• Info Terkini

    Rabu, 20 Juli 2016

    Ulasan Cerpen “Senyum dari Surga” Karya Pipit Sukirno (FAMili Palembang)

    Cerpen ini berkisah tentang poligami yang dilakukan Haikal, suami tokoh utama, Azlia. Haikal menikah lagi dengan Salma tanpa sepengetahuan istirnya. Azlia marah dan kecewa, tapi ia tak memiliki kemampuan apa-apa untuk mengusik pernikahan itu. Hingga di akhir cerita, Azlia meninggal akibat kecelakaan mobil yang dikendarainya. Haikal menceraikan Salma yang berkhianat dan kembali pada anak-anak yang dilahirkan dari perut Azlia.

    Tim FAM Indonesia memberikan beberapa catatan untuk cerpen ini:

    Pertama, dari sisi tema. Tema cerpen seperti ini sudah banyak digarap; tentang kisah poligami yang diawali perselingkuhan dan berakhir tragis. Namun, bukan berarti tema tersebut sudah basi. Penulis bisa saja mengambil tema ini dengan sudut pandang berbeda dan cara penyajian yang berbeda. Misalnya, tokoh utama Azlia tidak digambarkan sebagai sosok yang kecewa dan marah dengan pernikahan tersebut. Justru menjadi sosok yang tegar, punya harga diri, dan setengah “bersyukur” dengan poligami yang dilakukan suaminya, karena ternyata proses pernikahan itu tidak sesuai syariat. Hingga Azlia tahu seberapa bernilai sosok suaminya. Justru Azlia dengan sukarela “menyerahkan” suaminya pada Salma, setelah tahu borok suaminya. Konflik bisa dibuat lebih tajam saat Haikal menyesal telah menikah dengan Salma. Pada akhirnya Haikal tidak diterima oleh Azlia maupun Salma.

    Kedua, dari teknik penulisan. Penulis perlu banyak mengembangkan konflik hingga mencapai titik rumit. Seolah-olah masalah yang dihadapi si tokoh sulit terpecahkan. Mainkan emosi pembaca, aduk-aduk perasaannya dengan suguhan konflik cerita yang menegangkan. Banyak tema konflik dari sebuah cerita yang spektakuler, namun gara-gara pengolahan konflik yang kurang maksimal, hasilnya biasa saja. Tidak menimbulkan efek tegang.

    Jangan ragu bermain gaya bahasa atau tanda seru, agar efek seru-nya bisa terasa. Apalagi cerpen ini bertema masalah rumah tangga, yang itu sangat membutuhkan efek tegang bagi pembaca.

    Ketiga, dari sisi EBI (Ejaan Bahasa Indonesia), banyak ditemukan kata yang tidak baku. Misal; Nafas (seharusnya ditulis, napas). Telephone (seharusnya ditulis, telepon). Bathin (seharusnya ditulis, batin). Silahkan (seharusnya ditulis, silakan). Atau penulisan; disana (seharusnya, di sana). Ku tekan (seharusnya, kutekan) dan lainnya yang sejenis. Atau di akhir dialog yang tidak menyertakan tanda baca. Seharusnya di akhir dialog, ada tanda baca. Termasuk beberapa kekeliruan huruf kapital setelah dialog. Contoh: “E… e… maaf ibu, silahkan duduk dulu” Tuturnya, berusaha menenangkanku. (Seharusnya: “E… e… maaf, Ibu, silakan duduk dulu,” tuturnya berusaha menenangkanku).

    Namun, terlepas dari koreksi Tim FAM di atas, upaya penulis untuk menghasilkan karya yang baik patut mendapat apresiasi. Secara keseluruhan, cerpen ini menarik. Penulis menyematkan pesan bermakna dalam cerpennya untuk bisa diambil manfaat dan hikmah bagi pembaca. Tim FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin baik.

    Salam aktif!
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Senyum dari Surga
    Oleh: Pipit Sukirno IDFAM4062U

    Sembari mengatur nafas, ku tekan nomor telephone kantor suamiku. Amarah yang memuncak di dada seakan tak terkendali lagi, namun sapa lembut wanita di ujung ganggang telephone itu bak air yang menyiram dahaganya kerongkongan.

