• Info Terkini

    Monday, September 11, 2017

    Dari EYD menjadi PUEBI


    By: Gendhuk Gandhes
       
    Salam jumpa sahabat FAM di seluruh Indonesia maupun di luar tanah air. Di sini saya akan sedikit mengingatkan tentang PUEBI. Tentu kita semua sudah tahu jika Ejaan Yang Disempurnakan atau biasa disebut EYD diberlakukan di negara kita sejak tahun 1972. Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 no.0196/U/1075 sebagai pengganti Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik.Seperti saat ini, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan dan juga seni memungkinkan bangsa kita bertemu dengan budaya bangsa lain dan bahasa dari negara lain.
     
    Jika dalam hal kebudayaan kita yang beragam diperlukan rasa cinta tanah air yang demikian besar terutama para generasi mudanya. Kukuh, kuat dan bersatu dalam menjaga dan melestarikan  budaya bangsa Indonesia agar tidak diambil atau diklaim bangsa lain.
       
    Tidak berbeda dalam hal penggunaan bahasa. Era globalisasi memungkinkan kita berada di banyak tempat tanpa bergeser dari tempat duduk. Saat sekarang jarak sudah tidak menjadi masalah berarti. Misalnya jika kita menimba ilmu di suatu kota yang berbeda dengan Kota di mana orangtua tinggal, kita hanya perlu mengangkat gawai untuk saling melepas rindu sementara. Pertemuan dengan bangsa lain yang berbahasa lain pun sekarang sudah sangat mungkin terjadi. Semakin lama dan luas pergaulan akan membawa dampak pada perkembangan bahasa Indonesia dalam kancah percaturan dunia.
     
    Penggunaan bahasa Indonesia akan menjadi bervariatif, artinya ada beberapa ucapan yang akan diselingi dengan bahasa asing. Pastinya dengan melihat siapa yang kita ajak berbincang. Tidak kita pungkiri penggunaan bahasa asing dalam pergaulan sudah menjadi camilan sehari-hari. Kadang-kadang menyelipkan kata asing maupun bahasa asing dalam sebuah percakapan ditujukan untuk mempermudah menyampaikan maksud pada golongan tertentu atau bahkan untuk memperhalus tentang suatu maksud agar tidak menyinggung keadaan tertentu. Ada juga yang menakar penggunaan bahasa atau istilah asing sebagai sebuah gengsi. Sudah kekinian jika dalam percakapan menyelipkan bahasa asing.
     
    Namun, lepas dari semua masalah alasan yang dipakai dalam pemakaian bahasa asing memang tidak bisa dielakkan saat ini penggunaannya sudah semakin sering dan meluas. Semakin bertambahnya penggunaan bahasa asing dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan telah menggugah pihak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia untuk menyerap kata-kata asing tersebut.

    Seperti pernah dikatakan oleh Bapak Prof. Dr. Gufran Ali I, M, S, selaku  Kepala Pusat Pembinaan Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa Indonesia, bahwa bahasa Indonesia sebagai piranti penting pemersatu masyarakat Indonesia perlu dilakukan penyegaran.
     
    Langkah ini dirasa perlu sebagai penambah perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia. Untuk itu diperlukan bimbingan yang baik dan benar agar tidak merusak tata bahasa yang sudah ada. Sudah dilangsir oleh kemendikbud.go.id bahwa perkembangan perbendaharaan kata memerlukan sebuah buku pedoman sebagai rujukan dan acuan bagi berbagai penggunaan bahasa Indonesia terutama bahasa tulisan.
     
    Dampak kemajuan yang begitu pesat, terutama dalam hal penyampaian pesan atau informasi menjadikan bahasa Indonesia sangat dibutuhkan dalam berbagai kesempatan. Beberapa unsur serapan pun segera dimasukkan di dalam kaidah berbahasa. Banyaknya protes dari masyarakat tentang Ejaan yang Disempurnakan yang masih perlu disempurnakan lagi, maka dirilislah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau disingkat PUEBI.
     
    Tepatnya pada tanggal 30 November 2015, Permendiknas 46/2009 tentang Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku karena diganti oleh Permendikbud 50/2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Yang mana hak cipta PUEBI dimiliki oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa RI. Jadi secara yuridis ejaan yang kini diakui negara adalah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).
     
    Diharapkan penertiban berbahasa tersebut dapat mempercepat proses tertib berbahasa Indonesia sehingga memantapkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang sah.
     
    Perubahan EYD menjadi PUEBI tidak mengubah seluruh isi dari EYD. Tiga perbedaan yang mendasar antara lain :

    1. Penambahan Huruf Diftong
    ai, au, ao      ---> di dalam EYD
    ei, ai, ,au, ao ---> di dalam EBI
    misal dalam kalimat : geiser dan survei

    2. Penggunaan Huruf Kapital
    Di dalam EYD : tidak diatur huruf kapital digunakan untuk menulis unsur julukan.
                               Huruf kapital hanya pada nama orang bukan nama julukan.
    Di dalam EBI : huruf kapital digunakan pada unsur nama orang termasuk julukan.

    3. Penggunaan Huruf Tebal.
    EYD : menulis judul buku, bab dan semacamnya, mengkhususkan huruf dan nulis lema.
    EBI : hanya menulis judul, bab dan semacamnya (sub bab).

    Demikian sedikit pengingat tentang penggantian EYD menjadi PUEBI. Semoga kita dapat bersama-sama semakin menertibkan penggunaan EBI yang baik dan benar dalam bahasa lisan maupun tulisan.

    Sumber :
    - blog.unnes.ac.id
    - badanbahasa.kemdikbud.go.id
    - puebi.readthedocs.io
    - ivanlanin.github.io

    *Gendhuk Gandhes adalah nama pena dari Ratna Dewi lahir 18 november di Kota Batang, Jawa Tengah. Setelah beberapa kali pindah kota dari tahun 2005 sampai tahun 2016 karena urusan pekerjaan, lulusan universitas 17 Agustus Semarang ini sekarang berdomisili di Kota Sidoarjo. Salah satu tulisannya berjudul Yayuk (www.storial.co/book/Yayuk) pada tanggal 2 agustus 2017 terpilih  menjadi salah satu tulisan terbaik dalam kompetisi Short Story Competition. Saat ini tercatat sebagai anggota FAM Indonesia dengan mengantongi nomor IDFAM 4830U

    Sumber foto: m3.22slides.com/robertgillphotography
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Dari EYD menjadi PUEBI Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top