• Info Terkini

    Senin, 25 Juli 2016

    Puisi-Puisi Fitriani Wahdah

    NOVA FITRIANI WAHDAH. Lahir di Gertok, Lombok Barat pada tanggal 31 Oktober 1992. Anak pertama dari 3 bersaudara. Menamatkan pendidikan Sarjana di Universitas Mataram, Prodi Pendidikan Biologi. Saat ini sedang melanjutkan S2 di Universitas Negeri Malang. Menyukai tulis menulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Bertekad menjadi penulis walau ia mengaku sering gagal. 

    MALAM YANG CACAT

    aku adalah malam di pantai yang tak berbintang
    tanpa rembulan
    dan hanya dingin yang ‘kan kau temukan
    namun apa gerangan yang membuatmu datang?
    pertanyaan itulah yang selalu menggelayuti dinding bisuku
    dan kujawab “kau hanya tersesat untuk sementara” 
    lalu kutanamkan pada embusan angin yang membeku
    agar tak ada yang berubah dengan ketidaksempurnaan ini
    tapi sepertinya aku salah mengizinkanmu terlalu lama tersesat dalam gelap ini
    dan membiarkan kehangatan sikapmu hancurkan segala pikiran buruk tentangmu
    hingga lambat laun kusadari bahwa tak mungkin selamanya kau di tempat gelap ini
    bukan maksudku mengusirmu
    bukan...
    dan tak mungkin bagiku berlari menjauh darimu, karena aku hanya malam yang diam
    andai kau tahu bahwa saat ini aku sedang berusaha menghadirkan rembulan dan bintang dengan sepercik api untuk mencairkan bekuku
    dengan harapan suatu hari nanti kau ‘kan tersesat lagi di tempat ini 
    namun jika tempat lain telah ditetapkan untukmu
    kuyakini itu lebih baik dari tempatku dan yang terbaik untukmu
    sampai jumpa kuucapkan dari palung sunyiku

    SALAMUN ‘ALAIKUM

    Hati nanar yang berpacu dengan waktu
    Memburu setiap hela napas yang berujung rindu
    Berlari tanpa arah
    Maju, berlari mengejar bayang yang memudar
    Mundur, tertatih menyusuri jejak tak berpangkal
    Haruskah ia diam?
    Diam, sementara jelaga kenistaan semakin mencercanya
    Diam, sementara kepakan sayap lebah beracun kian mencibirnya
    Segalanya berputar, bergerak tanpa arti,
    Putarannya semakin memudarkan sekelebat suara nyata yang mengajak pergi
    Gelap
    Sunyi dan tak bertepi
    Tak ada yang tersisa
    Semuanya terhampar di padang tandus tanpa mimpi
    Ia berteriak, namun hanya gema teriakan yang kembali
    Apa yang harus dilakukan?
    Diam menanti akhir sambil memutar rentetan memori tak kembali?
    Ataukah mulai merekatkan jemari dan berharap cahaya akan datang dengan senyum terkembang sambil mengatakan “Salamun ‘Alaikum”

    Ingin menerbitkan buku & cetak majalah sekolah? Hubungi FAM Publishing di 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 comments:

    1. Bagus fa,
      Puisi yang saya paham In first read, Keren, jarang ada puisi yang membuat pembaca awam paham pada bacaan pertama, Good job

      BalasHapus

    Item Reviewed: Puisi-Puisi Fitriani Wahdah Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top