• Info Terkini

    Sunday, November 6, 2016

    Batu Pengasah Golok

    Cerpen Aliya Nurlela



    SUNYI menyergap. Aku masih mengendap dan membuntutinya perlahan. Benar saja, Bapak berjalan ke arah kebun pisang di belakang rumah. Sudah bisa kutebak, sebuah pisau besar alias golok dikeluarkan dari sarungnya. Sejenak ia menoleh ke kanan-kiri, seolah memastikan tidak ada orang di kebun itu.
                Gerak-gerik Bapak mencurigakan. Aku semakin merapatkan tubuh di batang pohon pisang yang lumayan besar, agar pengintaian ini tak terendus Bapak.
                Srek... srek... srek... Suara pisau yang diasah membuat telingaku ngilu. Bapak tampak serius mengasahnya. Pisau itu maju-mundur di batu asahan. Sesaat kemudian, Bapak mengangkat pisau dan membolak-baliknya. Senyum Bapak menyeringai. Aku merinding.
                Ini bukan pertamakali aku melihat keganjilan tingkah-laku Bapak. Sudah tujuh hari berturut-turut Bapak menyelinap ke kebun pisang dan mengasah goloknya. Tak ada yang tahu jika ada batu asahan di kebun itu. Letaknya cukup tersembunyi di tengah-tengah kebun. Sepertinya Bapak sengaja menaruhnya di sana dan tak ingin seorang pun tahu. Buktinya, Emak saja tidak tahu. Aku juga tidak pernah diberi tahu Bapak soal ini, tapi sebagai anak perempuan tertua, perasaanku kuat sekali. Ada yang tidak beres dengan diri Bapak.
                Seminggu lalu, aku mendengar Bapak dan Emak bertengkar hebat. Seperti biasa, soal nafkah yang menurut Emak, Bapak kurang dalam memberi. Emak mendominasi pertengakaran hebat itu dengan suara sopran yang khas. Cerocosan Emak terdengar hingga ke rumah tetangga. Untung saja, tak ada tetangga yang ikut campur dan menonton suami istri itu bertengkar. Sementara Bapak, hampir tidak bersuara. Diam dengan kepala menekuk. Entah apa yang ada dalam pikiran Bapak. Ia membiarkan umpatan Emak masuk telinga dan tidak meresponnya sama sekali.
                Waktu itu aku sempat geram kepada Emak. Kok bisa-bisanya memarahi Bapak dan menuntut nafkah yang di luar kemampuan Bapak. Tapi, dilema. Aku lihat Emak memang cukup berat menanggung beban kebutuhan rumah tangga, sejak Bapak berhenti jadi kuli bangunan. Fisik Bapak tak kuat lagi untuk menjadi kuli. Mungkin faktor usia yang membuat kekuatannya berkurang. Buktinya akhir-akhir ini Bapak sering jatuh sakit. Hingga dengan berat hati ke luar dari tempatnya bekerja dan hanya merawat kebun pisang yang tak seberapa luas. Inilah pemicu pertengkaran itu. Tak ada lagi nafkah harian yang diterima Emak untuk memenuhi kebutuhan rumah. Emak sering mengeluh, batuk-batuk dan menyalahkan Bapak.
                Aku tak bisa berbuat banyak untuk membantu perekonomian keluarga yang sedang rapuh. Walau aku sudah lulus SMA dan sekarang nganggur, bukan berarti mudah mencari pekerjaan. Ijazah SMA seperti tak laku, hanya kusimpan saja di laci almari. Bayangkan, belasan perusahaan menolak. Penolakan itu sudah membuatku setengah putus asa, ditambah lagi sekarang dengan persoalan di rumah, benar-benar miris.
    ***
                “Mak, Ranti berangkat dulu ya. Doakan lamaran kerja Ranti diterima,” ucapku memohon restu Emak untuk yang kesekian kalinya. Emak mengusap tanganku yang masih berjabat dan menepuknya lembut. Tanpa sepatah kata keluar di mulut Emak. Emak hanya mengangguk. Namun, matanya berkaca-kaca. Aku tergugu dan menatap dalam. Seolah menemukan restu yang tulus di kedalaman pancaran mata Emak. Terselip doa, harapan dan pesan untuk hati-hati membawa diri.
