Skip to main content

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Apresiasi Lahirnya Karya Penulis Baru



Kediri-Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia di usianya yang ke-5 tahun, telah banyak membina serta melahirkan penulis-penulis muda yang aktif berkarya. Sebagian penulis aktif mengirimkan karyanya ke media dan sebagian lainnya, menerbitkan naskah-naskah karyanya dengan cara dibukukan. 

FAM Indonesia sangat mengapresiasi tingginya semangat berkarya itu. Salah satu apresiasi dari FAM Indonesia adalah dengan memudahkan para penulis dalam menerbitkan karyanya. Bahkan, menyediakan ruang diskusi dan bimbingan bagi penulis yang memerlukan. 

“Media untuk berkomunikasi saat ini, sangat mudah. Bisa melalui sms, WA, telepon, facebook maupun email. FAM Indonesia mengaktifkan semua media tersebut untuk kelancaran komunikasi dengan penulis,” ujar Aliya Nurlela, Pegiat FAM yang aktif berkomunikasi dengan para penulis. 


Tahun 2016, bisa dikatakan sebagai tahun lonjakan masuknya naskah ke meja FAM Indonesia. Baik naskah untuk diulas, atau diterbitkan menjadi buku. Melalui Divisi Penerbitan FAM Publishing, FAM Indonesia menyeleksi naskah-naskah tersebut dan dipilih yang layak untuk dibukukan. Hasilnya, lebih dari 130-an naskah yang diterbitkan. Baik naskah tunggal, maupun antologi. 

“Kami sangat bangga dengan lahirnya penulis-penulis baru. Itu artinya, semangat cinta literasi tidak padam. Akan selalu ada generasi penerus di setiap masa yang menghidupkan cinta membaca dan menulis,” ujar Aliya Nurlela lagi. 

Banyaknya jumlah naskah yang masuk, membuat jadwal penerbitan di FAM Publishing cukup padat. Hingga beberapa naskah, masuk ke dalam daftar tunggu. Apalagi di tahun yang sama, FAM Publishing sedang menerbitkan naskah-naskah untuk event Gebyar Launching, sebanyak 60 naskah. 

Di tahun 2017 hingga pertengahan Juni ini, di samping FAM Publishing menyelesaikan penerbitan naskah-naskah yang daftar tunggu—terutama antologi—naskah yang baru masuk, tetap ditangani sesuai jadwal.

“Alhamdulillah, Bulan Juni menjadi moment lahirnya buku perdana para penulis. Termasuk, terbitnya beberapa buku tunggal dan antologi dari para penulis yang sudah sering menerbitkan buku,” pungkas Aliya Nurlela, yang sekaligus menjabat Manajer di FAM Publishing. [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…