• Info Terkini

    Thursday, July 14, 2016

    Menafsir Sebuah Senyuman (Proses Kreatif Buku Kumpulan Cerpen "Senyum Nolina”)

    Oleh:  Dedi Saeful Anwar

    Dalam hidup setiap manusia pasti pernah mengalami hal yang membuat menangis dan tersenyum. Sedih juga bahagia, sehat serta sakit adalah bagian dari rasa dan keadaan yang selalu menyapa keseharian kita. Namun persoalannya, sejauh mana kita mampu memaknai perasaan itu. Kita diajarkan untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, begitu pula sebaliknya, tidak seharusnya kita terjebak dalam euphoria kesenangan atau kebahagian. Akan lebih bijak seandainya kita mampu menakar rasa senang dan sedih itu dalam porsi yang sewajarnya.
    Atas dasar itu semua, saya berusaha menafsirkan sebuah senyuman. Apakah senyuman itu memang ekspresi dari rasa senang atau sebuah senyum hanya untuk menutupi perasaan duka mendalam yang sudah terlalu sering menyapa? Berawal dari interaksi dengan kepolosan seorang gadis kecil yang mampu mengiris hati manakala ia mendapatkan sebuah ketidakadilan dalam hidupnya hanya karena keterbatasan yang ia miliki. Sementara tiada satu pun manusia di bumi ini yang meminta terlahir dalam ketidaksempurnaan. Malah sebaliknya, kita yang memiliki kesempurnaan fisik, terkadang sering melakukan hal yang tanpa disadari bersikap jauh dari rasa beryukur.
    Ada rasa pedih manakala menyaksikan ketidakadilan yang nyata dan menohok mata.  Lantas mengetuk hati untuk berbuat sesuatu, berharap bisa mengobati hati yang terlanjur lirih. Menuangkan perasaan ini dengan menulis, inilah yang mampu saya lakukan. Banyak orang yang melakukan aksi protes akan ketidakadilan, dengan cara melakukan demontrasi turun ke jalan sambil mengusung spanduk yang bertuliskan kata-kata umpatan juga hujatan. Tidak sedikit pula yang berkoar menyuarakan perasaannya melalui corong pengeras suara dengan segala sumpah serapahnya. Semua sah-sah saja, asalkan menuhi aturan yang berlaku.
    Sementara bagi saya media untuk menyuarakan hati atas apa yang dilihat, didengar dan dirasakan adalah melalui tulisan. Sebuah tulisan atau rangkaian kata diharapkan mampu mengekspresikan atau mengungkapkan pikiran dan perasaan. Sehingga tulisan itu akan sampai  di hadapan para pembaca. Bahkan, berharap pula mampu menembus sekaligus merubuhkan tembok ketidakadilan yang angkuh. Hingga melintasi ruang dan waktu.
    Berbicara ketidakadilan, hampir setiap orang pula pernah mendengarnya, melihat bahkan mengalami dan merasakannya. Reaksi atas fenomena ini tentu saja berbeda bagi setiap orang dalam menyikapinya. Setiap hari kita pun sering mendengar dan melihat berbagai pemberitaan  tentang ketidakadilan. Baik melalui media cetak maupun elektronik. Semua berjejal memenuhi ruang otak kita yang hanya sekepalan tangan ini. Jika tak mampu meredam semua itu, kiranya meledaklah otak ini yang tidak mustahil akan berwujud menjadi sebuah schizophrenia.
    Bersyukurkah kita, bahwa Allah SWT memberikan kita qolbu (hati). Dengan hati kita mampu menyaring dan menahan luapan emosi yang menjejali otak kita setiap hari. Dengan hati kita mampu berempati, dan dengan hati pula kita mampu mengobati luka hati. Untuk itulah, saya berusaha memotret semua bentuk ketidakadilan dalam denyut nadi kehidupan di negeri ini, menjadi rangkaian kata dan kalimat sederhana namum berharap mampu diterima semua lapisan.
    Awalnya, saya menulis dalam bentuk puisi atau opini mini. Kemudian menuangkan beberapa tulisan tersebut ke dalam buku harian/diary. Ada pula yang berbentuk sebuah file yang diketik lalu disimpan dalam sebuah flash disk. Bahkan sekali waktu pernah flash disk tersebut terbakar dalam sebuah CPU saat menggunakan jasa rentalan komputer. Hilanglah semua arsip itu. Mereka raib tak terselamatkan. Mengenaskan!
