• Info Terkini

    Kamis, 28 Juli 2016

    Proses Kreatif Menulis: Sehimpun Puisi Lika-Liku-Laki-Luka

    Oleh: D.A.Akhyar


    LikaLikuLakiLuka -- Proses Kreatif terbentuknya sebuah karya (dalam hal ini puisi) tak bisa dilepaskan dari  proses belajar yang berasal dari dua hal, yakni : Inside Learning/ Learning by doing (belajar dari pengalaman) dan outside learning/learning by experience (belajar dari sumber lain).

    Dalam Inside Learning/ Learning by doing (belajar dari pengalaman) pengalaman memegang peran dominan dalam proses kreatif. Tiap apa yang dikecap atau dirasa, bisa menjadi sumber inspirasi. Lembar demi lembar peristiwa apabila mampu dituliskan akan menjelma menjadi ratusan  bahkan ribuan buku. Namun begitu, setiap orang memiliki ketertarikan yang beragam. Tidak semua peristiwa atau tempat mampu menggerakkan pena untuk merangkai kata. Dan yang pastinya hanya membidik apa yang tampak berkesan dan memiliki arti.

    Oleh karena itu dalam penulisan Sehimpun Puisi Lika-Liku-Laki-Luka terus belajar dari dua hal dalam proses kreatif tersebut. Dalam menciptakan puisi, itulah merupakan proses kreatif seseorang. Puisi tidak lahir begitu saja. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Tahapan-tahapan tersebut adalah kehidupan sehari-hari yang dijalani, dilihat, dirasakan, diamati, dan lain sebagainya.

    Ide atau inspirasi datang ketika kita memiliki kepekaan sosial. Saya terus mengasah kepekaan sosial tersebut dengan sering-sering membaca lingkungan. Hal ini saya rasakan dan lakukan, dikarenakan itulah, saya selalu berusaha memaknai apa saja yang tampak di depan mata, yang kudengar, dan yang kurasakan.

    Sehimpun puisi Lika-Liku-Laki-Luka yang pernah saya tuliskan ini merupakan sebuah karya yang terinspirasi dari puisi-puisi Joko Pinurbo dan Remy Sylado. Siapa yang tak tahu seorang Joko Pinurbo dengan puisi ‘Celananya’ itu. Joko Pinurbo dikenal sebagai penyair yang di dalam karya-karyanya sering mengangkat tema kehidupan manusia dengan bahasa yang ringan, sederhana, humoris dan terkadang nakal. Puisi-puisi Joko Pinurbo memang terkesan ‘asal-asalan’ karena bahasa yang dipilihnya merupakan bahasa sehari-hari yang biasa diucapkan dalam percakapan. Bahasanya terkesan biasa-biasa saja dan tidak mengandung nilai estetik, tetapi jika dilihat secara keseluruhan maka kata-kata yang terkesan biasa itu akan mendukung keseluruhan sajak menjadi begitu mengalir dan sarat makna. Meskipun terkesan ringan dan lucu, tidak semua puisi Joko Pinurbo bisa dianalisis menggunakan teori-teori struktural maupun pragmatik.

    D. A.Akhyar

    Sastra memang memiliki kemampuan untuk merekam ciri-ciri zamannya. Namun, yang perlu diingat adalah sastra juga sebuah kegiatan seni. Pengarang atau sastrawan harus senantiasa memperhatikan nilai-nilai estetis dalam gaya bahasa, komposisi, dan kekuatan penyampaian. Menunggu Matahari Melbourne sebuah karya Remy Sylado yang telah berhasil menjadi dokumen sosial (dan kebudayaan) yang komprehensif, tetapi novel ini akan menjadi jauh lebih bagus jika kritik-kritik sosial yang ada di dalamnya disampaikan dengan cara-cara yang lebih tersirat. Pesan-pesan dalam kritik sosial Remy sudah barang tentu sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia untuk dapat menyembuhkan berbagai penyakitnya.

    Begitu besarnya pengaruh gerakan puisi mbeling pada saat itu, seharusnya puisi mbeling pantas untuk selalu dikenang hingga saat ini. Sebab puisi mbeling telah menghadirkan pembaharuan dan warna baru dalam catatan sejarah kesusastraan di Indonesia, khususnya puisi kontemporer di Indonesia. Namun nyatanya, eksistensi puisi mbeling pada saat ini telah tenggelam. Hal itu disebabkan oleh pandangan yang menganggap puisi mbeling sebagai puisi lugu atau awam, main-main, dan hanya berkelakar tanpa melibatkan unsur-unsur murni puisi pada umumnya. Dengan kalimat lain, puisi mbeling distereotipkan sebagai puisi main-main yang tidak memiliki nilai estetik, tidak berbobot, dan tidak berpesan.

    Itulah saya tergerak untuk menuliskan sehimpun puisi bertajuk Lika-Liku-Laki-Luka. Dalam penulisan buku sehimpun puisi Lika-Liku-Laki-Luka ini, saya berusaha menelaah dan memahami hal yang kedua yaitu outside learning/learning by experience (belajar dari sumber lain) selain menggali inspirasi dari pengalaman diri, juga memanfaatkan pengetahuan dari luar untuk memicu sel-sel otak agar berkarya. Dari mana itu? Membaca buku-buku sastra (sejarah dan perkembangannya). Dan meluangkan waktu untuk belajar dari karya-karya para penyair terdahulu akan membuat diri semakin paham bagaimana sebuah proses kreatif itu dapat tercipta.

    Kepuitisan dapat dicapai dengan bermacam-macam cara, misalnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi; persajakan, aliterasi, asonansi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa, kiasan, sarana retorika, dan unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Antara unsur pernyataan (ekspresi), sarana kepuitisan, yang satu dengan yang lainnya saling membantu, saling memperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya, semuanya itu untuk mendapatkan kepuitisan seefektif mungkin, seintensif mungkin.

    Itulah proses kreatif dalam penulisan buku yang saya beri judul Lika-Liku-Laki-Luka, sebuah proses yang berusaha mengungkap sebuah rasa luka-luka yang menganga, mungkin kebenaran-kebenaran yang saya temukan dari hasil penyelidikan sendiri. Dengan kata lain, kebenaran yang telah sesuai dengan realitas; pertemuan antara ide dan fenomena. Melihat sebuah fenomena yang terjadi, dan merasakan apa yang telah terjadi saat itu. Itulah rekam jejak yang pernah saya tulis dalam sehimpun puisi bertajuk Lika-Liku-Laki-Luka. [da]

    Teluk Betung Barat -Bandar Lampung
    Juli 2016M/Syawwal 1437H
    D.A.Akhyar

    *Buku ini diterbitkan oleh FAM Publishing_Divisi Penerbitan FAM Indonesia. 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Proses Kreatif Menulis: Sehimpun Puisi Lika-Liku-Laki-Luka Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top