Sunurryi.” Twitter: “@agus_adeputra”. Blog: www.bukukecilmurji.blogspot.co.id. Handphone: 081266794905/ 085658444296.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…