    Setelah kejadian itu, saya berusaha menyimpan data-data tulisan lainnya dalam akun e-mail. Hingga kini  surat elektronik yang sudah berumur belasan tahun itu masih menyimpan tulisan-tulisan yang sudah cukup lama. Entah dari mana ide itu, saya hanya terdorong sebuah keinginan, bagaimana caranya agar file/ data hasil tulisan itu bisa aman dalam jangka waktu yang lama. Saat itu di dalam benak pernah terlintas untuk membuat blog. Hingga saya belajar membuat blog melalui buku panduan yang dibeli pada awal tahun 2000-an. Namun hal tersebut tidak terwujud karena ketika itu belum memiliki PC sendiri.
    Dulu saya sering mengetik di rentalan komputer, komputer milik saudara atau menggunakan fasilitas komputer di sekolah tempat saya bertugas. Namun dengan berkurangnya intensitas ke warnet,  akhirnya saya mengarsipkan tulisan-tulisan itu dalam beberapa keping compact disc. Hingga dari beberapa tulisan itu ada yang berumur hampir sepuluh tahun.
    Pertengah 2001 saya mencoba menulis beberapa cerpen dan carpon (carita pondok) cerita pendek yang berbahasa Daerah (Sunda) dalam buku harian. Kemudian sempat berhenti menulis dalam kurun waktu cukup lama. Barulah pada 2007 mencoba menulis cerpen lagi untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba yang diadakan oleh sebuah Majalah sekolah di Kota Cianjur. Saat itulah cerpen saya menjadi salah satu nominasi yang kemudian tergabung dalam buku ini bersama sebelas cerpen lainnya.
    Setelah memiliki sebuah komputer keluaran lama (baca:bekas) barulah saya bisa memindahkan dan menyimpan tulisan-tulisan tersebut. Saat itu terbersit dalam benak, yang penting saya bisa menyimpan tulisan-tulisan itu dengan aman. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benak saya untuk mengarsipkannya dalam sebuah buku. Mustahil rasanya.
    Namun, sejak mengenal media sosial (facebook) pada awal 2010, hobi menulis sepertinya mulai mendapat tempat lain. Selain sebagai media untuk berkomunikasi dengan sahabat lama maupun baru, media sosial ini digunakan pula untuk menulis beberapa catatan sederhana dan pendek. Sekarang, media sosial ini justru menjadi sarana paling mudah untuk menyalurkan hobi menulis. Mulai dari hanya membuat status yang pendek hingga menuliskan catatan lainnya, baik berupa opini, kata-kata mutiara, puisi maupun cerita pendek.
    Secercah harapan pun datang tanpa diduga. Ketika asyik berkencan dengan “mbah” Google  saya membaca sebuah kesempatan berupa ajang menulis. Sebuah event menulis puisi yang diselenggarakan oleh FAM Indonesia pada penghujung tahun 2012. Sejak itulah babak baru karir menulis saya dimulai.  Petualangan menulis pun terus berlayar. Hingga saya bergabung dengan beberapa grup kepenulisan lainnya yang cocok untuk dijadikan sumber pembelajaran. Ghirah menulis semakin tumbuh subur menggiring dan membimbing jemari ini menyapa tuts-tuts keyboard. Berpuluh even menulis saya ikuti sepanjang tahun 2013. Hingga melahirkan 26 buku antologi. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya. Buku Antologi puisi “Kejora yang Setia Berpijar” yang terbit pada Januari 2013 adalah adalah setitik api yang menyala dan merupakan benih semangat yang melahirkan “Senyum Nolina”.
    Dalam hidup ini, saya menjalaninya ibarat air mengalir. Semua yang terjadi di bumi ini adalah kehendak-Nya. Begitu pula saat berjumpa dengan FAM. Saya menyikapi hal ini merupakan sebuah anugrah, bukan kebetulan semata. Saya meyakini bahwa Allah SWT sudah merencanakan banyak hal indah dalam hidup ini termasuk perjumpaan dengan FAM. Namun semua itu rahasia-NYA. Saya semakin menikmati kegiatan menulis ini. Apa yang dirasakan lalu dituangkan dalam berbagai bentuk, baik opini, puisi atau cerpen.

