• Info Terkini

    Sunday, October 1, 2017

    Kenapa Sih Harus Menulis? Kenapa? Kenapa, ya?


    By: Rizki Amalia Oktisah

    Saya juga sering bertanya-tanya di dalam benak dan lubuk hati saya yang paling dalam. Kenapa saya harus menulis? Kenapa saya juga hobi menulis dan ingin menjadi seorang penulis?  Padahal, profesi saya sebagai bidan. Saya mencintai dunia literasi, tapi saya menikahi dunia kebidanan. Berasa lagi poligami. Hehe.
    Saya sendiri juga bingung. Kenapa saya selalu menyempatkan diri di setiap celah waktu yang harusnya digunakan untuk istirahat dan bersantai, malah saya gunakan untuk menulis beberapa kalimat yang akhirnya menjadi sebuah karya yang ternyata, kalau dibaca-baca dan ditilik-tilik menjadi sebuah tulisan yang nyata indahnya. Hehe. Oke, ini hanya sebuah wujud kepercayaan diri saya saja untuk terus semangat menulis. Jangan protes, ya. Saya tak peduli dengan cemoohan orang-orang yang meremehkan karya saya. Yang saya pedulikan, hati saya selalu merasa bahagia ketika menulis. Apalagi sampai berhasil menyelesaikan tulisan saya (cerpen, novel, puisi). Ada semacam sensasi bahagia tersendiri yang mungkin sesama teman penulis juga merasakannya.

    Setiap orang pasti memiliki alasan yang beragam untuk menulis. Terutama saya. Mungkin, beberapa alasan saya dibawah ini, bisa menjadi sedikit motivasi untuk yang ingin ikut terjun menyelami dunia literasi. Beberapa alasan kenapa kita harus menulis versi saya, diantaranya, adalah:

    1. Kita bisa menciptakan dunia kita sendiri sambil curhat dan berbagi pengalaman.

    Sebuah pengalaman sedih ataupun bahagia, di dalamnya pasti selalu terselip hikmah yang bisa kita petik. Bagi saya, pengalaman itu menjadi stok inspirasi mahal yang bisa kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Sembari berbagi pengalaman alias curhat, kita juga bisa menyelipkan pesan-pesan tersirat untuk para pembaca yang membaca tulisan kita. Tidak harus pengalaman pribadi. Pengalaman dari curhatan teman-teman pun bisa menjadi bahan ide yang bisa kita jadikan sebuah tulisan.

    Jangan takut dicemooh orang-orang yang berkomentar pedas seperti, “Curhat, Mbak?”, “Galau mulu, Mbak,” dengan apa yang kita tulis. Karena mereka tak pernah tahu, sebuah tulisan yang dihasilkan dari coretan jemari bisa membuat kita abadi bersama tulisan. Dalam arti lain, kita bisa menciptakan dunia kita sendiri sesuka dan sebebas pemikiran kita. Dengan menulis, kita bebas mengeluarkan pendapat juga loh. Hehe.

    2. Merekam Ingatan dan Menjadi jejak sejarah pribadi

    Dengan menulis, kita bisa mengabadikan ingatan. Bagi saya, dapat merekam berbagai peristiwa yang pernah terlewati selama kita masih bernapas dalam bentuk sebuah karya, akan menjadi bekal yang bisa kita tinggalkan manfaatnya untuk generasi setelah kita. Dan di kemudian hari, tulisan kita menjadi sebuah wujud nyata di masa depan, bahwa kita memang pernah hidup di masa kini, serta dapat diceritakan ke anak cucu kita nanti. Kita juga  jadi punya catatan sejarah pribadi.

    3. Dikenal banyak orang melalui karya dan mendapat royalti sebagai bonus ataupun reward

    Jangan takut karya kita sepi pembaca. Karena setiap tulisan, akan selalu menemukan pembaca yang menanti karya kita.  Garis besarnya, sebuah tulisan akan selalu menemukan penikmatnya sendiri.

    Sekarang, saya memang tergolong masih ‘baru nyemplung’ dalam dunia tulis menulis. Karena sempat memilih vacum atau bahasa kerennya writer block selama 3 tahun dengan alasan fokus kuliah dan organisasi. Tapi, minat menulis saya sudah mulai ada sejak duduk di bangku kelas 1 SMA. Waktu itu, saya memulainya dengan menulis cerita bersambung yang saya titipkan di Fanspage kepenulisan. Karena saya belum terlalu PD mempublikasikannya sendiri di akun pribadi. Mulai dari hanya satu pembaca hingga ke ratusan pembaca yang mulai menikmati dan banjir dengan komentar. Dari situ, semangat menulis saya naik. Apalagi waktu saya dapat kesempatan menang di salah satu sayembara  penerbit mayor dan karya saya masuk toko buku. Semakin semangat. Saya mulai mempublikasikannya sendiri di sosial media dan akhirnya bisa dikenal orang-orang dengan tulisan saya. Dikenal orang lewat karya? Ah, menyenangkan. Tapi, sekarang saya harus memulainya lagi dari nol. Haha.

    Dari situ, saya juga  bisa kenal dengan teman sesama penulis yang memiliki minat yang sama. Itu bahagianya luar biasa. Bisa menemukan orang-orang yang minatnya serupa dengan kita. Selain bisa sharing, kita juga bisa saling menyemangati ketika dilanda down.

    Dari tulisan, kita juga bisa mendapat beberapa lembar rupiah sebagai royalti. Kapan lagi coba? Menghasilkan uang dari hobi yang memang kita senangi? Ah, pokoknya, menulis itu menyenangkan. Ayo dicoba. Hehe.

    Nah, mungkin itu beberapa alasan saya kenapa harus menulis. Semoga bermanfaat dan semoga yang membaca bisa terketuk pintu hatinya untuk mulai mencoba menulis. Sempatkan waktu luang kamu untuk menulis. Manfaatkan setiap ide yang muncul dipikiranmu menjadi sebuah karya. Jangan biarkan ide itu lari dan kabur begitu saja. Sip? Sekian dan terima kasih sudah repot-repot membaca tulisan saya.


    *)Rizki Amalia Oktisah biasa dikenal dengan nama pena Authorizki. Seorang penikmat sepi dan rindu.Lahir di Kota Cirebon generasi 95 pada hari ke sembilan di bulan Juli. Berprofesi sebagai bidan yang kini berdomisili di pulau Karimun, Kepri. Hobi merangkai diksi dan aksara. Salah satu karyanya pernah menjadi juara ketiga di event memperingati hari aksara sedunia. Sebagian karyanya bisa diakses di http://bidankiki.wordpress.com dan di IG: @authorizki. Email: oktisah@gmail.com. Hubungi ia di 085795769489
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kenapa Sih Harus Menulis? Kenapa? Kenapa, ya? Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top