• Info Terkini

    Wednesday, February 15, 2017

    Di Tangan Orang Kreatif, Suasana Pagi Menjadi Inspirasi


    Dahlan kecil hidup di lingkungan pedesaan dalam kondisi serba kekurangan. Ia hanya memiliki satu celana pendek, satu baju dan satu sarung. Sarung itu menjadi andalannya, bersifat multifungsi; bisa untuk ibadah, selimut, alas kepala, pengganti baju saat sedang dicuci atau pengganti celana saat sedang dicuci. Ia sengaja memilih sendiri tanggal lahirnya, yaitu 17 Agustus karena orangtua Dahlan lupa kapan anaknya dilahirkan. Biasanya sang ayah menuliskan tanggal lahir anak-anaknya di belakang lemari, namun sayang lemari itu terpaksa dijual untuk kebutuhan makan sehari-hari.

    Dahlan bersekolah tanpa alas kaki, ia tidak mampu membelinya. Ia baru memiliki sepatu setelah kelas 2 SMA, membeli di pasar loak dengan harga yang murah. Ia memakai sepatu itu seminggu sekali agar tidak cepat rusak, mengingat berangkat sekolah harus berjalan kaki sejauh 5km. Dahlan pernah kuliah, tapi tidak menyelesaikan kuliahnya. Tahun 1975, pindah ke Samarinda memulai karier sebagai calon reporter di sebuah surat kabar kecil. Tahun 1976 menjadi wartawan Majalah Tempo. Kariernya berkembang pesat, tulisan-tulisannya di Majalah Tempo banyak disukai masyarakat. Tahun 1982, Eric FH Samola (direktur PT Grafiti Pers/Penerbit Majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Eric mengangkat Dahlan untuk memimpin Jawa Pos.

    Sebelum diambil alih oleh Grafiti Pers, Jawa Pos merupakan koran kecil dengan oplah 6000-an eksemplar—yang didirikan oleh The Chung Shen dengan nama Djawa Post. Awal berdiri koran ini pernah berkembang, namun mengalami kemerosotan tajam di tahun 1972. Dahlan berupaya “menyembuhkan” Jawa Pos. Ia melakukan berbagai strategi unik dan out of the box. Salah satunya mengeluarkan ide untuk menerbitkan koran tersebut di pagi hari.

    Saat itu, budaya membaca koran adalah sore hari. Bahkan hampir semua koran, terbit selepas siang. Dahlan bermaksud memberikan citra positif pada Jawa Pos dengan terbit lebih awal. Harapannya, Jawa Pos akan terkesan sebagai koran yang selalu mengabarkan berita-berita aktual dengan lebih cepat. Namun sebagian staf tidak setuju dengan rencana Dahlan. Mereka pesimis Jawa Pos tidak akan laku. Menurut mereka, pagi hari adalah waktu yang sibuk, jarang orang membaca koran (belum membudaya). Tapi Dahlan tetap teguh dengan pendiriannya. Ia optimis, itu adalah cara terbaik untuk menyulap Jawa Pos dari koran tidak laku menjadi digemari masyarakat. Persoalan budaya membaca, pelan-pelan bisa diubah.

    Awalnya banyak yang terkejut, ketika ada koran terbit di pagi hari. Namun Dahlan bersama timnya mengedukasi masyarakat bahwa membaca koran di pagi hari lebih nyaman, suasananya masih fresh. Upaya Dahlan berhasil cemerlang. Oplah Jawa Pos meningkat pesat, hingga koran-koran lain pun ikut menerbitkan korannya di pagi hari. Dalam waktu 5 tahun, oplah Jawa Pos melejit hingga 300.000 eksemplar. Omzet tahunan melesat 20 kali lipat dari omzet pertama! Lima tahun kemudian, terbentuklah Jawa Pos Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, majalah serta 40 jaringan percetakan. Tahun 1997, Dahlan Iskan berhasil membangun Graha Pena, sebuah gedung perkantoran berlantai 20 yang menjadi salah satu gedung pencakar langit di Surabaya. Tahun 2002, ia membangun gedung serupa di Jakarta.

    [Cerita ini dikutip dari kisah nyata Dahlan Iskan, berbagai sumber/sudah saya ringkas]

    Di tangan orang kreatif, pagi hari pun bisa menjadi inspirasi.

    *Aliya Nurlela, Penulis & Pegiat FAM Indonesia 

    Foto: dokumentasi penulis di Graha Pena, Surabaya
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Di Tangan Orang Kreatif, Suasana Pagi Menjadi Inspirasi Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top