Skip to main content

Yuan Adelintang Kurniadita, Suka Menulis Karya Fiksi dan Nonfiksi


Yuan Adelintang Kurniadita, lahir di Magelang, 20 Juni 1997. Ia adalah seorang mahasiswi dan sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis adalah hobinya.

Dia mulai menulis sejak SMP. Waktu itu, ia menjadi anggota redaksi majalah sekolah dan mengikuti berbagai perlombaan menulis, seperti cipta cerpen, puisi, dan menulis artikel. Saat SMA, ia sempat mengikuti even menulis puisi, artikel, dan esai yang diadakan dinas maupun komunitas kepenulisan. Kegiatan menulis ini masih berlanjut hingga sekarang, saat ia sudah menjadi seorang mahasiswi. Kegiatannya dalam  menulis dilakukan dengan mengikuti perlombaan dan penerbitan antologi di sebuah penerbit.                                         
                                                                                        
Sebagai penulis pemula, ia menulis beberapa buah tulisan, berupa fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya meliputi cerita pendek dan puisi. Karya non fiksi meliputi artikel dan esai. Adapun beberapa karya yang telah dipublikasikan, baik karya fiksi maupun non fiksi. Karya non fiksi yang telah dipublikasikan berupa artikel dengan judul “Sejuta Kebaikan di Dunia Kata” dan beberapa karya non fiksi berupa puisi dengan judul “Seberkas Cahaya Tanah Airku”, “Simfoni di Balik Senandung Melodi Usang”, “Ratu Hatiku”, “Mutiara Istana Cinta Kasih Putih”, serta “Lilin-Lilin Kecil, Sang Pelita Rangkaian Asa.”

Motto hidupnya “Genggam realita gemilang dengan konsisten atas tujuanMenurutnya, motto hidup diperlukan guna memberikan semangat/motivasi agar senantiasa berusaha melakukan yang positif dan berguna demi tercapainya tujuan hidup. Motivasi melalui motto hidup dapat memberikan arti yang baik apabila bersinergi dengan kemauan berusaha dan berdoa yang dilakukan secara konsisten. Sebuah motto dapat menjadi penggerak bagi setiap orang apabila sesuai dengan prinsip yang dimiliki dan diyakininya. Dengan demikian, tidak ada paksaan terhadap diri setiap orang untuk bertindak sesuai dengan motto tersebut dan tujuan hidup dapat tercapai sesuai dengan prinsip yang semula sudah menjadi pedoman.               
Tahun 2016, ia resmi bergabung di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan menjadi anggota FAM Indonesia dengan nomor keanggotaan IDFAM4151M.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…