• Info Terkini

    Tuesday, May 2, 2017

    Menggugah Kesadaran dan Kemampuan Guru Menulis


    Di era teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini para guru dituntut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan, terutama pendidikan pada jenjang usia dini hingga menengah. Merekalah aktor lapangan yang sehari-hari berurusan dengan pendidikan.

    Salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru guna menunjang tugas dan tanggung jawab mulianya sebagai pendidik adalah kemampuan menulis. Keterampilan menulis sama pentingnya dengan keterampilan membaca, menyimak, berkomunikasi dan kemampuan memanfaatkan perangkat TIK.

    Menulis merupakan upaya mengolah ide melalui rangkaian kata-kata yang secara tertulis. Kemampuan menulis tidak muncul seketika tanpa upaya dan proses kreatif. Menulis adalah aktivitas kepekaan dan kreativitas. Keterampilan menulis berbanding lurus dengan keterampilan membaca efektif.

    Oleh karena itu, guru dituntut menguasai kemampuan dan keterampilan menulis. Menulis adalah upaya mengaktualkan pengetahuan yang dimiliki serta memaknainya dalam rangkaian kata dan bahasa yang memikat.

    Adalah sebuah ironi jika seorang guru tidak mahir menulis bahkan enggan menulis. Menulis selain bertujuan untuk mengolah ide ataupun gagasan juga berfungsi mengkomunikasikan gagasannya kepada peserta didik dan masyarakat secara umum. Menulis juga dapat menjadi sarana meningkatkan kredit seorang guru untuk kenaikan pangkat dan tunjangan profesinya.

    Bila mengacu pada realitas saat ini mungkin tidak banyak guru yang memiliki kemampuan menulis yang memadai. Dibandingkan dengan dosen, gurulah yang minim dalam melahirkan karya tulis, terlebih karya tulis ilmiah seperti artikel, paper, laporan penelitian ataupun buku.

    Ada beragam alasan yang bisa kita ajukan mengapa seorang guru tidak memiliki kemampuan memadai dalam hal tulis-menulis. Seperti tidak terbiasa menulis, bingung cara memulai sebuah tulisan, menulis tentang apa, terlalu sibuk, malas menuangkan ide dalam bentuk tulisan, dan alasan lainnya.

    Menulis: Bakat atau Proses Belajar?

    Mungkin sebagian kita beranggapan bahwa menulis merupakan bakat bawaan, dan tidak setiap orang punya kemampuan tersebut. Tentu anggapan tersebut perlu diluruskan. Jika menulis dipandang sebagai bakat bawaan, maka tidak semua orang ditakdirkan menjadi penulis. Faktanya menulis bisa dilakukan dan dikuasai oleh siapa pun yang tekun dan terus mengasah kemampuannya, meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang tinggi.

    Setiap orang pada dasarnya mempunyai potensi dalam menulis. Bakat menulis bisa lahir dan aktual jika diiringi dengan ketekunan dan ketelatenan. Guru sendiri sebenarnya sangat berpotensi dalam menulis, karena kesehariannya selalu bersentuhan dengan dunia pendidikan dan literasi.

    Yang perlu dipahami adalah kemampuan menulis tak muncul seketika tanpa upaya dan proses yang gigih. Dengan kata lain keterampilan menulis tidaklah diperoleh secara instan. Menulis adalah aktivitas dengan kesungguhan yang disertai kreativitas. Menulis membutuhkan proses latihan tanpa kenal lelah dan pantang menyerah.

    Motivasi Menulis

    Untuk menjadi penulis membutuhkan proses dan usaha yang tak kenal lelah. Ada beberapa tahapan penting bagi guru dalam menumbuhkan motivasi dan meningkatkan keterampilan menulis.

    Pertama, menulis pada dasarnya sama dengan berbicara. Berbicara menggunakan lisan dan terbilang mudah. Bedanya menulis menggunakan media tulisan, yang membutuhkan kreativitas dalam mengolah kata, pilihan kata,penggunaan logika dan lain sebagainya.

    Kedua, untuk menulis membutuhkan latihan dan pembiasaan. Ada sebuah pernyataan yang sering kita dengar, semakin berlatih semakin terlatih. Jika sering menulis dan menjadi kebiasaan, maka kemampuan dan keterampilan menulis semakin meningkat.

    Ketiga, untuk menjadi penulis memerlukan bahan. Bahan yang ditulis diperoleh dari beragam sumber seperti buku, televisi, internet, maupun pengalaman dan kejadian sehari-hari. Membaca adalah modal dasar untuk menjadi penulis. Penulis membutuhkan bahan dari bacaan. Konsekuensinya menjadi penulis haruslah gemar membaca.

    Keempat, menulis adalah bagian dari melestarikan ilmu pengetahuan. Untuk melestarikan ilmu pengetahuan, menulis adalah upaya memelihara tradisi ilmu pengetahuan dengan menstransfernya dari generasi ke generasi lain.

    Kelima, mulailah menulis hal-hal sederhana. Misalnya menyangkut aktivitas sehari-hari, pengalaman ataupun menulis hal-hal fiksi. Asah terus kemampuan menulis agar terbiasa. Latihan yang selalu dibiasakan akan meningkatkan kapasitas menulis seorang guru.

    Berbagai upaya dapat dilakukan guna menumbuhkan kesadaran dan mendorong guru dalam menulis. Pemerintah maupun pimpinan lembaga pendidikan mempunyai peran yang penting dalam mendorong guru untuk menulis.

    Kenaikan pangkat dan jabatan serta pemberian tunjangan bisa dilakukan melalui tugas menulis. Cara seperti ini mempunyai nilai efektivitas yang besar dalam mendorong guru menulis. Upaya lain adalah dengan mengadakan kompetisi menulis baik di lingkup internal lembaga pendidikan maupun antar lembaga pendidikan tingkat regional maupun nasional.

    Nah, sudah saatnya bagi para guru untuk mulai menggoreskan pena dan menggerakkan jari-jemarinya untuk menulis. Menulislah! Karena menulis adalah tradisi mulia peradaban. Semoga.


    *)Nuryadin, Kelahiran Puruk Cahu, 10 Agustus 1986. Penyuka novel dan cerpen. Menyelesaikan studinya di IAIN Antasari Banjarmasin dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beberapa karya tulisnya dimuat di koran, majalah, jurnal, dan buku antologi.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menggugah Kesadaran dan Kemampuan Guru Menulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top