• Info Terkini

    Friday, July 15, 2016

    Tulah

    Oleh: Aliya Nurlela




    ADALAH aku yang sekarang berkubang dalam kenikmatan. Kenikmatan yang kuciptakan sendiri, meski awalnya sempat didera rasa ragu. Tapi, setelah sekian bulan kujalani rasa ragu itu tak ada lagi, justru aku menikmatinya. Sangat menikmatinya. Ha-ha-ha. Aku tertawa sendiri merasakan kegelian dan setengah kengerian ini.

                Sejak adik perempuanku dipermainkan Bayu, lelaki yang dikenalnya lewat jejaring sosial bernama facebook, dendam dan emosiku pada lelaki seakan tak ada habisnya. Nirna adikku memang bisa memaafkan Bayu, meski hatinya terluka. Aku bisa merasakan lukanya yang sangat. Ketika hatinya telah diserahkan bulat-bulat pada lelaki bernama Bayu itu, Nirna ditinggalkan begitu saja dengan alasan akan menikah dengan orang lain. Aku tak menyalahkan facebook yang telah menjembatani Nirna mengenal Bayu. Aku juga tak menyalahkan Nirna, adikku yang terlalu pendiam, lugu, sulit bicara dan hanya pandai menangis. Sedikitnya, aku sempat berterima kasih pada media bernama facebook, sebab berkat media itulah Nirna berani berkomunikasi dengan lawan jenis, yang di dunia nyata sulit dilakukannya.

    Lelaki yang bernama Bayu memberikan banyak perhatian pada Nirna, hingga membuat hari-hari Nirna lebih bersemangat dari biasanya. Aku suka melihat Nirna tersenyum.

                Sayang sekali keluguan Nirna dimanfaatkan Bayu, lelaki yang telah mampu membutakan mata hati Nirna. Atau memang demikianlah kelakuan lelaki itu pada setiap teman-teman wanita yang dikenalnya melalui facebook. Aku tak mau banyak tahu latar belakang lelaki itu. Aku hanya ingin membuat perhitungan dengannya tanpa sepengetahuan Nirna. Kalau Nirna terluka karena ulah seorang laki-laki di facebook, maka lelaki itu pun harus terluka karena ulah seorang wanita di facebook. Harus itu!

    ***

                Sudah tiga bulan aku menjelma menjadi Julia Chung di facebook. Aku mengaku keturunan Korea dan memasang foto profil seorang wanita muda asal Korea. Tentu saja bukan foto seorang artis Korea yang kuambil. Bisa-bisa teman-teman facebook-ku curiga kalau akun yang kupakai adalah akun palsu. Aku memang sengaja mengambil foto-foto gadis Korea yang tidak berprofesi sebagai artis di negaranya. Sebuah foto gadis Korea berhasil kuseleksi dan kutemukan fotonya dalam berbagai pose, lumayan untuk kujadikan perubahan foto profil berkali-kali. Ha-ha-ha... Siapa yang menyangka kalau di balik wajah cantik foto itu ada seorang lelaki berjambang yang menggerakkan akun itu. Lelaki berjambang itu, adalah aku; Yanto.

                Sebelumnya sudah kucoba dengan nama-nama lain, seperti Emma, Lidia, Malinda dan lainnya. Tapi tampaknya foto profilku yang berwajah Indonesia kurang disukai laki-laki. Tidak banyak laki-laki yang mengajak berteman, bahkan si Bayu tak juga menerima pertemananku. Kupilihlah nama Julia Chung dengan profil wanita cantik nan mulus asli Korea. Nah, benar saja, si Bayu lelaki hidung belang itu langsung menerima pertemanan, dan tampaknya dia terpesona dengan fotoku. “Hmmm... dasar si mata keranjang!” umpatku yang menatap foto profilnya dengan tatapan mata sinis.

             Mungkin akulah satu-satunya teman si Bayu yang paling rajin memberikan jempol. Memancing rasa simpatik. Sengaja memang. Itu aku lakukan untuk balas dendam, dan juga tidak harus terburu-buru. Kuberikan dulu jempol-jempol manisku di statusnya, agar dia terlena, dan lari mencariku ketika jempolku tak ada lagi. Ha-ha-ha...