    “Assalamu’alaikum, Majalah Sakinah. Maaf dengan siapa saya bicara?” tutur lembut itu menetramkanku.

    “Wa’alaikumussalam, bapak ada di kantor?” Cercaku kemudian.

    “Pak Haikal? Iya, ada ibu. Maaf dengan siapa saya bicara?”

    “Sama siapa dia disana? Ada Dika nggak? Apa sama Endah aja?”

    Setengah bingung, wanita itu membalas apa adanya.

    “Iya sendiri, ibu.”

    “Benar ya, nggak ada siapa-siapa? Sedang menulis atau diam saja bapak?”

    Wanita itu agaknya mengenali nada interogasi yang keluar dari ujung lidahku, yang menegaskan padanya bahwa aku menaruh curiga. Bayang sosok wanita berparas anggun yang dibalut jilbab lebar melintas di matanya.

    Salma, wanita dengan tubuh tinggi semampai itu yang belakangan ini merenggut ketenangan hatiku. Betapa tidak, dia menikahi suamiku tanpa sepengetahuanku. Kesaksian karyawan di perusahaan tempat suamiku bekerja tentang Salma berbanding terbalik di mataku, pun halnya dengan kesanku terhadap wanita dengan jilbab lebar yang anggun dan tidak macam-macam. Sebab aku dibesarkan juga di lingkungan yang serupa, tapi mengapa dia berbeda? Manusia, tempat salah dan khilaf. Lingkungan dan latar belakangnya, yang membuat ia berada di garis pembeda itu.

    “Maaf pak sebelumnya, saya ke sini mau tanya, apa benar ada staff bapak yang bernama Salmawati bekerja di perusahaan ini?” Tanyaku pada direktur umum di perusahaan tersebut, yang kebetulan adalah mertua sahabatku, Desma.

    “Oh, benar Azlia. Memang kenapa, kamu kenal?”

    “Em… kalau boleh tau, sebagai apa dia di sini, pak?” Lanjutku, tak menghiraukan tanya lelaki 50 tahun itu.

    “Dia disini sebagai kepala bidang pelatihan dan pengembangan karyawan, Lia.”

    Lelaki itu kemudian menunjukkan photo perempuan yang ku curigai sebagai wanita idaman lain suamiku. Aku hanya bisa mengelus dada sembari berucap istighfar, jilbabnya yang lebar dengan wajah kalemnya membuatku tak kuasa menahan kecewa.

    Harusnya ia tahu bagaimana harus bertindak, jika sadar Mas Haikal adalah suami wanita lain. Bathinku saat itu, meringis – teriris.

    Ingin, ku tumpahkan kesal dan kecewa saat itu jua, tapi aku harus tetap kuat dan tegar. Terlebih, di hadapan mertua Desma, aku harus terlihat seperti tak ada apa-apa. Sebab, aku tahu dia juga beristri dua. Dan aku yakin, jika ia tahu maksudku bertanya demikian, barang tentu ia akan menasehatiku dengan nasihat-nasihat super seperti yang kebanyakan motivator utarakan di tayangan-tayangan layar kaca. Aku tak butuh hal itu. Aku hanya ingin suamiku kembali kepadaku, juga kembali pada dua buah hatiku yang sejak tiga bulan lalu tak lagi tersentuh kasih sayang ayahnya.

    Begitu keluar dari ruangan sang direktur, aku bergegas menuju ruang kerja suamiku. Suasana kantor saat itu sedang istirahat, usai sholat dan makan mereka bercakap-cakap ringan seputar aktivitas hariannya. Kakiku ‘sekonyong-konyong’ melangkah ke dalam ruangan dan membekukan keceriaan mereka.

    “Assalamualaikum!” Ucapku sesaat, setelah mereka menoleh ke arahku dan Desma yang mendampingiku setelah dari ruang kerja mertuanya.

    Salah seorang lelaki bertubuh tinggi menghampiriku.

    “Wa’alaikumussalam, maaf ibu ada yang bisa saya bantu?” Ujarnya dengan bibir gemetar dan pucat melihat keangkeran mimik mukaku.

    “Mana suamiku?!” Setengah membentak, ku dekati lelaki itu perlahan.

    “Mana!” Sekali lagi, ku tatap wajahnya yang bingung atas sikapku.

