Skip to main content

Menjadi Editor Naskah Sendiri



Oleh: Khoirun Nisak

Menerbitkan buku bukan lagi menjadi sesuatu yang sulit untuk diwujudkan. Semuanya menjadi lebih mudah dengan adanya self publishing. Namun, tidak ada salahnya sebelum menyerahkan naskahnya ke penerbit, penulis menjadi editor awal bagi naskahnya sendiri.

Nah, alangkah baiknya gunakan tip berikut ini agar kerja editor lebih efektif dan efisien. Dampaknya, naskah akan cepat terselesaikan. Penerbitan buku  pun lancar.
Berikut tipnya.

1. Pahami apa yang ditulis
Sebelum menuliskan sebuah tema, pastikan bahwa kita paham betul dengan apa yang kita tulis. Sehingga, paragraf yang dibuat bisa padu, mengalir dan enak dibaca.

Membaca lagi secara berulang hasil tulisan kita, adalah langkah yang bijak. Menjadi editor bagi tulisan sendiri. Bacalah secara berulang-ulang naskah itu, kalau dirasakan sudah enak dibaca maka lakukanlah langkah selanjutnya.

2. Hindari plagiasi
Banyak naskah yang bagus, tetapi tidak terhindar dari ranah plagiasi. Mengapa, karena tidak mencantumkan daftar pustaka ataupun memberikan catatan kaki. Entah karena ketidaktahuan, lupa, malas, atau bahkan sengaja karena memang sudah niat copy paste.

Hindarilah ini dengan mencantumkan semua daftar pustaka yang kita gunakan untuk referensi. Marilah belajar menghargai tulisan orang lain. Seberapa banyak kita copy paste, maka sebanyak itu juga harus kita tuliskan sumbernya.

Ini untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan di belakang hari, karena terkait dengan hak kekayaan intektual (HAKI). Lebih baik menjaga amannya dan mulailah menghargai hasil karya orang lain, dengan menghindari plagiasi.

3. Siapkan naskah dengan lengkap sebelum mengirim ke editor
Mengirimkan naskah secara lengkap, selain mempermudah kerja editor, juga mempercepat proses editing itu sendiri. Usahakan, mengirimkan naskah dengan kelengkapan berikut ini.
a. Halaman judul
b. Kata pengantar
c. Daftar isi
d. Isi naskah
e. Daftar pustaka
f. Profil penulis
g. Sinopsis
Susunlah dalam satu kesatuan, jangan per-file. Ini akan memperlama proses editing, karena editor harus menggabungnya terlebih dahulu. Jangan berpikir: “Itu kan sudah kerja editor,” nah lho. 

Jangan pernah berpikir demikian ya kawan, karena editor dan penulis adalah sahabat karib. Harus seiring sejalan. Dengan satu tujuan, naskah selesai dengan cepat dan tepat.

4. Jangan lupa sertakan nomor yang bisa dihubungi
Ini pentingnya melampirkan nomor yang bisa dihubungi. Saat ada kesalahan atau kekurangan naskah yang harus dikomunikasikan ke penulis. Sedikit saja kekurangan, misalnya profil penulis. Saat penulis tidak dapat dihubungi, maka macetlah proses editing naskah Anda.

5. Cepatlah menanggapi konfirmasi dari editor
Ketika mendapat konfirmasi dari editor, segeralah menindaklanjuti. Misal, ada kekurangan profil penulis. Segeralah buatkan dan kirim kembali secepatnya. Agar proses editing juga tidak terganggu.

Demikianlah sedikit tip yang bisa saya bagikan, semoga naskah kita cepat terselesaikan di meja editor. 
Salam Literasi.
Gedangan, 11 Juni 2017.




Tentang Penulis

KHOIRUN NISAK, S.Pd. Anak kedua dari empat bersaudara ini, kelahiran Sidoarjo, 6 mei 1983. Mengenyam Pendidikan S1 di FIS UNESA. Kini menjadi Pengajar di SD Taman Pendidikan Islam. Beberapa opininya telah dimuat di tabloid PENA, Malang pos, Jurnal Delta Widya, Harian Duta Masyarakat, dan Harian Bhirawa. Resensi Buku yang telah ditulis telah dimuat di Harian Bhirawa, Malang pos dan medan bisnis. Dua Buku yang telah ditulisnya secara kolaboratif bersama alumni kelas menulis media guru berjudul Terima Kasih Guru (2016), dan Catatan Cinta untuk Ibu (2016). Antologi puisinya berjudul Tembang Puja Asmara (Mejatamu, 2017) Ia dapat dihubungi di nisakanis514@gmail.com . Atau di nomor 085856073001.

Sumber foto: hellocoldworld.viewy.ru 

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…