    Ternyata aku cukup berbakat memperdaya si Bayu. Tanganku mengepal setiap akan memberikan jempol di statusnya, karena sebenarnya aku sangat membenci lelaki ini. Rasanya ingin kutumpahkan segera rasa dendamku, dengan cara kuumpat habis-habisan di dinding akun facebook-nya. Tapi... cara dia memperdaya adikku Nirna juga dengan cara halus, setelah Nirna masuk perangkapnya, barulah semena-mena meninggalkannya. Melukai hatinya, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Lalu, mungkin dia terbang lagi memperdaya korban berikutnya. Parahnya lagi, bukan hati Nirna saja yang dilukai, tapi uang tabungan Nirna habis terkuras. Nirna rela memberikan uangnya setiap lelaki itu mengeluhkan keadaannya. Meskipun Nirna belum pernah sekalipun bertemu Bayu, tapi ia sangat percaya pada lelaki itu.

    Kejailanku kali ini, berkat belajar dari tingkah polah si Bayu juga. Kalau lelaki sialan itu bisa berbuat demikian terhadap adikku, maka aku, lelaki bernama Yanto bisa berbuat lebih parah dari itu.

    “Julia, bisakah kita bertemu?” sapaan Bayu masuk di-inbox. Sudah berkali-kali pesan serupa dari lelaki bernama Bayu kuterima. Sengaja kuacuhkan agar dia semakin penasaran.

    “Hmm... bisa, di mana?” Kali ini aku tergerak membalasnya.

    “Benarkah? Terserah kamu maunya di mana?” Balasan cepat kuterima. Tampaknya lelaki bernama Bayu itu sangat gembira.

    “Aku juga terserah kamu. Apakah kamu suka memancing?” tanyaku pura-pura, padahal sebelumnya aku sudah mengintip kesukaannya yang memang hobi memancing. Banyak sekali fotonya yang sedang duduk di pinggir kolam dengan kail pancing di tangannya.

    “Iya, suka sekali.”

    “Wah, ternyata hobi kita sama.”

    “Bagaimana kalau kita bertemu di tempat memancing saja? Aku memiliki tempat favorit. Kamu pasti akan suka,” jawabnya makin gembira. Terlihat banyak simbol senyum di belakang komentarnya.

    Ha-ha-ha... aku jadi tertawa.

    “Tapi.... aku tidak memiliki kail pancing yang bagus. Aku juga suka kedinginan kalau berlama-lama berada di tempat pemancingan.” Satu jurus kulempar, siapa tahu berhasil.

    “Jangan khawatir Julia, akan kubawakan kail pancing terbaik untukmu dan kamu bisa memakai jaket tebalku, yang penting kamu harus datang ya. Aku ingin bertemu, Julia.” Bayu terkesan setengah memohon.

    “Aku lebih suka membeli kail di tempat langgananku dan memakai jaket hangat seperti yang kubeli di luar kota beberapa tahun lalu. Sayang sekali, jaket itu sekarang telah rusak.”

    “Okelah, Julia. Kalau memang begitu, aku kirimkan uangnya saja. Kamu tuliskan nomor rekeningmu dan nanti aku transfer ya. Tapi janji ya, kamu harus datang.”

    Hah! Aku ternganga. Semudah inikah memperdaya Bayu? Ck, ck, ck... Kenapa selama ini justru adikku Nirna yang terpedaya? Ya, aku mengerti sekarang, bukan hal sulit menipu seorang penipu, asal bisa menyamar dan sedikit memiliki kelihaian.

    Hm, laki-laki itu benar-benar masuk perangkapku. Aku mulai rajin memberikan janji-janji manis kepadanya. Ia terbuai dengan janjiku untuk bertemu di suatu tempat, tapi aku selalu berkelit dengan cara mengulur-ulurnya. Banyak alasan yang kubuat, tidak punya inilah-itulah. Orangtua sakit dan banyak lagi yang kujadikan alasan agar Bayu merasa terenyuh dan mengirimkan sejumlah uang ke rekeningku.

    ***

    Tak terasa, sudah dua bulan Bayu rajin mengirimkan uang ke rekeningku. Setelah kuhitung jumlahnya, sudah setara dengan jumlah uang tabungan Nirna yang diberikan kepada lelaki itu. Memang inilah tujuanku yang sebenarnya. Membalas luka hati Nirna dan menarik kembali uang Nirna dengan caraku. Cara yang menurutku sangat hebat. Seorang pun tidak akan pernah menduga, termasuk Nirna. “Hm, andai Nirna diberi kecerdasan sepertiku,” aku bergumam sambil menghitung lembaran rupiah yang siap kuberikan pada Nirna.

    “Uang untuk apa, Kak?” tanya Nirna keheranan saat aku sodorkan uang sejumlah empat juta rupiah.