    “E… e… maaf ibu, silahkan duduk dulu” Tuturnya, berusaha menenangkanku.

    “Saya tidak butuh tempat duduk. Saya tanya, di mana suamiku?!”

    Karena bingung, menyusul pula sahabat suamiku yang sedari tadi tampak acuh melihat sikapku.

    “Ada apa ini, Azlia?” Tanyanya penuh lembut, tak seperti suamiku belakangan ini yang sering mengumbar amarah tanpa ku tahu sebabnya, tiap pulang ke rumah.

    “Asraf! Kamu kenal siapa Mas Haikal? Aku mau kamu jawab dengan jujur, Asraf!”

    “Iya, ini sebenarnya ada apa? Kamu tenang dulu, Azlia.”

    “Harus tenang bagaimana? Jika kamu tahu bahwa istrimu menikah dengan lelaki lain tanpa sepengetahuanmu!” Pekikku memecah suasana sunyi siang itu.

    Semua karyawan yang sedari tadi hanya bengong dan terdiam, kali ini menggelengkan kepala. Apalagi karyawan wanita di sana, ramai-ramai beristighfar. Aku terduduk lesu di kursi yang ada di sisi kiriku saat itu.

    “Itulah yang aku rasakan saat ini, Asraf. Suami ku selingkuh, kemudian menikahi wanita itu tanpa izin dariku, istri sah-nya. Lalu aku harus tenang bagaimana? Sementara anak-anakku di rumah kehausan kasih sayang ayahnya. Tiga bulan, Asraf! Tiga bulan ia tak mempedulikan anak-anaknya”.

    Asraf tak mampu berkata-kata. Ia lelaki, ia juga punya istri dan anak-anak. Tak mungkin rela memperlakukan keluarganya seperti itu. Namun ia juga sahabat Haikal, yang memang sudah sejak lama ia sadar perilakunya tak lagi sama seperti saat sebelum mengenal Salma, wanita yang memang diidamkan banyak pria termasuk ia.

    “Tak baik marah-marah seperti ini, Lia. Sekarang orang satu kantor sudah tahu semua aib rumah tanggamu, sebaiknya kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik”.

    “Aku ingin cerai, Asraf” kataku, tersedu-sedu.

    “Tak baik memutuskan sesuatu saat emosi seperti ini, Lia” ujarnya sembari duduk dengan menahan dengkulnya di lantai.

    “Ibu Desma, sebaiknya kita bawa Azlia ke ruangan ibu sekarang”.

    “Iya, pak Asraf. Saya rasa Azlia butuh ketenangan. Ayo, Azlia” Ajaknya sembari memapah pundakku.

    Sial memang. Siang itu Mas Haikal sedang tidak ada di kantor. Pun halnya dengan Salma, padahal ingin sekali aku berbicara pada wanita ketiga dalam rumah tanggaku bersama Mas Haikal itu. Ingin ku katakan bahwa anak-anakku merindukan ayahnya, yang tak lain suaminya juga. Bagaimana jika hal itu terjadi pada ia, akankah ia rela memberi ruang pada Mas Haikal agar menemui dan mencurahkan sayangnya pada anak-anak dari madunya itu? Ah, kurasa tak mungkin ia melakukan itu. Aku saja masih tak ikhlas.

    Namun bagaimanapun juga, semua ini sudah terjadi. Suamiku memilih jalan poligami yang jelas tak di larang dalam Islam. Namun caranya yang seharusnya tak begini, aku harus berkata apa jika ia sudah mengutarakan niatnya? Melarang? Ah, justru akan membuat Mas Haikal kebakaran jenggot dan bermain di belakangku dan anak-anak. Namun jika aku meng-iya-kannya, itu berarti aku harus berbagi suami dengan wanita lain. Sementara aku sadar betul, Allah menjanjikan surga bagi wanita yang ikhlas dan rela dipoligami.

    Oh, iya! Pintu surga ada banyak, kita tak hanya bisa masuk dari pintu tersebut. Bathinku.

    “Tidak!!!” pekikku di depan televisi, saat menemani dua jagoan Mas Haikal yang tengah bermain puzzle.

