• Info Terkini

    Wednesday, August 3, 2016

    Puisi-Puisi Mkd Aan’s

    MKD AAN’S, adalah nama pena Mukoddas Aliyasun. Ia berasal dari Pulau Garam (Madura). Mulai menggeluti dunia tulis menulis sejak SMP di Jrengik Sampang Jawa Timur, dan pernah aktif sebagai tim redaksi majalah di Pesantren Salafiyah di Assirojiyyah Sampang. Hobi membaca, menulis dan melukis. Telah memenangkan berbagai kompetisi menulis dan melukis. Email: Mkdaanlove@gmail.com.

    KISAH LELAKI YANG MELAWAN TAKDIR

    Ia lelaki penuh siluet-siluet.
    Selembar mendung sore melambai di atas pohon pohon srikaya tempatnya berdiri.
    Ia ingin terbang seperti burung-burung. 
    Senja itu kelabu. Lebih kelabu dari daun-daun jatuh. 
    Ingin sekali menghancurkan segalanya. Pelteng tua di samping rumah. Atap-atap. 
    Bahkan keluarga ayam yang memunguti langkah kakinya dari belakang. 
    Husshh—teriaknya acuh tak acuh.

    Adakah yang lebih sulit dari menahan napas pada waktu itu. 
    Takdir menurutnya tak adil. Karena itu ia bersembunyi di balik senja. 
    Senja yang biasanya mirip senyum ibu ketika mengajaknya makan malam. 
    Tapi yang dilihat ? Apakah ini. Menyebalkan.

    Siluet-siluet kelabu. 
    Mendung lembar-lembar. 
    Kini Tuhan tambahkan padanya rintik-rintik gerimis.

    Ah. Dia lelaki yang berusaha melawan takdir. 
    Bisakah ia bersembunyi dalam bak mandi, di bawah kolong
    Atau mencoba menutup lubang goa dari dalam. 
    Pikirnya ia bisa tidur seratus tahun lebih.
    Namun kakinya terlanjur sakit.
    Bokongnya penuh daun-daun. Lalu ia coba berjalan kembali biar semuanya usai.

    Siluet-siluet, hitam. 
    Pekat. Tak lagi samar-samar.
    Cepatlah ia bersembunyi. Sebelum ia terjebak malam. 

    Tuhan masih menyayanginya.
    Namun lelaki yang membenci takdirnya begitu picik. 
    Ia mulai memenjarakan kunang-kunang. 
    Melewati lembah, melewati gunung. Melewati sungai. 
    Melewati dzikir petang. Kini ia lah yang memenangi malam.

    Siluet-siluet. Kabut. 
    Sesak. Duri-duri menghujam.
    Ia mulai berjambaki dedaunan.
    Wajahnya. Penuh kecurigaan pada tuhan. 

    Tempat persembunyian yang sempurna. 
    Ia mulai menggali tanah-tanah. Batu-batu berjatuhan. 
    Ia tersenyum penuh kemenangan.

    Ah—Dingin. 
    Dingin. Siluet-siluet napasnya.
    Mulai berakhir seperti habisnya malam.
    Dan kunang-kunang terbang mengangkat mayatnya. 
    Takdirnya sudah usai. Sebelum ia berusaha.
    Dan tuhan selalu menyayanginya.

    Jungakarang, 03-02-16

    PULANG

    Lampu jalan mulai redup.
    Kantuk mulai sepi.
    Dan rindu mulai kembali digelar, pada tikar-tikar perjalanan.
    Pada matahari yang mulai naik mendahului gunung-gunung.

    Seseorang terpaku, dengan jaket dililitkan ke dagu.
    Dan wajahnya masih berbau tempat tidur.
    Menunggu bus datang membawanya pergi.
    Pergi menjauhi kota diatas tanah.

    Dan pulang pun menjadi kata yang sangat asing baginya. 
    Asing dari yang paling asing.
    Matahari pun seperti ia tidak kenali.
    Ia sangka bola lampu jalan atau rembulan yang terlambat pulang.

    Oh, tuhan
    Dan lagi-lagi pulang adalah sesuatu yang asing baginya.
    Seperti seseorang berkata padanya.

    “Jangan pulang sebelum sukses!”.
    “Jangan pulang sebelum sukses!”.

    Dan ia menjadi seperti sangat lelah.
    Lelah dari yang paling lelah.
    Kesuksesan membuat ia lemah.
    Bahkan sebelum ia menjadi bunga.

    Sebab ia hanyalah daun.
    Yang nasib memukulnya menjadi reranting.
    Ia berharap untuk jadi bunga.
    Walau ufuk sering membuatnya layu.
    Hanya hatinya saja yang sedang letih.

    Sebab hidup adalah perihal menunggu dan ditunggu.
    Dan bus pun tak juga kunjung datang.

    Jakarta, 08-10-15

    Ingin menerbitkan buku dan cetak majalah sekolah? Hubungi FAM Publishing di 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Puisi-Puisi Mkd Aan’s Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top