    “Ini uang tabunganmu yang hilang,” kataku santai sambil memaksa Nirna menerimanya. Tapi Nirna mengibaskan tangannya, hingga uang itu jatuh ke lantai. Aku menatap Nirna heran.

    “Nirna, ini uang kamu. Ini hakmu. Aku telah membalas rasa sakitmu pada lelaki bernama Bayu, dan mengambil uangmu kembali. Terimalah,” ucapku menjelaskan.

    “Cara seperti apa yang telah Kakak lakukan?” tanyanya dengan sorot mata tak bersahabat.

    Aku menarik napas panjang. Sebenarnya, aku tak ingin Nirna tahu cara kerjaku. Tapi akhirnya aku mengatakannya juga.

    “Kakak menyamar jadi seorang wanita cantik di facebook dan memperdaya Bayu, hingga ia jatuh cinta dan menyerahkan uangnya ke rekening Kakak.”

    Nina sangat terkejut mendengar ucapanku.

    “Kakak sangat kejam!” teriak Nirna sambil memalingkan muka. Aku terhenyak.

    “Kakak menyayangimu, dan seperti inilah cara Kakak membalas kelakuan orang yang telah menyakitimu. Bukankah seharusnya kamu berterima kasih pada Kakak?” Aku tak terima dianggap kejam oleh Nirna. Menurutku inilah cara yang paling hebat dan tepat.

    “Kakak tidak ada bedanya dengan Bayu. Sama-sama penipu!” umpat Nirna penuh emosi. Ia berlari meninggalkanku yang berdiri mematung penuh rasa heran dan bingung. Sementara uang lembaran seratus ribuan yang kusatukan dengan karet gelang tergeletak di lantai dan menjadi saksi kejadian hari itu.

    Aku benar-benar bingung dengan sikap Nirna. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sikap Nirna sungguh tak pernah kuduga. Benarkah aku penipu? Benarkah aku sama kejamnya dengan Bayu? Bukankah yang kulakukan ini hanya sekadar membalas kelakuan seorang penipu?

    Kepalaku tiba-tiba pening, tubuhku terhuyung dan jatuh lunglai ke lantai.

    ***

    Aku memakai rok bunga-bunga dengan baju atasan lengan pendek yang tipis. Rambutku panjang tergerai, mukaku lancip, putih dan manis. Leher jenjangku sangat jelas terlihat. Tas kecil berwarna merah ada dalam genggaman. Sepatu berhak tinggi menopang kaki mulusku. Aku cantik, sangat cantik.

    “Julia Chung?” tanya seorang lelaki tegap yang menatapku penuh kagum.

    “Benar,” jawabku dengan senyum merekah. Lelaki itu membalas senyumku, sambil menyodorkan sebuah kail pancing.

    “Untuk wanita tercantik yang kutemui,” ucapnya masih dengan senyum di bibir.

    Wanita tercantik?!

    “Tidaaaaaaaaaaaaaaaak...!” Aku berteriak keras sekali.

    “Ada apa Julia sayang? Kamu memang cantik dan sangat cantik,” Bayu menenangkanku dengan pujiannya.

    “Tidak! Hentikan, aku Yanto! Aku Yanto!” Mukaku pucat, tas yang ada dalam genggaman kulempar begitu saja.

    “Julia... Kamu adalah Julia Chung, wanita cantik yang aku kagumi.” Lelaki itu seperti tak mau kalah.

    “Tidak! Aku Yanto. Sekali lagi Yanto! Lelaki tulen!” Teriakanku semakin keras, hingga kudorong begitu saja tubuh lelaki itu sampai terjengkang.

    Napasku bergemuruh. Tubuh panas dan keringat mengucur deras. Seperti orang bodoh, bingung, yang baru terbangun dari sakit hilang ingatan.

    Secepat kilat tanganku meraba kemeja dan celana panjang yang kukenakan. Kuraba bibir, jambang, telinga, jakun, dada, dan kuraih cermin yang tergeletak di atas meja.

    Prang!!!

    “Tidaaaaaak...!” Teriakanku membumbung tinggi ke angkasa, berpadu dengan suara halilintar yang menggelegar.

    Malang, 26 Januari 2013


    *)Aliya Nurlela lahir di Ciamis, Novelis & pegiat Forum Aktif  Menulis (FAM) Indonesia. Berdomisili di Kediri. Cerpen ini diterbitkan oleh Koran “Metro Andalas” (Grup LKBN Antara) Edisi Kamis, 25 September 2014
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tulah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top