                “Mak, tapi Ranti tidak tenang meninggalkan Emak dan Rini di rumah. Bagaimana kalau Emak ke rumah tetangga dulu sampai Ranti datang?” Aku mulai cemas. Emak terkejut, tak biasanya aku bicara seperti itu.
                “Ada apa, Ranti?” Kening Emak mengerut berlipat-lipat. Aku terdiam. Apa yang harus kusampaikan kepada Emak? Bukankah ini baru pradugaku saja?
                Ya, ini praduga. Diamnya Bapak kuartikan menyimpan sesuatu. Mana mungkin seorang laki-laki dewasa hanya diam saja ketika diumpat-umpat dan dituntut istrinya? Aku yakin Bapak menyimpan sesuatu yang terpendam. Entah itu jawaban atau tindakan. Dari berbagai penyuluhan keluarga yang kuikuti, yang namanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk. Seorang penyuluh pernah bilang, salah satu pemicu KDRT adalah faktor ekonomi, bahkan justru itu yang sering menjadi pemicu utama. Contoh-contoh nyata tindak kekerasan di rumah tangga membuatku merinding. Bagiku yang belum menikah, ada sedikit ketakutan. Ternyata, menikah tak seindah yang kubayangkan.
                Fakta kekerasan sekarang ini memang sangat mengkhawatirkan. Berita tentang kekerasan di keluarga, sudah hal biasa. Anak membunuh bapak, ibu menjual anak gadis, kakek memperkosa cucu dan bapak menyiksa anak, itu berita yang marak di surat kabar. Dulu, orang akan terperangah ketika mendengar berita tak lazim seperti itu. Tapi sekarang? Respon orang cenderung datar, bahkan terkesan cuek, akibat banyaknya kasus-kasus serupa yang nyaris terjadi setiap hari.
                “Waspadai orang terdekat!” Itu kalimat yang terus terngiang di telingaku sepulang penyuluhan KDRT. Orang terdekat? Aku belum punya suami, berarti orang terdekatku Bapak, Emak dan Rini, adikku. Ini masalahku. Aku jadi mudah curiga pada orang-orang terdekat. Segala masalah dan gerak-gerik penghuni rumah, sering aku kait-kaitkan dengan materi penyuluhan. Parahnya, apa yang kulihat memicu potensi curiga. Termasuk soal Bapak yang mengasah golok di kebun pisang. Hiii... Aku bergidik.
                Bapak bukan seorang jagal ternak, lalu mengapa punya golok besar dan rajin mengasahnya setelah bertengkar hebat dengan Ibu? Pikiran mana yang tidak negatif saat melihat tingkah Bapak seperti itu? Belum lagi, Bapak selalu masuk ke kebun pisang, mengendap-endap, menoleh ke kanan-kiri dan senyum menakutkan saat mengamati golok yang baru diasahnya.
                Aku yakin golok Bapak sudah sangat tajam. Sekali tebas pohon pisang, bisa merobek sempurna bagian batangnya, bahkan terpotong dua. Lalu, bagaimana kalau golok itu diarahkan ke tubuh Emak yang ringkih, Rini, atau aku? Tidak! Aku menutup muka ngeri. Aku membayangkan, lautan darah menggenang di rumah, mengalir ke setiap ruangan dan menyisakan tiga tubuh lemah yang sudah tidak bernyawa. Sementara Bapak tertawa penuh kemenangan, dendamnya terlampiaskan, hidupnya merasa lebih tenang tanpa cerocos dari mulut Emak dan rajukan dua anaknya yang membutuhkan ini-itu. Bapak telah berhasil mengakhiri kekalutan di rumahtangga dengan sekali tebasan goloknya.
                “Mak, Ranti tidak jadi berangkat. Ranti cemas dengan keselamatan Emak dan Rini. Hari ini juga, Emak harus ikut Ranti ke rumah Mak Sarni. Emak harus mengungsi sementara demi keselamatan Emak dan Rini. Segera kemasi barang-barang, Mak!” Aku tergesa-gesa mengeluarkan tas besar dari almari. Tak ada waktu lagi. Sebelum semuanya terlambat, Emak dan Rini harus diungsikan.
                “Ada apa, Ranti? Kenapa Emak harus ngungsi? Tidak ada gempa kok ngungsi?” Emak yang keheranan jadi bingung.
