• Info Terkini

    Senin, 12 Juni 2017

    Berterimakasihlah Pada Konflik!


    By: Aliya Nurlela



    Bagi seorang penulis, konflik itu mutiara, zamrud, intan permata, berlian…intinya; konflik sangat berharga!

    Anda suka berkonflik? Anda suka memancing konflik? Pasti jawab Anda: Nggak suka!
    Oke, di dunia nyata konflik adalah sesuatu yang ingin dihindari. Semua orang menginginkan hidup tenang, nyaman dan damai. Termasuk Anda, tentunya. Konflik membuat hidup gelisah, cemas, tidak tenang dan perasaan-perasaan lainnya yang melemahkan gairah. Apalagi kalau konflik itu berlangsung terus-menerus. Bisa-bisa stres dan menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Entah menyepi ke gua atau ke gunung yang tinggi  :)

    Tapi tahukah Anda, konflik yang dibenci itu ternyata amat berguna. Bermacam konflik yang timbul dalam kehidupan adalah penyumbang inspirasi dalam berkarya (menulis cerita). Berkat konflik-konflik yang terjadi di sekitar kita, kita diuntungkan, mendapat ide berserak yang gratisan. Tinggal pungut, olah dan tulis. Keren, bukan?

    So, jangan buru-buru meradang ketika orangtua menyita laptopmu saat menghadapi ujian. Terus mencak-mencak dan mengancam tidak akan belajar. Atau sikap yang lebih ekstrem, mogok makan berhari-hari. Serius kuat? Emosimu pasti kuat, tapi ingat perutmu itu Guys! Perutmu tak sekuat emosimu, camkan, titik. Ssst…ini untuk yang pelajar  :) Orang dewasa juga, jangan ngancam mogok makan gara-gara hal sepele  :)

    Berterimakasihlah pada konflik. Tanpa konflik, karya sastra (seperti novel atau cerpen) tidak akan hidup. Garing, hambar, datar dan tidak indah. Tanpa ada keseruan dan puncak cerita, sebab si tokoh hanya digambarkan hidup aman, damai, sentausa. Pembaca hanya disuguhi ketenangan dari awal hingga akhir cerita, tanpa ada ketegangan sedikit pun.
    Memang sih, konflik adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Alias bersifat negatif. Namun justru hal yang tidak menyenangkan ini, kita seret masuk ke dalam cerita. Selipkan di salah satu bagiannya, untuk “menyenangkan” pembaca.

    Untuk menciptakan konflik yang menarik dalam cerita, bukan berarti harus berantem dulu dengan teman, cekcok mulut dengan tetangga, rebutan mainan dengan adik, atau bersikap jahil menyembunyikan pensil temanmu. Ah, itu konflik yang dibuat-buat, tidak keren dan menurunkan nama baikmu :)

    Cukuplah menyelami kehidupan. Amati yang terjadi di sekitar. Lihat hubungan sepasang kekasih, orangtua-anak, kakak-adik, tetangga, teman sekolah, sahabat dan lainnya. Termasuk, peka terhadap perasaan sendiri. Pernahkan merasa minder saat melihat temanmu yang kaya raya itu ke sekolah bawa mobil keluaran terbaru, sementara Anda jalan kaki? Pernahkah merasa tak berharga, ketika cinta tulus yang dipersembahkan untuknya, dibalas dengan penghinaan? Pernahkah merasa menyesal atas tingkah polahmu pada orangtua semasa hidupnya dulu, lalu perasaan itu tak bisa hilang dari benakmu, tapi tidak tahu cara meredamnya? Pernahkah dan pernahkah? Tuangkan semua itu dalam cerita. Ramu sebaik mungkin.


    *)Aliya Nurlela, Penulis & Pegiat FAM Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Berterimakasihlah Pada Konflik! Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top