• Info Terkini

    Thursday, August 24, 2017

    Perjalanan dari Titik Nol


    By; MeezaA


    Perkenalkan, saya MeezaA, seorang perempuan penghobi membaca dan menulis. Ah, terdengar seperti hobi orang-orang aneh nan membosankan, bukan? Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman saya di dunia tulis-menulis.

    Saya memang bukanlah (baca: belumlah menjadi) seorang penulis atau pujangga besar, bahkan sebuah buku yang terbit atas nama saya pun belum ada. Namun, saya benar-benar menyukai dunia tulis-menulis dan berharap suatu saat saya akan memiliki karya sendiri yang dirilis secara publik. Saat ini saya pun masih terus belajar banyak hal tentang dunia literasi.

    Sedikit cerita, ketertarikan saya dengan dunia tulis-menulis berawal dari perkataan seorang guru saya di SMA. Meskipun mata pelajaran yang beliau ampu adalah biologi (yang notabene tidak berhubungan langsung dengan tulis-menulis), saya sangat terinspirasi dengan kata-katanya. Beliau berkata kurang lebih demikian: ‘Saya suka membaca. Karena saya suka membaca, akhirnya saya menulis.’ Perkataan beliau memang sederhana, tetapi benar-benar menempel di benak sampai sekarang. Perkataan tersebut seolah-olah mengisyaratkan semakin banyak kita membaca, semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak ide, inspirasi, ilham, dkk, atau minimal uneg-uneg, yang terlahir dalam benak kita. Menulis adalah salah satu kanal ‘pembuangan’ hal-hal tadi. Dan itu memang benar.

    Saya sudah diperkenalkan pada buku-buku sejak masih kecil. Mungkin karena itulah saya akhirnya suka membaca. Membaca membuat saya bertanya-tanya, berpikir, dan akhirnya menemukan jawaban. Dengan menulis, hal-hal tersebut, yang masih belum berwujud dan hanya ada dalam benak saya, akhirnya menemukan bentuknya. Nah, dari situlah saya memberanikan diri untuk menulis. Di sisi lain, saya merasa ada kelegaan dan kepuasan tersendiri setiap kali selesai menulis. Wah, sarana katarsis yang murah dan mudah, nih, batin saya. Menurut KBBI, katarsis dalam bidang sastra adalah kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis, sedangkan dalam bidang psikologi katarsis berarti cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas. Anggaplah ketegangan batin bisa menimbulkan penyakit saraf, maka ketika saya merasa galau yang tidak tertahankan, jengkel yang tidak bisa dipendam, atau sedih yang meluap-luap, saya bisa menyalurkan semuanya lewat menulis. Dalam perjalanannya, kebahagiaan dan pengharapan juga saya jadikan amunisi untuk menulis.

    Tidak selamanya saya berakrab-akrab ria dan menemukan kenyamanan dengan menulis. Saat kuliah, saya mencoba sedikit berani dengan mempublikasikan tulisan-tulisan saya di blog dan akun Facebook. Namun ketika pada suatu titik jenuh saya merasa tulisan-tulisan saya masih dangkal, saya menghapus blog tersebut sekaligus tulisan-tulisan yang masih tersimpan di perangkat komputer saya. Sebegitu frustrasinya saya, saya jadi seperti menghindar dari menulis. Satu-satunya yang saya tulis saat itu bisa jadi hanya tugas akhir sebagai syarat kelulusan saya.

    Kehidupan pasca-universitas juga sukses merebut fokus saya. Ketika kita sudah dinilai sempurna sebagai manusia dewasa yang harus siap berhadapan dengan realitas, ada hal yang harus dikejar sebagai sumber penghidupan, bukan semata idealisme yang kadang-kadang dipandang terlalu kaku. Namun, kerinduan pada teman lama membuat saya terkadang mencuri-curi waktu untuk bermimpi menulis kembali.

    Keakraban dengan teman lama itu kembali terjalin setelah saya memutuskan untuk menjalankan usaha sendiri. Saya termotivasi untuk menulis lagi, bahkan mulai menetapkan target menempatkan tulisan-tulisan saya di media-media publik. Beberapa kali saya mengirim tulisan ke media cetak, tetapi tampaknya saya belum beruntung. Belum ada satu pun tulisan saya yang dimuat.

    Tidak ingin keputusasaan kembali merundung saya, saya mencari-cari alternatif lain bagi tulisan-tulisan saya. Beruntung, ternyata memang banyak sekali jalannya. Saat ini, penulis-penulis muda bermunculan seperti generasi baby boomer dan tidak sedikit yang memiliki kualitas. Saya merasa seperti bergabung dengan angkatan-angkatan muda dunia literasi. Menerbitkan buku karya sendiri bukan lagi sesuatu yang sulit, asal kita memiliki kegigihan. Penerbit-penerbit indie bermunculan dan tentu saja banyak yang terpercaya, bahkan telah menerbitkan buku-buku yang kualitasnya sementereng terbitan penerbit mayor. Banyak event atau kompetisi menulis digelar, tulisan-tulisan terpilih kemungkinan besar dibukukan dalam sebuah antologi. Beberapa media online pun menerima tulisan dari kontributor luar. Lihatlah, bukankah ini sangat menyenangkan, mengetahui bahwa kamu bisa mewujudkan sebuah mimpi terpendammu?

    Saya pun menulis, mengikuti kompetisi-kompetisi menulis yang banyak saya temukan di media sosial. Saya berjalan dari titik nol lagi. Dan Tuhan memang Maha Baik. Sampai saat ini, sebuah media puisi online dan tiga kompetisi menulis dengan tiga tema berbeda memilih puisi saya sebagai salah satu kontributor. Memang belum menjadi puisi terbaik, tetapi bagi saya ini adalah salah satu langkah besar dan saya siap untuk langkah-langkah selanjutnya.

    Di luar sana, di antara para pembaca tulisan ini, mungkin banyak yang memiliki cerita serupa pengalaman saya. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi dan melahirkan motivasi. Kita bisa sama-sama belajar, berusaha dengan penuh kegigihan. Janganlah patah harapan dan janganlah berhenti menulis! Banyak hal besar dimulai dari hal kecil. Abjad memang hanya terdiri dari 26 huruf, tetapi kesempatan bagi kita pasti lebih banyak daripada bintang-bintang yang tampak di langit. [FAM]


          MeezaA lahir tinggal di kota Jember, Jawa Timur. Ia bisa dihubungi lewat alamat surel adhitya.meeza@gmail.com dan akun Facebook (facebook.com/meezaa.meezaa.10). Puisinya yang berjudul Sebuah Titik Balik terpilih sebagai salah satu kontributor di Poetry Prairie Lite 6 (https://poetryprairie.com/2017/08/05/35-puisi-poetry-prairie-lite-6/) dan empat puisinya terpilih sebagai kontributor lomba menulis puisi oleh salah satu penerbit indie.


    sumber foto: aaihs.org
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Perjalanan dari Titik Nol Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top