    Anak-anak terkejut. Hazbi, putra bungsuku spontan berlari dan memelukku erat. Seolah ia tahu apa yang sedang ibunya rasakan. Sementara Hamas perlahan mendekatiku, sama sifatnya dengan sang ayah yang memang lemah lembut terhadapku sebelum mengenal Salma.

    “Kenapa, ma?” Tanya Hamas sembari mengusap jilbab yang tak sempat ku lepas sekembalinya dari kantor suamiku tadi.

    Aku hanya tersenyum, memastikan bahwa aku baik-baik saja. Agaknya ia tak yakin, menunduk-pucat wajahnya.

    “Hamas, nak. Kamu kenapa? Sakit? Sudah makan belum?” Aku mulai khawatir.

    Air matanya berlinang. Beranjak dari sofa yang ku duduki, lantas mendekat pada sulungku. Tak mau ketinggalan, Hazbi mengikutiku mendekati abangnya. Ku pastikan keningnya tak panas sebab demam, ternyata benar. Badan sulung kebanggaan Mas Haikal itu panas, entah mengapa ia merasa sok kuat, tak mau mengakui apa yang ia rasakan. Terbata-bata ia mengatakan, “Abang kangen papa, ma.”

    Aku memeluknya erat. Di ruang perawatan, ku suapi dengan penuh cinta buah hatiku itu, sesekali aku memastikan panggilan atau sms dari Mas Haikal. Berharap ia membalas pesan singkatku, bisa hadir menemui jagoannya, Hamas di rumah sakit. Sampai aku selesai menyuapi Hamas, tak juga harapanku itu terwujud. Sementara Hazbi, bocah 4 tahun yang tak berdosa itu tertidur pulas kelelahan setelah semalaman menjaga abangnya. Satu yang membuatku semakin merasa bersalah pada anak-anak ku serta kecewa pada ayah mereka, saat si kecil Hazbi berkata: “Jika papa tak bersama kita, izinkan Hazbi menggantikan posisi papa di tengah-tengah kita, ma”. Mengenang kalimat itu, semakin membuatku perih. Salahku, tak mampu membawa ayah kedua buah hatiku itu kembali ke pelukan mereka. Namun disatu sisi, kecewaku berkecamuk. Tak menyangka, Mas Haikal se-khianat itu padaku dan buah hatinya.

    Lambat laun, kondisi Hamas semakin membaik. Aku berniat membawanya pulang ke rumah. Genap bulan kelima Mas Haikal tak pulang. Sebenarnya aku ingin ia menceraikanku dan memilih wanita itu, tapi anak-anakku? Aku tak se-tega itu. Biarlah aku yang mengalah, menerimanya kembali ketika ia sadar nanti. Karena aku yakin, tiang yang bengkok masih bisa di luruskan kembali dengan niat dan usaha. Entah mempolesnya dengan semen atau menyangganya kembali dengan Merbau.

    Anak-anakku kini kembali ceria, setelah ku yakinkan mereka bahwa sang ayah sedang menimba ilmu di perantauan. Siang itu, aku menghubungi nomor ponsel Mas Haikal yang tak pernah aktif dua bulan lamanya, sejak Hamas terbaring di rumah sakit hingga dua hari yang lalu. Iseng, ku hubungi kembali nomornya, nyatanya upayaku tak sia-sia. Suara lantang lelaki yang menjabat tangan ayahku dalam ijab qabul 11 tahun yang lalu itu masih sama.

    “Apa kabar, Mas?” Sapa ku pada lelaki di seberang telephone itu.

    “E… Alhamdulillah, baik” Balasnya.

    “Kamu apa kabar? Anak-anakku bagaimana? Lanjut Mas Haikal seperti tak bersalah.

    “Hamas baru sebulan yang lalu kembali ke rumah, Mas. Ia terinfeksi virus salmonella typhi, Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik. Katanya, mau ketemu papanya”

    “Itu bukan akal-akalan kamu saja kan, untuk mengajakku pulang dan memintaku menceraikanmu!” Bentaknya padaku.

    Hampir terpancing amarah, aku mencoba bersabar menanggapi dugaan Mas Haikal yang mungkin akan dilakukan wanita lain jika bernasip serupa denganku.

    “Tidak, Mas. Aku sungguh-sungguh menyampaikan hal ini, dan tidak ada sedikitpun rasa untuk bercerai darimu saat ini” kataku meyakinkan.