    Sepanjang 2013, selain di FAM, saya berpetualang mengikuti beberapa even antologi di beberapa grup kepenulisan seperti: Penulis dan Sastra (PEDAS), Antologi Es Campur (ECA), Warung Antologi, Harfeey, Pena Meta Kata, Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN), Panggung Aksara Tarian Pena (PATP) maupun grup yang lainnya.  Semua grup kepenulisan itu tentu sangat memberikan kontribusi dalam perkembangan menulis saya. Hal itu juga memberikan ruang kreatif yang lebih luas lagi, jadi tidak ada salahnya jika berterima kasih dan angkat topi kepada grup atau wadah kepenulisan yang telah turut serta memberikan ilmunya kepada saya. Baik kepada para Admin (pengurus grup tersebut maupun kepada para anggotanya yang sekaligus menjadikan saya lebih banyak teman bahkan saudara baru).
    Kemudian, di penghujung 2013 muncul keinginan untuk mendokumentasikan karya–karya yang tercecer itu menjadi sebuah buku tunggal sekaligus menerbitkannya. Walau ada rasa ragu yang sangat kuat, namun berkat dorongan semangat dari beberapa teman dan kesempatan yang diberikan oleh FAM Publishing yang terbuka sangat lebar, saya terus berusaha mewujudkan impian tersebut.
    Dalam mewujudkan sebuah keinginan atau cita-cita tentu bukan perkara mudah dan tidak mulus begitu saja. Semua perlu kesungguhan dan niat yang kuat dibarengi dengan kesabaran dan keikhlasan. Apalagi waktu yang dimiliki harus terbagi untuk beberapa kegiatan dan kepentingan lainnya, seperti rutinitas pekerjaan, keluarga dan hal mendadak lainnya yang tidak bisa ditangguhkan. Karena itulah, sejak bulan Juli 2013 saya mulai mengumpulkan naskah-naskah yang tercecer. Untuk kemudian dibaca ulang. Ada yang kalimatnya ditambah maupun dikurangi, ada yang berganti judul bahkan ada pula yang berkali-kali nama tokohnya saya ganti untuk disesuaikan dengan tema dan alur cerita.
    Saya memasang target, bahwa buku ini terbit tepat di hari kelahiran, yaitu November 2013. Lalu, menyisihkan waktu di malam hari untuk sekadar membaca  ulang dan mengoreksi tulisan yang dirasa kurang pas, itu pun jika lelah tidak terkuras karena siang hari disibukkan dengan pekerjaan rutin juga kegiatan lainnya hingga menjelang sore. Beberapa naskah lama dan baru saya siapkan. Hingga terkumpullah dua puluh dua cerpen yang disiapkan untuk buku kumpulan cerpen pertama ini.
    Menginjak bulan Agustus 2013 di tengah semangat menggebu untuk menyelesaikan beberapa naskah, saya lupa dengan kondisi badan hingga sebuah rasa sakit muncul dan mengganggu aktivitas. Walau tidak begitu parah namun penyakit yang dirasa cukup mengurangi intensitas duduk di depan komputer. Saya tidak bisa terlalu lama duduk. Sehingga target ingin menyelesikan naskah bulan September 2013 pun akhirnya gagal.
    Selama menyusun karya tunggal pertama ini, saya masih tetap mengikuti beberapa even menulis lainnya jika ada tema yang cocok. Hal itu dilakukan demi menghindari kejenuhan dan kebuntuan ide. Menginjak September 2013, saya menghentikan pengejaran target ini dikarenakan harus menyelesaikan berbagai tugas mengajar dan pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan.
    Menginjak awal Oktober 2013 awan mendung kembali menggayut dalam proses mewujudkan cita-cita ini. Tepat pada 5 Oktober 2013, saat megedit naskah, sebuah berita mengejutkan dari jarak puluhan kilometer datang melalu telepon seluler, sekitar jam sepuluh malam. Ibu tercinta pergi menghadap-Nya di tengah semangat mewujudkan impian ini. Manusia hanya berencana, Allah SWT memiliki rencana lain. Ingin hati mempersembahkan sebuah buku tunggal ini ke hadapan beliau, namun Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Pagi hari, 6 Oktober 2013 saya mengantarkan jenazah beliau hingga ke peristirahatan terakhirnya tepat di hari kelahiran putri bungsu. Padahal hari itu saya berniat akan menjenguk Ibu sambil bersyukur memanjatkan doa-doa dan berkumpul menikmati nasi kuning sebagai bentuk rasa syukur.
    Semenjak kepergian ibunda, berhari-hari saya kehilangan semangat menulis (writer's block). Saya tak mampu menuliskan sebuah kalimat pun. Rasa duka mendalam terus menggelayuti benak dan perasaan. Kehilangan orang tercinta serta yang begitu dekat sekaligus paling dihormati benar-benar memukul semangat hidup. Barulah, pada minggu kedua sejak kepergian beliau, sedikit demi sedikit semangat untuk mencurahkan ide mulai berdatangan kembali.
