Skip to main content

FAM Palembang Gelar Buka Puasa Bersama Tokoh


Palembang, FAM - Forum Aktif Menulis (FAM) cabang Palembang kembali menggelar pertemuan rutin bulanan dengan tema Public Speaking for Success Story, di salah satu cafe klasik Palembang (11/06/17). Dalam pertemuan kali ini FAM Palembang menghadirkan narasumber yang mampu menjadi inspirator bagi FAMili--sebutan anggota FAM, yakni Hernoe Respriadji yang merupakan direktur Musi Gas dan Agus Saputra Holidu, ST selaku angkatan muda Banyuasin (AMB).

Kedua tokoh berpengaruh di Palembang ini mengkisahkan pengalaman hidupnya, dari nol hingga sukses seperti saat ini. Seperti yang dikatakan Hernoe, beliau menuturkan bahwa untuk menjadi sukses tidak cukup dengan nilai akademik yang tinggi. Namun juga harus diimbangi dengan organisasi-organisasi, kemudian mengasah dan mengembangkan kemampuan menulis baik cerita pendek, karya ilmiah maupun proposal kegiatan. "Saya senang dengan adanya FAM Indonesia ini, khususnya di kota Palembang, sehingga akan lahir anak-anak muda yang berjiwa positif dan aktif" ujar pria yang juga akan bertarung di pemilihan Walikota Palembang 2018 mendatang.


Ia menambahkan, keaktivannya di bidang organisasi pula yang turut mengantarkannya untuk berani tampil di depan umum, dengan menggunakan kemampuan bicaranya yang telah diasah sejak bersama organisasi atau komunitasnya.

Agus Saputra Holidu, ST pun menceritakan kisahnya. Berangkat dari kehidupan yang prihatin, Birokrat Kementerian PU ini akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya Institut Tekhnologi Bandung. Ia sepakat bahwa keberanian tampil di depan umum itu tidak datang begitu saja, melainkan atas keaktivan kita dalam segala kegiatan. Ke depan ia berharap FAM Palembang mampu bersinergi dengan Forum Mahasiswa Banyuasin yang dinaunginya, dalam berbagai kegiatan. Sehingga dapat melatih dan mengembangkan kemampuan FAMili.

Acara yang dimoderatori oleh Fatkhurrohman, Produser Trijaya FM itu diikuti oleh beberapa komunitas lain seperti AKUMINDO Sumsel, Sahabat Literasi, FLP dan mahasiswa dari beberapa universitas di Palembang. Banyak gagasan yang muncul dari kegiatan tersebut, salah satunya dengan menggaet FAM Palembang untuk terlibat dalam penerbitan buku karya Hernoe. Acara ditutup dengan berbuka puasa bersama narasumber, peserta dan FAMili. 


Laporan: Pipit El Fithri, Pengurus FAM Palembang

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…