    Namun ia tak percaya, terlanjur terprovokasi kawan-kawannya yang meyakini aku akan meminta cerai darinya. Meski maduku menjadi orang terdepan jika suamiku mengambil keputusan itu, namun ia tak mau melakukannya. Keherananku, apa alasannya tak mau berpisah dengan aku? Bukankah ia telah menemukan pendamping hidup yang sesuai harapannya, seperti Salma? Sementara untuk mempertahankanku, ia tak melakukan lobi-lobi apapun denganku maupun orang tuaku. Acuh, bahkan pada putra-putra yang katanya kebanggaannya. Bagi wanita di luar sana, mungkin aku bodoh, aku berhak mendapatkan yang jelas lebih baik dari Mas Haikal. Aku yakin, apa yang menurut kita baik belum tentu sama baiknya di sisi Allah.

    Meski ujungnya aku dan suamiku ribut, namun aku tetap teguh untuk menerimanya kembali, demi anak-anakku. Aku tak mau mereka justru semakin hancur, jika aku mempertahankan egoku. Berkali-kali ku hubungi nomor telephone kantor suamiku, Endah, staffnya yang menjawab dan mengatakan Mas Haikal ada di kantor seorang diri. Belum percaya begitu saja, sebab aku pernah mendapati Salma masuk ke ruangan Mas Haikal beberapa waktu lalu. Saat aku berusaha meminta kejelasan nasipku dan anak-anak.

    Aku terus men-interogasi reporter majalah keluarga itu. Membuatnya menyakinkanku bahwa Mas Haikal ada di sana bersama maduku. Namun nihil, jawaban Endah tak sedikit pun mengarah kesana. Aku percaya, ia orang yang apa adanya. Niatku untuk menyambangi suamiku di kantornya saat itu tak berhasil, sebab aku ingin menemuinya dan berbicara pada maduku secara baik-baik. Mulanya aku tak berniat mengajak Mas Haikal menemui Salma di kediamannya, ia jelas tak akan mengikuti pintaku. Bahkan aku yakin, ia akan paling keras melarangku berjumpa dengan Salma. Sebab ia sadar, Salma bukan tipe wanita yang ikhlas menerima posisiku sebagai istri pertama Mas Haikal.

    Ku tarik gas mobilku lebih kencang kala itu, sengaja. Jalanan lengang memacu adrenalinku untuk mencoba hal baru, ku putar kencang murratal Muhammad Thaha dari tape di mobilku, seraya mengikuti alunan merdu kalimat cinta-Nya. Entah, aku tak tahu pasti bagaimana Sedan warna biru itu seketika menyambar mobil yang ku kendalikan, dari belakang.

    Duaaaar!!!

    Suara menggelegar itu mengejutkan warga sekitar. Beramai-ramai mereka menolong dan membawa ku ke rumah sakit. Aku melihat tubuhku terbujur kaku di rumah sakit, tersenyum saat dokter mengucapkan kalimat istirja' di depan jasadku.

    Sore itu, telephone kantor berdering kembali. Namun tak ada jawaban, suster yang berjaga di rumah sakit segera menghubungi ponsel Mas Haikal. Setelah hampir tiga jam menunggu suamiku menjemput di rumah sakit, aku dibawa ke rumah keluargaku. Mama, menangis-meraung. Mencaci Mas Haikal di depan jasadku dan kedua buah hatiku yang tersedu-sedu di tubuhku.


    Mendengar kabar dari syurga, anak-anak ku mengirim doa untukku. Mengabarkan bahwa mereka hidup bersama ayah dan neneknya. Salma, ibu sambung anak-anakku telah di ceraikan Mas Haikal sebab berkhianat pula. Sama kejadiannya dengan ketika suamiku mengkhianatiku. Anak-anakku berjanji, tak akan menyakiti hati wanita yang kelak akan mendampingi perjalanan hidup mereka dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Hamas dan Hazbi menjelma menjadi pria dewasa yang siap mengayomi keluarga kecilnya dengan cinta. Senyumku mengembang dari surga, yang mengiringi senyum kedua jagoanku, investasiku di akhirat. (*)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Senyum dari Surga” Karya Pipit Sukirno (FAMili Palembang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top