    Bulan November lewat begitu saja. Hari kelahiran tidak mewujudkan buku tunggal seperti apa yang diimpikan. Saya  kembali berkutat dengan naskah-naskah yang belum tuntas. Tetapi, Allah SWT masih menguji kesabaran. Tepat di bulan November 2013 rasa sakit yang kurasa sejak beberapa bulan sebelumnya kian mengganggu. Kaki kanan saya tidak bisa bergerak normal. Setiap digerakan terasa sakit yang luar biasa. Duduk, jongkok dan berjalan pun tidak bisa dilakukan. Bahkan saat berbaring  atau tidur pun harus bergerak sangat hati-hati. Bila tidak, saraf kaki kanan seperti ditarik dan terasa sakit yang luar biasa. Saya berusaha menyelesaikan naskah-naskah sambil menahan sakit yang teramat sangat di sekitar pinggul, paha, betis hingga telapak kaki bagian kanan.
    Namun, demi mengejar target bahwa naskah-naskah tersebut harus selesai bulan Desember, maka saya berusaha menyelesaikan dan mengedit beberapa naskah sambil berbaring atau tengkurap di atas tempat tidur. Akhirnya saya pun memutuskan untuk mengurangi jumlah naskah yang akan diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen ini. Dengan pertimbangan ingin menerbitkan bertepatan dengan Milad FAM yang ke II pada 2 Maret 2013.
    Dari dua puluh dua cerpen, akhirnya yang dipilih hanya 12 saja. Delapan cerpen tidak sempat terselesaikan karena kondisi badan yang tidak mampu berlama-lama duduk di depan komputer. Sambil terus menjalani pengobatan, saya putuskan untuk segera menerbitkan kedua belas cerpen ini sebagai perwujudan rasa syukur. Perasaan khawatir dan tidak percaya diri terus menyelimuti perasaan ini. Sudah layakkah tulisan-tulisan itu diterbitkan? Berkat dorongan kuat dari keluarga, teman sesama penulis dan sahabat di sekeliling saya, akhirnya kekuatan itu muncul.
    Muluskah? Ternyata tidak. Sebuah ujian datang kembali. Walau kali ini tidak berdampak langsung kepada saya, namun harus menangguhkan lahirnya “Senyum Nolina”. Kali ini sebuah ujian yang tidak bisa dihindari manusia di mana pun, yaitu Erupsi Gunung Kelud. Musibah yang melanda negeri ini pada 14 Februari 2013. Kantor FAM berada di Kediri, tak jauh dari lokasi kejadian. Akhirnya penerbitan buku ini, kembali tertunda. Saya kembali diingatkan, bahwa manusia memang hanya mampu merancang rencana, tetapi Allah SWT yang Maha Kuasa. Saya sungguh menikmati dan mendapatkan banyak hikmah selama proses kelahiran “Senyum Nolina” ini.
    Saat buku ini sudah siap terbit, saya sempat pula dihadapkan dengan kebingungan untuk memilih 3 (tiga) judul yang dianggap mewakili isi buku ini. Selain itu saya musti mencari gambar yang cocok untuk dijadikan kovernya. Ini menjadi tantangan lain demi maskimalnya sebuah karya.
    Dalam menentukan judul pilihan, saya berusaha mengajak istri untuk berdiskusi tentang tiga judul yang diajukan penerbit. Setelah beberapa hari melalui perdebatan kecil dan berbagai pertimbangan, akhirnya terpilihlah “Senyum Nolina”. Tokoh Nolina seakan ingin mengatakan bahwa kita musti menghadapi berbagai rintangan dan cobaan dalam hidup ini  dengan tawadhu. Langit tak selamanya mendung, begitu pun hujan. Dia akan segera pergi dan meninggalkan berjuta titik air lalu memunculkan warn-warni nan elok membentuk garis pelangi saat dipinang cahaya matahari.