                “Mak, dengarkan Ranti! Ini semua demi kebaikan Emak!” Aku setengah membentak Emak. Perempuan yang telah melahirkanku tersebut terperangah dan menatap aneh. Tapi, aku tak memberi celah pada Emak untuk bertanya lagi. Bentakan pada Emak ini terpaksa aku lakukan karena begitu sayang pada Emak. Biarlah untuk sesaat Emak keheranan dan menganggap aku tidak hormat lagi.
                Rini yang menangis dan Emak yang kebingungan, akhirnya mau menuruti ajakanku untuk mengungsi. Keduanya ikut membantu memasukkan pakaian ke dalam tas besar yang sudah kusiapkan. Beberapa lembar pakaian ditata rapi dalam tas, termasuk beberapa buku sekolah Rini.
                “Tunggu dulu Bapakmu, Ran.” Emak mencegah langkahku yang sudah melenggang di depan pintu. Aku meraih tangan Emak dan setengah menariknya untuk terus berjalan.
                “Bapak nanti urusan Ranti, Mak.” Aku buru-buru meninggalkan pekarangan menggandeng Emak dan Rini. Dengan terseok-seok Emak berusaha mengimbangi langkahku. Tak ada lagi pertanyaan atau sepatah kata, hanya tatapan aneh yang tersisa.
    ***
                Lega rasanya bisa mengamankan Emak dan Rini. Untuk sementara keduanya aku titipkan pada Mak Sarni, tetangga RT sebelah. Kebetulan Mak Sarni hidup sendirian, tanpa sanak saudara. Kehadiran Emak dan Rini, justru disambutnya dengan senang.
                Aku sendiri masih meneruskan pengintaian. Jam segini biasanya Bapak mengendap-endap ke kebun pisang. Aku buru-buru menyelinap, sebelum Bapak datang. Aneh, setelah setengah jam aku mengintai tak ada tanda-tanda kehadiran Bapak. Di mana Bapak? Wah, jangan-jangan ia mengendus kepergian Emak dan berbuat yang tidak-tidak di rumah Mak Sarni.
                Wajahku memucat. Tegang. Namun, tiba-tiba aku dikejutkan dengan munculnya sosok lelaki seumuran Bapak, tak asing lagi, itu Mang Darma teman Bapak sewaktu jadi kuli. Ada apa Mang Darma ke kebun pisang? Aku semakin tak mengerti.
                “Bagaimana, sudah tajam?” tanya Mang Darma kepada Bapak.
                Oh, rupanya dari tadi Bapak duduk bersandar di pohon pisang, sedikit jauh dari batu asahan. Pantas aku tidak melihatnya. Bapak menyodorkan goloknya. Sesaat Mang Darma membolak-balik golok itu dan mengamati seluruh tubuh golok itu.
                “Ini sudah tajam. Sudah bisa dipakai membelah kayu-kayu besar. Lainnya nanti dibantu gergaji. Kapan bisa mulai masuk kerja?”
                “Kalau bisa secepatnya. Aku sudah malu pada istri dan anakku, karena aku tidak mampu menafkahi mereka,” ujar Bapak sedikit memohon. Tampak kedua matanya berkaca-kaca.
                Aku terperangah, terkejut. Jadi, golok itu untuk membelah kayu? Jadi, selama ini Bapak rajin mengasah golok demi bekerja memenuhi nafkah Emak dan kami anak-anaknya? Oh, Tuhan. Betapa jahatnya pikiranku, telah berprasangka sangat buruk kepada Bapak.
                “Tidaaaak!!!” Aku setengah berteriak dan berlari cepat keluar dari kebun pisang untuk menemui Emak dan Rini dan segera membawanya pulang. Aku tidak tahu apakah Bapak dan Mang Darma mendengar suaraku atau tidak. Yang pasti aku merasa berdosa kepada Bapak. (*)

    Pare, 25 Desember 2015

    Biodata:
    ALIYA NURLELA, menulis cerita pendek dan novel. Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Novel terbarunya “Senyum Gadis Bell’s Palsy” (2015).
    Sudah terbit di Ruang Budaya Harian 'Rakyat Sumbar' (Group JPNN) edisi Sabtu, 30 April 2016.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Batu Pengasah Golok Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top