• Info Terkini

    Friday, August 4, 2017

    Aku Tidak Bisa Menulis?


    Oleh: Mister Hadi

    Sahabat penulis yang hebat.

    Profesi menulis bagi sebagian orang merupakan hal yang sangat rumit dan ribet. Pernah suatu ketika salah seorang teman berkata; “Aku tidak punya bakat menulis, menulis itu susah, menulis itu sulit. Lebih baik aku melakukan pekerjaan lain daripada harus menulis” Timpalnya.

    Tidak sedikit orang berpandangan bahwa profesi menulis ini, diyakini hanya untuk kaum ningrat (bangsawan)[1] atau yang berpendidikan tinggi, sarjana, doctor dan professsor. Anggapan semacam ini tidak seratus persen salah, karena melihat dunia pendidikan atau akademik sekelas doctor dan professor harus menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan menulis karya ilmiah atau hasil research (penelitian) dalam bentuk empiris (berdasarkan penemuan, pengamatan).[2]

    Sebagai contoh, ketika seorang sarjana S1 (strata satu) S2 (strata dua) doctor dan professor harus menulis karya ilmiah (skripsi, thesis) sebagai persyaratan wisuda. Apalagi untuk menulis skripsi tersebut butuh referensi yang tidak sedikit, minimal membaca 20-50 buku mayor dan beberapa buku minor. Dalam hal ini, secara tidak langsung dan tanpa di sadari bahwa dirinya telah menjadi seorang penulis. Artinya, untuk menjadi seorang penulis ilmiah memang membutuhkan cakupan explorasi knowledge (pengetahuan) yang luas.Karena dunia akademik membutuhkan keluasan berpikir dan membaca.

    Adapun yang beranggapan bahwa dunia menulis hanya untuk kaum ningrat juga tidak seratus persen benar. Hal semacam ini telah lama dibuktikan dengan munculnya beberapa generasi yang tanpa meraih gelar sarjana pun dapat menulis dengan baik. Lihatlah bagaimana penulis novel TereLiye yang menjadikan menulis sebagai sampingannya, padahal ia adalah seorang akuntan.[3] Ia tidak bergelar doctor dan professor namun, karya-karyanya selalu best seller. Dan masih banyak lagi contoh penulis yang menulis tanpa memiliki gelar akademik yang tinggi. Akan tetapi karya dan tulisan mereka lebih tajam dari pada para sarjana yang menghabiskan kuliah di kampus-kampus yang mahal.

    Berbicara tentang masalah kepenulisan, ada pertanyaan yang sangat menarik untuk di diskusikan. Pertanyaan ini paling banyak di lontarkan oleh orang yang paranoid atau fobia (menakutkan, asing) terhadap profesi menulis.“Untuk apa menulis?” Nah, untuk menjawab pertanyaan ini sudah ada puluhan, bahkan ribuan judul buku yang membahas justru sebelum pertanyaan itu dilontarkan. Kalaulah boleh meminjam kata Winston Churchill dia mengatakan “Pena lebih tajam dari mata pedang” dan ungkapan terkenal Napoleon Bonaparte “Saya lebih takut pada sebuah pena daripada seratus meriam.” Kedua ungkapan ini merupakan bukti bahwa kekuatan pena atau tulisan mampu memberikan efek luar biasa terhadap pembaca.

    Kekuatan tulisan mampu menggerakkan jiwa pembaca. Kekuatan tulisan dapat membangkitkan keberanian. Kekuatan tulisan dapat meruntuhkan benteng tebal yang kokoh sekalipun.

    Hal ini ini telah menjadi sebuah catatan penting dalam sejarah bahwa, kemajuan dan kekuatan suatu negara dan bangsa jika di sana banyak orang-orang yang menggerakkan pena di ujung jari-jari mereka untuk menulis. Jika tidak dengan tulisan maka kemajuan dan peradaban dunia akan sulit di tegakkan. Maka inilah jawaban logis dari pertanyaan di atas.

    Kembali kepada tema tentang penulisan. Bagi masyarakat modern menulis dan membaca adalah sebuah kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Seperti sebuah ungkapan Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi penulis buku Misykat. Beliau mangatakan “Menulis itu refleksi dari baca, baca dan baca. Orang yang sering membaca tanpa menulis apa yang dia baca, maka dia seperti orang yang makan, makan, dan makan, tapi dia tidak mau buang air besar. Maka ketika hal tersebut terjadi akan menimbulkan penyakit. Dan penyakit inilah yang harus di sembuhkan dengan cara menulis.”

    Menarik mengenai apa yang di katakan oleh Dr. Hamid diatas.  Bahwa, kondisi tersebut terjadi di mayoritas masyarakat kita saat ini. Banyak orang yang gemar membaca namun tidak gemar menulis, padahal kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Bahkan, masalah itu sudah dipelajari semenjak kita belajar di SekolahDasar (SD) dulu. Dahulu ketika SD, ada pelajaran membaca dan menulis. Guru menjelaskan dan mengajarkan bagaimana cara membaca, kemudian barulah setelah itu guru menyuruh siswa untuk menulis apa yang dia baca. Sangat simple, tidak ribet. Kita hanya menyalin dari buku teks apa yang kita baca, kemudian kita tulis di buku tulis.

    Sayangnya, kebiasaan tersebut tidak membuat kita sadar akan pentingnya menulis, tentang apa yang kita baca. Kita lupa menulis apa yang kita lihat. Dan kita lupa menulis apa yang kita dengar. Karena kealpaan itulah kita tertular penyakit kronis yaitu tidak bisa menulis. Tidak bisa berkarya dan tidak bisa mewarnai dunia.
    Menulis status di facebook saja bisa, namun tetap masih beralasan“Aku Tidak Bisa Menulis?”


    *)Mister Hadi, adalah nama pena dari SofianHadi. Asli berdarah Taliwang. Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Saat ini sedang menempuh kuliah Pascasarjana S2 di Universitas Darussalam Gontor, jurusan Aqidah Filsafat. Pengalaman menulis, cerpennya yang berjudul “SebaitDo’aUntuk Sang Guru”masuk dalam 10 besar cerpen terbaik dalam lomba  Aksara 2016.Saat ini sedang menulis sebuah novel tentang kehidupan di pesisir Pantai Taliwang.Cita-cita adalah menjadi penulis terkenal dan ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa ia ada untuk berkarya.

    [1] KBBI online

    [2]Ibid

    [3] Wikipedia.org
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Aku Tidak Bisa Menulis? Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top