    Kemudian dalam mencari ide menentukan gambar kover, awalnya saya mencoba searching di google. Beberapa gambar kemudian dikoleksi, namun tidak satu pun yang dirasa cocok atau pas. Lantas, saya menangkap ide untuk meminta bantuan seorang keponakan dan adik. Kebetulan mereka berdua memiliki kemampuan dalam hal ilustrasi maupun menggambar. Beberapa gambar pun saya peroleh dari mereka. Sungguh, Allah SWT memberikan kemudahan dalam hal ini. Seperti yang tertuang dalam QS: Al-Insyirah, ayat 5-6 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.  Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
    Adik dan keponakan saya itu benar-benar ikhlas membantu. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka. Akhirnya terpilihlah sebuah gambar yang kini menghiasi sampul depan buku Kumpulan Cerpen  “Senyum Nolina” ini adalah karya adik saya, M. Ali Nurjamil, S.Pd.
    ***
    Alhamdulillah, rasa syukur sudah sepatutnya tercurah pada-Nya. Melalui berbagai rintangan dan tantangan naskah-naskah yang tercecer kini berubah wujud menjadi buku. Sebuah buku yang berusaha mengangkat beragam kisah yang tergurat pada keriput wajah negeri ini, dalam bentuk fiksi (kumpulan cerpen). Perjuangan hidup, kemiskinan, carut-marut sosial-ekonomi, menumbuhkan jiwa entreupreneurship, potret buram dunia pendidikan, nilai-nilai budaya yang kian luntur, permasalahan dunia anak dan remaja, hingga menumbuhkan rasa empati pada sesama, semua terangkum menjadi napas dalam rangkaian kisah pada buku ini. Melalui rangkaian kata yang sederhana namun mudah untuk disimak juga tanpa banyak bertele-tele, buku ini disajikan demi memaknai hidup.
    Senyum Nolina” lahir dari proses penyelaman kehidupan yang selama ini dialami, didengar dan dirasakan. Betapa hidup ini masih memerlukan uluran tangan para pemilik hati yang ikhlas dan tulus. “Senyum Nolina” menyiratkan guratan hidup yang teramat penuh liku perjuangan. Tidak mudah menghadapi hidup, namun bukan pula berarti hidup ini harus sia-sia. Di luar sana masih ada, bahkan tidak sedikit yang perlu dibenahi. Meraih cita-cita ternyata tidak semudah memetik bunga melati. Masih banyak kaum marjinal yang semakin tersisihkan, sementara para pemilik negeri yang memiliki janji-janji masih lelap dalam mimpi-mimpi.
    Senyum Nolina”, ingin membuka lembaran baru yang penuh rasa optimis setelah melalui rintangan dan ujian. Ia tak ingin hidupnya terus berada di bawah payung awan gelap, tidak ingin beralama-lama dalam deras rinai. Ia ingin memandang pelangi, berharap kilau matahari mencandai embun-embun segar di pagi hari. Dan ia selalu merajut mimpi. “Senyum Nolina” ingin mengisi hidupnya dengan guratan prestasi demi mewujudkan lukisan mimpi-mimpi yang pernah digores pada garis pelangi.
    Seperti yang saya kisahkan di atas, bahwa dalam proses lahirnya buku ini, sempat menghadapi masa berkabung yang dalam atas kepergian ibu. Untuk itulah saya persembahkan buku ini secara khusus kepada beliau, sosok wanita lembut yang berselimut kasih dan sayang. Wanita yang selalu siap mengusapkan halus tangannya manakala anak-anaknya menghadapi kegetiran hidup. Seorang inspirator yang selalu mengisi tempat khusus dalam hati ini. Tentunya tak lupa pula kepada almarhum ayah, yang telah jauh lebih dahulu menghadap Illahi. Inilah persembahan ananda yang berusaha mengikuti tauladan dengan menebarkan senyuman. Love you Dad, love you Mom. You’ve given me millions inspirations. I do!
    Akhir kata, kepada semua saudara, rekan dan teman, sahabat, murid-murid, serta pembaca pada umumnya, selamat membaca “Senyum Nolina”!
    Cianjur, 19 Maret 2014

    Salam santun!
    Dedi Saeful Anwar (IDFAM-1196U)





    Keterangan:

    1. Foto: sampul buku kumpulan cerpen “Senyum Nolina” terbitan FAM Publishing.
    2. Untuk pembelian buku, silakan menghubungi nomor 0812 5982 1511 (Tim FAM Indonesia) via telepon atau SMS.
    3. Tulis jumlah eksemplar buku yang ingin Anda beli beserta nama dan alamat lengkap Anda. Harga per buku Rp38.000,- belum termasuk ongkos kirim.
    4. Tebal buku 131 halaman, dimensi 13 x 20 cm.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menafsir Sebuah Senyuman (Proses Kreatif Buku Kumpulan Cerpen "Senyum Nolina”) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top