Skip to main content

Kegagalan Menulis


By: AsyahAl-ayubi



Judul di atas bukan bentuk provokasi untuk berhenti menulis. Adakalanya kita membutuhkan tulisan bernada negatif untuk membangunkan pikiran-pikiran positif dalam diri, dan mengatakan “Aku Bisa!” Menulis bagi saya bukan hal baru, tentu bagi pembaca menulis sudah dilakoni dari sekolah tingkat dasar hingga saat ini. Tapi menulis disini bukan sekadar menulis huruf atau menjiplak seperti yang dilakukan saat kecil atau di lembaga pendidikan.

Banyak orang-orang yang melakukan kegiatan menulis, bahkan menulis sudah dijadikan profesi yang “menghasilkan”, dengan menulis terkumpulah pundi-pundi receh yang menjanjikan. Selain itu karya tulisan yang dinikmati pembaca melalui media cetak atau elektronik adalah kebanggaan bagi seorang penulis.

Nah, bagaimana jika tulisan Anda tak pernah bertengger di media apa pun? Atau kalah dalam sayembara menulis yang kini berseliweran di mana-mana. Tentu sedih dan kecewa karena kegagalan yang ternyata bukan terjadi sekali atau dua kali. Bertubi-tubi mengalami kegagalan menulis yang tidak dimuat atau tidak menjuarai dalam lomba. Saya adalah satu di antara yang mengalami kegagalan itu, penulis pemula seperti saya sangat menggebu sekali agar tulisan pertama dan kesekiannya dapat dimuat di media dan tentu memenangkan perlombaan bergengsi yang diharapkan membuat kita akan terus berkarya.Tapi bagaimana jika impian dan kenyataan berbeda 100%? Jika Anda penulis pemula. Maka mulailah berpikir bahwa“bukan rezekinya" jika tulisan Anda belum termuat. Walau sudah begitu, sangat manusiawi memiliki rasa kesedihan dan kecewa. Tapi jika terus merana dan bahkan menjelek-jelekkan karya sendiri, maka itu adalah kiamat bagi seorang penulis.

Menghargai karya sendiri adalah sikap legowo yang patut dimiliki penulis pemula. Jangan berpikir bahwa tulisan Anda tidak layak untuk dimuat, tapi berpikirlah bahwa karya Anda tertunda sementara, dan yang Anda perlukan hanyalah belajar dan belajar mengenai menulis. Kegagalan menulis bisa disebabkan karena empat hal yang harus diperbaiki oleh penulis pemula. Pertama, niatkan bahwa Anda menulis bukan untuk kebanggan diri Anda. Ubahlah niat Anda, dengan niat agar tulisan Anda bermanfaat bagi pembaca. Menulislah dengan hati mulai saat ini. Kedua, ide itu dekat dengan kita. Siapa bilang bahwa itu ide sulit untuk di dapat? Ide justru lahir dari kepekaan seorang penulis. Jika Anda ingin menjadi penulis, maka cobahlah untuk peka dan membuka diri Anda terhadap diri Anda, keluarga dan lingkungan masyarakat. Anda akan mudah mendapatkan sejuta ide menulis dari hal kecil sekalipun.

Ketiga, baca! Sebelum berkeinginan bulat-bulat menjadi penulis, Anda harus menjadi seorang reader atau pembaca terlebih dahulu. Karena menjadi seorang pembaca akan memotivasi Anda untuk bisa menulis karya Anda sendiri. Selain itu Anda akan menemukan banyak jutaan kata unik yang bisa anda jadikan referensi dalam karya Anda, ingat yah jangan plagiat.

Terakhir, mencari editor handal atau rekan yang memang sudah jago menulis. Anda membutuhkan rekan editor, agar membantu penulis menemukan kesalahan kata, alur cerita bahkan ide. Beda dengan pembaca pemula, editor ini akan lebih memperhatikan tulisan kita terutama ide tulisan yang disampaikan. Walau sedikit menyakitkan hati tapi editor sangat akan membantu.

Semoga empat hal biasa dilakukan penulis pemula, mulai Anda perbaiki agar tulisan semakin berkualitas. Jangan malu untuk belajar, karena belajar itu tanpa batas. Pada siapa saja dan di mana saja jangan kamu bisa belajar, segera ambil pena dan tulislah apa pun yang ada dalam pikiran Anda, karena mungkin saja itu adalah cerita pertama yang wajib kamu tulis.


*)AsyahAl-ayubi adalah nama pena dari Nur Asyah lahir dan besar di Purwakarta. Seorang guru SLB ini menyukai dunia literasi semenjak SD, Sang Ayah yang selalu membaca Koran membuat As panggilan akrabnya ini mengikuti jejak sang Ayah. Jika ingin berdiskusi dengannya ,silahkan hubungi 081245522594 dan berkunjunglah keblognya: asyahalayubi.blogspot.com.
 Sumber foto: lithub.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…